END?

Siti yunia safitri
Chapter #9

Part 9

PRAANNGGGG...

Gelas yang Eli genggam jatuh dan pecah namun Eli hanya menatap telapak tangan kanannya dengan nanar.

"LI! ADA APA KENAPA?" Gita segera turun dengan berlari ketika mendengar suara gelas pecah.

Ia menghampiri Eli yang masih terpaku di tempatnya.

Gita melihat betapa berserakan dan basah lantai di bawahnya karena pecahan kaca.

"Lu mau minum, biar gue yang ambil, lu duduk aja di sofa" ucap Gita paham dengan situasi.

Eli hanya diam tanpa kata namun ia mengikuti perintah dari Gita, setetes air mata jatuh tanpa terasa.

"Nih minumnya, biar gue beresin bekas pecahan gelasnya, lu di sini aja, jangan kemana-mana" pinta Gita sekali lagi.

Eli minum perlahan dan kali ini berhasil untuk minum.

Gita dengan telaten membereskan pecahan gelas di lantai.

"Aw... Ssshh... " Gita menggigit bibir bawah kala jemarinya terasa perih serta mengerluarkan darah yang mengalir akibat terkena pecahan gelas.

Gita segera mencuci tangannya agar darahnya berhenti menghilang dan yang terpenting agar Eli tidak merasa bersalah.

Ia pun membalut luka nya dengan plester, setelah itu kembali membereskan pecahan gelas yang belum selesai.

"Udah selesai udah ayo berangkat, gue ambil tas lu dulu bentar"

Hap.

Eli menggenggam lengan Gita membuatnya berhenti melangkah.

"Kenapa?"

Eli menatap salah satu jari Gita yang di plester dan Gita tau kemana arah pandangan Eli.

"Salah gue ya" lirihnya.

"Bukan, salah gue ga hati-hati, dan terlalu terburu-buru" jawab Gita dengan cepat.

"Lu masih muda dan ga seharusnya ngurus gue yang cacat ini Git"

"Stop bilang lu cacat! gue ambil tas sekarang kita berangkat sekolah, ini udah siang" Gita tidak suka jika Eli sudah mulai merasa menyerah, karena seakan itu bukan Eli.

Gita membawakan tas milik Eli dan mereka pun berangkat dengan Bus, selama perjalanan mereka hanya saling diam.

Eli dengan segala kekhawatirannya, dan Gita dengan rasa tidak becusnya menjadi sahabat, terkadang Gita menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjadi sahabat yang baik untuk menjaga Eli.

Mereka masih diam bahkan ketika jam pelajaran sudah berlangsung.

"Kalian sudah kerjakan tugas nya kan? tugas untuk menuliskan pesan pada sahabat kalian sendiri, ini agar kalian bisa semakin dekat dengan teman kalian sehingga terhindar dari pembullyan" ucap Guru bahasa Indonesia.

"Kalo gitu Ibu mau Gita yang bacakan pesan itu, kepada siapa dan apa isinya kita ingin dengar, dan kalian dengar baik-baik ya"

Gita berdiri membawa buku tugasnya ke depan.

Ia menatap seluruh teman-teman nya terutama menatap Eli dengan tulus.

"Pesan ini aku tulis untuk teman satu kos ku, yang sudah lebih dari teman kos melainkan sudah menjadi keluarga, bahkan sebelum kami satu kos kami sudah berteman sejak kecil, dan satu kos saat SMA adalah mimpi kami dari dulu, aku senang mimpi itu bisa menjadi kenyataan" air mata menggenang di pelupuk mata Gita.

"Eli... mungkin aku terlihat cuek sama sekitar termasuk sama kamu walaupun kita satu kos, tapi... sebenernya aku peduli dan sayang sama kamu"

Tes.

Air mata jatuh ke lembaran buku yang Gita buka.

Teman-teman nya ikut menangis melihat Gita yang terkenal cuek kini menangis di depan mereka.

"Jangan menyerah ya untuk raih mimpi kamu, aku percaya kamu bisa meraih mimpi itu suatu saat nanti"

Eli menatap Gita yang berdiri di depan sana dengan air mata yang sudah mengalir melewati pipinya.

"Jangan merasa kesepian atau sendirian, jangan merasa kamu ga punya siapa-siapa, karena kamu punya aku yang siap jadi tempat kamu untuk bercerita segalanya"

Lihat selengkapnya