END?

Siti yunia safitri
Chapter #2

Part 2

"Dari mana saja, kenapa jam segini baru pulang?" suara seorang nenek bergetar menanyai cucunya yang baru datang ketika matahari sudah terbenam.

"Eh nenek, aku habis dari rumah temen nek, kesorean karena lupa waktu, sini nek aku bantu nenek, ngapain sih nenek jalan-jalan, kalo nenek jatoh lagi gimana?" dengan khawatir Oniel menggandeng sang nenek untuk kembali ke kamarnya dan mengistirahatkan nya.

"Aku ke kamar dulu ya nek, kalo butuh sesuatu panggil aja aku, jangan ngambil sendiri"

Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.

Cornelia Vanessa nama pemberian dari kedua orang tuanya yang sudah bercerai dan sudah memiliki keluarga masing-masing, bahkan bahagia dengan keluarga barunya, sedangkan Oniel hanya bersama sang Nenek yang tengah sakit.

Entah Ibu atau Ayah sama-sama tak ada yang memperdulikan kehidupannya, dia masih hidup tapi bagai sudah mati bagi mereka, tak ada yang menghubungi sama sekali bahkan hanya untuk menanyainya kabar.

"Ngapain gue di lahirin kalo cuma buat di tinggalin kaya gini?" Oniel duduk lesu bersandar di bawah kasur di kamarnya yang kecil.

Drrrt...drrrtt... ponsel Oniel berbunyi menandakan ada pesan masuk.

"Bro jangan lupa hari ini jadwal lu ya"

"Iya gue tau, thanks udah ngingetin" balas Oniel di ponselnya.

Di rumah Lulu sang Ayah sudah memasang wajah marahnya pada sang anak yang baru pulang.

"Kemana aja kamu?" sentaknya.

"Apa peduli Ayah?" balas Lulu datar sambil melenggang pergi tanpa permisi menuju kamarnya.

"Dasar anak kurang ajar!" bentaknya lagi tapi Lulu sudah tidak peduli akan ucapannya, karena kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu sama mengenai dirinya.

Lulu menyandarkan punggungnya di dinding di atas kasur, dia memandang ke arah langit-langit dan setetes air mata turun dengan pelan melewati pipinya, Lulu memeluk lututnya sendiri dalam sepi.

"Mah kemana aku harus pulang saat tak ada Mama di dalamnya, rumah ku itu yang mana Mah?" lirih Lulu dengan pilu.

Di rumah Flora.

"Jam segini baru pulang, main kemana kamu?" bentak sang Ibu.

"Bukan urusan Mama" balas Flora dengan malas.

"Yaudah lah terserah, Mama ga peduli, mau loncat juga GUE GA PEDULI!" kata-kata itu sukses menghujam dada Flora, rasa sesak itu datang lagi secara tiba-tiba.

Flora menuju kamarnya dan bersiap untuk menumpahkan air matanya entah ke berapa ribu kalinya dalam hidupnya itu.

"Se benci itu Mama sama aku, padahal aku hanya ingin jadi anak yang dulu Mama banggain, kemana semua perginya rasa peduli Mama itu?" lirih Flora di sela tangisannya.

Tak beda jauh dengan Freya yang selalu melalui hidupnya dengan berat.

"Mama udah bilang untuk jangan keluyuran, kamu melewatkan les kamu tadi sore, Mama udah bayar mahal buat les kamu itu tapi kamu malah ga masuk, ga masuk sehari aja itu rugi tau ga! uang Mama melayang gara-gara kamu bolos!" sang Ibu sudah mengomelinya ketika Freya baru saja tiba di rumah.

Lihat selengkapnya