
Seorang gadis berdiri di pinggir jembatan yang di bawahnya mengalir air dengan sangat deras. Dia memegang besi pembatas jembatan dengan erat. Hatinya ragu untuk memilih ego yang mana; entah ego untuk bertahan dengan hidup yang berat, atau ego untuk mengakhiri hidup agar semua masalah selesai.
Berkali-kali gadis itu menarik napas dalam-dalam. Air mata mengalir tanpa permisi ketika bayangan masa kecilnya melintas begitu saja.
"Cita-cita Adek mau jadi apa?" tanya sang Ayah dengan lembut kepada anak perempuannya.
"Hmm... Aku mau jadi dokter, Ayah, agar aku bisa merawat Ayah sama Bunda saat aku dewasa nanti," ucapnya dengan lantang dan penuh keyakinan.
"Wuaaah, cita-cita yang bagus itu! Ayah dukung apa pun yang kamu mau. Sekarang, peluk Ayah sini." Pria paruh baya itu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan sang anak.
"Yeeey... Peluk Ayah! Ayah harus sehat-sehat ya, sampai aku jadi dokter nanti."
"Iya, Sayang."
"Ayah janji?"
"Iya, Ayah janji."
Mereka menautkan jari kelingking sebagai ikrar masa kecil.
Tes.
Setetes air mata kembali jatuh dengan cepat.
"Ayah bohong... Hidupku hancur tanpa Ayah. Tak ada yang menyayangiku seperti Ayah menyayangiku," lirihnya.
"Woy, mau bundir ya?" ucap seseorang secara tiba-tiba, membuat gadis itu tersentak kaget.
Dia menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang perempuan yang bisa dikatakan seumur dengan dirinya.
"Ck, enggak apa-apa, gue gabung ya," ucap perempuan itu di detik berikutnya. Ia lalu berjalan ke samping sang gadis dan melihat ke arah sungai yang deras.
"Deras ya. Kalau terjun, kira-kira bisa kebawa sampai mana ya?" tanyanya.
"Lu siapa?" tanya gadis yang lebih dulu berada di jembatan itu.
Perempuan itu menoleh dan memandangnya diam. "Memangnya tahu nama itu penting untuk orang yang mau bundir?"
Gadis itu mendengus kesal dan mengabaikannya.
"Hahaha, bercanda. Nama gue Lulu. Nama lu siapa?"
"Gue Greesel," balas gadis yang datang lebih awal itu.
"Kalian mau bundir?" Tiba-tiba datang lagi seorang gadis.
Mereka berdua menoleh ke arah orang tersebut. Sepeda motor dan mobil berlalu-lalang, namun tidak ada yang menyadari bahwa orang-orang di pinggir jembatan itu hendak mengakhiri hidup mereka. Karena mereka terlihat hanya mengobrol, mereka justru tampak seperti sedang janjian dengan teman di tempat tersebut.
"Gue gabung juga ya," lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari dua gadis lainnya. Gadis itu berdiri di samping keduanya.
"Gue Oniel, kalau penasaran," ucapnya.
"Gue Lulu."
Oniel melihat ke arah gadis di sampingnya yang belum berbicara.
"Nama gue enggak penting," balas gadis itu.
"Hmm... Tapi gue bisa mati penasaran kalau enggak tahu nama lu," balas Oniel.
"Ck, gue Greesel."
"Nah, kalau begitu enggak penasaran lagi. Bisa mati dengan tenang deh."
"Mohon maaf, ini kenapa pada berkumpul di sini ya?" Datang lagi seseorang yang tidak diundang.
Keempat orang itu menoleh bersamaan dengan kompak.
"Mau bundir," jawab mereka serempak tanpa ekspresi.