END?

Siti yunia safitri
Chapter #5

Part 5

Freya pulang malam setelah les yang tidak sedikit itu, ia berjalan dengan gontai menuju kamarnya di lantai dua, namun...

"Fre" panggilan seseorang menghentikan langkah Freya yang hendak menaiki tangga.

Pelan Freya membalikan badannya yang lelah lalu menatap kedua bola mata sang Ibu yang memanggilnya itu.

"Ada apa Mah?" tanya Freya lirih.

"Maafin Mama..." cicitnya pelan.

Freya masih mencerna kata-kata yang keluar dari mulut sang Ibu.

"Maksudnya?" tanya Freya yang bingung.

"Mama udah maksain semua keinginan Mama sama kamu, selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik demi Mama sama Papa, Mama berfikir ini semua baik buat masa depan kamu, tapi akhirnya Mama sadar, masa-masa remaja kamu hilang gara-gara ke egoisan Mama sama Papa"

Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Freya dan sudah meminta untuk di loloskan.

"Maafin Mama... hiks... Mama kehilangan anak gadis Mama... Hiks.. Mama kehilangan keceriaan anak gadis Mama"

Brukkk...

Ibu Freya luruh ke lantai sampai kedua lututnya menghantam teras dengan keras.

"Kamu boleh hukum Mama dengan hukuman yang kamu mau, Mama akan terima hukuman itu hiks.. Hiks... Hiks... Mama salah..."

Freya berjalan perlahan, melepas tasnya dan membiarknya jatuh begitu saja, perlahan Freya ikut terduduk di depan sang Ibu, jemari tangannya terangkat mengelus air mata yang mengalir melewati pipi sang Ibu.

Ceklek.

Sang Ayah baru saja masuk dan ia terkaget melihat pemandangan di depannya itu.

"Ga perlu ada hukuman buat Mama, aku tau Mama cuma mau yang terbaik buat aku, aku yang memang nakal dan selalu merasa aku lah korban, sekarang aku ngerti semua ini demi aku" lirih Freya sambil terus mengusap air mata sang Ibu.

"Jangan nangis Mah, aku ga mau Tuhan hukum aku karena udah bikin Mama nangis"

Sang Ayah berjalan mendekat dan ikut duduk di samping sang Anak, dan perlahan ia memeluknya memberi kehangatan yang telah lama hilang.

"Maafin Papa juga ya sayang" lirih sang Ayah.

"Kamu bener-bener anak baik sayang, sini peluk Mama" mereka berpelukan bertiga dengan tangis dan rindu yang akhirnya tumpah setelah sekian lama hanya perang dan tekanan yang berada di rumah bak istana itu.

Dari balik pintu dapur sang Supir juga si Mba pembantu ikut menangis terisak melihat keluarga itu telah kembali.



***

Oniel terduduk di trotoar sambil memeluk ukulele yang dia beli dengan uang hasil keringatnya sendiri.

Ia kembali merasa lelah dengan kehidupan yang sama setiap harinya, sekolahnya putus karena biaya semakin tinggi, untuk menghidupi dirinya dengan sang Nenek ia hanya menerima panggilan nyanyi di cafe atau terkadang mengamen di jalanan, Bus dan dimana saja.

Lalu lalang mobil di jalanan sudah menjadi pemandangannya setiap hari.

Malam semakin larut namun ia masih belum beranjak dari duduknya melainkan ia menikmati malam gelap di atas kepalanya.

Sampai seseorang menyodorkan roti ke arahnya membuatnya menoleh pada orang yang memberinya itu.

Orang itu duduk di sampingnya dengan senyum khasnya.

"Nih, makan lumayan, kalo laper kita bisa beli makan dulu, soalnya gue juga laper" ucapnya dengan santai.

"Kenapa lu gagalin gue buat bundir?"

"Hidup menyakitkan masih lebih baik daripada mati tapi menyakitkan, bundir di larang di Agama manapun, lantas akan berada di mana orang-orang yang memilih untuk bundir?"

"Jangan membenci siapapun, tak peduli seberapa banyak mereka menyakitimu, jangan libatkan hatimu dalam rasa sakit dari masa lalumu"

Lihat selengkapnya