END?

Siti yunia safitri
Chapter #7

Part 7

BRUKKKK... Eli tiba-tiba jatuh karena secara tiba-tiba otot kakinya tidak dapat menopang tubuhnya sendiri.

"YA AMPUN LI" Gita yang kaget segera membantu Eli berdiri dan memapahnya menuju sofa.

"Kita beli kursi roda ya" usul Gita.

"Gue udah bilang berapa kali gue ga mau, gue masih sanggup ko, tadi tuh cuma kecapean aja" keukeuh Eli.

"Tunggu di sini biar gue ambil sarapan dulu" Eli hanya menunggu Gita membawa sarapan mereka.

Gita menyeka air matanya lebih dulu sebelum kembali ke sofa membawakan dua mangkuk bubur untuk dirinya dan Eli.

"Nih sarapannya" Gita menyodorkan semangkuk bubur hangat.

"Makasih" balas Eli dengan senyum tidak enaknya.

"Gue emang udah cacat ya..." celetuk Eli tiba-tiba membuat Gita menoleh.

"Sampe gue harus pake kursi roda" lanjutnya sambil menyendokkan bubur ke mulutnya.

"Gue ga pernah bilang kalo lu cacat"

"Tapi gue ngerasa gue kaya gitu"

Gita hanya menghela nafas tidak tau harus menjawab apa.

"Lu selalu sehat dan ceria, itu lu yang gue kenal, kadang-kadang kecapen itu yang gue tau, tapi lu ga cacat, berhenti bilang kaya gitu" ucap Gita pada akhirnya.

"Nih minumnya" Gita menyodorkan sebotol minuman pada Eli, namun kali ini tutup botol itu mudah terbuka untuknya dan Eli hanya tersenyum tipis karena dia tau ini ulah siapa.

Mereka selesai sarapan dan segera berangkat sekolah, dengan Gita yang selalu menemaninya yang pasti, bahkan Gita rela pindah sekolah agar bisa selalu bersama Eli seperti janjinya.

Mereka berangkat naik Bus menuju sekolah karena hanya itu yang hemat untuk mereka.

"Lu ga seharusnya pindah sekolah"

"Gue janji buat selalu ada di samping lu kan" balas Gita.

"Tapi lu pindah dari sekolah terbaik"

"Ga ada yang terbaik di dunia ini, cuma lu yang terbaik buat gue, yang selalu ada buat gue dari dulu, apalagi saat gue kehilangan..."

"Kasihan sekali anak yatim ini, sini peluk" canda Eli seperti biasanya jika temannya itu sudah merasa sedih, tak peduli dirinya sedih Eli akan tetap menghibur temannya itu bagaimanapun caranya.

Mereka tiba di sekolah dan berbaur seperti siswa biasa lainnya, tidak ada yang aneh.

Tangan Eli berhenti menulis dan menjatuhkan bolpoinnya secara tiba-tiba, Eli berusaha meraih bolpoinnya itu namun sulit baginya.

"Makasih" ucap Eli pada Gita yang membantunya meraih bolpoin nya itu.

Di jam istirahat pun Gita akan membantu membawakan pesanan milik Eli bahkan membukakan botol minum untuknya.

Dan itu sudah menjadi rutinitas Gita beberapa minggu terakhir.

***

Lihat selengkapnya