END?

Siti yunia safitri
Chapter #6

Part 6

Sepulang sekolah Lulu kembali ke jembatan, ia tak berniat untuk bundir, ia hanya ingin menenangkan pikirannya dan perasaannya.

Eli tentu sudah ada tak jauh dari sana, ia melihat apa yang akan di lakukan salah satu gadis dari enam gadis waktu itu.

Lulu duduk membelakangi jalanan dan menghadap sungai sambil memeluk lututnya, isakan tangis mengiringi berisiknya kendaraan yang lalu lalang di belakangnya.

"Mah, aku rindu, bisa ga Mama di samping aku sebentaaarrr aja... ga perlu lama, aku cuma minta mama waktu sebentar aja buat cerita"

"Hari-hari yang aku jalani tanpa Mama semuanya terasa berat Mah, andai Mama ada di samping aku, mungkin apa yang aku jalani saat ini ga terlalu berat"

Eli mendekat untuk mendengar setiap keluh kesahnya, namun Eli tak akan mengganggunya sampai ia selesai mengutarakan semua perasaanya dalam bentuk kata-kata.

Air mata sudah mengalir deras dari kedua matanya, rasa sesak dadanya sudah menguasai dirinya sampai ia harus berkali-kali menarik nafas karena tangisannya membuatnya bernafas lebih pendek.

"Hiks...hiks... nyatanya ikhlas itu bohong Mah... hiks... aku hanya terpaksa... hiks... hiks... terpaksa untuk terbiasa tanpa Mama, tapi aku gagal, aku masih saja berandai-andai Mama ada di samping aku sampai detik ini... aku harus apa Mah, aku hampir gila karena rindu sama Mama..."

Eli ikut menitikan air matanya di belakang Lulu dan hanya mengangguk paham akan apa yang di rasakan Lulu saat ini.

"Nyatanya aku ga baik-baik aja tanpa Mama, Mama itu nyawa di dalam rumah kita, dan sekarang rumah kita tanpa nyawanya... semuanya dingin dan asing... sa sehangat dulu... "

Hari semakin sore namun Lulu masih menikmati kerinduan yang mendalam pada sang Ibunya itu.

"Apa Mama punya tempat yang baru di sana Mah? seberapa indah nya tempat Mama di sana?"

Lulu menyeka air matanya dan ia menarik tipis bibirnya untuk tersenyum.

"Apa benar ada sungai yang mengalirkan susu? apa enak di sana Mah?" tanyanya lagi.

"Gimana aku bisa nyusul Mama?"

"Menyusul dengan cara yang salah ga akan bikin lu bisa ketemu sama Ibu lu itu, yang ada kalian malah berada di tempat yang beda, Ibu lu yang ada di tempat indah sedangkan lu ada di tempat yang buruk" sambar Eli yang akhirnya ikut duduk di samping Lulu.

"Nih bajigur, biar anget di sore hari" Eli menyodorkan satu plastik minuman hangat padanya.

"Ambil jangan malu-malu bagong gitu ah" dengan paksa Eli memberikan minuman itu ke tangan Lulu dan memaksanya untuk menggenggam minuman itu.

"Gue percaya Ibu lu udah ada di tempat yang indah, tapi kalo lu nyusul dengan cara yang salah, ya seperti tadi gue bilang, jadii.. kalo emang lu pengen nyusul ya harus dengan cara yang baik" ucap Eli sambil menatap langit sore di depannya itu.

"Cara yang baik gimana?"

"Cara yang baik... ya cara yang baik"

"Maksudnya gimana?" Lulu memutar bola matanya malas.

"Dengan cara menjalani takdir yang ada saat ini, bersyukur untuk saat ini, terus seperti itu sampai Tuhan berkata waktunya untuk pulang"

Perkataan Eli sukses menusuk jantungnya dan membuatnya terdiam seribu bahasa.

Lihat selengkapnya