END?

Siti yunia safitri
Chapter #12

Part 13

Semua teman-teman baru Eli sudah pulang, kini hanya Eli seorang di kamarnya yang tenang, Shani dan Cio masih ada di kosannya namun mereka hanya di luar bersama Gita untuk mendengar cerita dari sisi Gita.

Eli duduk di meja belajarnya sambil membuka buku hariannya dan menulis apa yang ia lalui di satu hari ini, dari pagi ia di tolong Gita karena tak sanggup berdiri, sampai berceria terus terang pada kedua orang tuanya, sampai benyanyi bersama teman-teman barunya, ia senang jika mereka semua mendapat kehidupan dan kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan.

"Yes, I look happy, happy all the time,But you don't see me, see me when I cry, 'Cause I'm a master, master of pretending,Lately never ending" Eli menyanyikan lagu closed doors seperti perasaan nya saat ini, di iringi setetes demi setetes air mata yang jatuh mengenai lembaran bukunya itu.

"Maafin aku yang banyak merepotkan kalian,Mama,Papa, dan Gita..maaf..." lirihnya dengan sesak.

"Mungkin ga akan lama aku akan nyusul Dey ke alam yang udah nungguin aku, tapi sebelum itu terjadi aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa melihat bagaimana ke enam orang itu bisa menyanyikan lagu ini dengan indah" tangis Eli berubah menjadi senyum tipis.

Eli kembali menulis di bukunya itu namun... Brukk... bolpoinnya jatuh.

Tangan kirinya memegang tangan kanan nya yang lagi-lagi kehilangan tenaganya.

"Dasar tangan ga guna!" kesalnya.

Karena di rasa tak bisa melanjutkan menulisnya Eli menyudahi aktifitasnya sebelum ia merepotkan keluarganya lagi.

Ia pun menutup buku dan berjalan menuju kasur, membaringkan tubuhnya ke kasur dengan nyaman.

Sementara di luar Gita sudah menangis sambil berdiri dengan lututnya di depan Shani dan Cio yang tak mampu membendung air matanya.

"Aku ga tau harus apa Tante...hikss...hikss... dia ga bisa buka tutup botol saat mau minum, gimana dia bisa minum kalo tutup botolnya ga bisa di buka? aku bukain tutup botolnya satu-satu...aku beli galon biar dia ga kesulitan lagi buat minum Tante, aku ga bisa-bisa apa Tante...hikss..maafin Gita ya ga becus jadi sahabat buat dia..."

"Tapi dia ga bisa pegang gelas, gelas itu pecah hampir kena ke kakinya, aku beli banyak gelas plastik biar gelas nya ga akan pecah kalo gelasnya tiba-tiba lepas dari tangannya lagi, aku beli piring plastik juga biar dia bisa makan dengan tenang tanpa takut piring itu akan jatuh pecah..hikss..hikss..." dengan penuh sesak di sela-sela Gita berterus terang pada kedua orang tua Eli.

Shani meraih pundak Gita dan meminta untuk duduk di sofa bersama mereka.

"Tante harusnya berterima kasih sama kamu karena ga ninggalin dia di situasi nya yang sedang sulit...makasih.." lirih Shani lalu memeluk Gita dengan tulus.

"Makasih nak Gita... kamu sahabat terbaik yang di miliki Eli Om beribu-ribu kali berterima kasih sama kamu" Cio bertekut lutut di depan Gita.

Mereka melewati malam dengan tangisan kesedihan sampai mereka sama-sama istirahat karena lelah menangis. Shani memeluk sang anak di sampingnnya sedangkan Cio tertidur di sofa ruang tamu.


***

Ke esokan paginya Eli sudah bersiap dengan seragamnya hendak berangkat sekolah.

"Enghh...Eli?"

"Iya Mah..aku mau berangkat sekolah" Shani yang baru bangun sudah melihat Eli sudah siap dengan seragamnya.

"Kamu yakin mau sekolah?"

"Yakin, ada Gita yang akan nemenin aku, Mama jangan khawatir"

Setelah perdebatan dengan kedua orang tuanya, Eli akhirnya tetap berangkat sekolah dengan syarat ia akan mengenakan kursi roda untuk Eli.

Eli memandang keluar jendela selama di Bus.

"Hari dimana gue cuma duduk di kursi roda akan segera tiba ya Git" gumam nya.

Lihat selengkapnya