Eli berusaha bangun dari tempat tidurnya dengan menelusuri meja belajarnya.
Sreet... Brruukk...
Entah sudah ke sekian kalinya Eli terjatuh karena kakinya yang mendadak lemas.
Shani dan Cio harus pergi untuk bisnis namun mereka berjanji akan segera kembali sehingga mereka hanya bisa menitipkan Eli pada Gita tetapi Gita masih bersiap untuk sekolah saat ini.
Siku Eli menghantam meja dengan cukup keras membuatnya sedikit lebam, Eli terduduk tak berdaya bersandar pada meja belajarnya, menunggu kakinya kembali bertenaga.
Lama Eli di posisi yang sampai Gita baru menghampiri nya karena di rasa Eli tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Eli" seru Gita mendekati Eli segera dan membantunya duduk di tepi kasur.
"Lu mau ke kamar mandi? Biar gue bantu"
"Makasih Git"
Gita menggendong Eli di punggungnya dan menuju kamar mandi.
Dengan penuh ke hati-hatian Gita merawat Eli di saat kondisinya tengah kambuh.
Selesai dari kamar mandi Gita membantu Eli kembali duduk di kasur nya.
"Lu jangan sekolah dulu hari ini, tapi lu juga jangan kemana-mana!"
Eli mengangguk paham, ia tak ingin merepotkan Gita jika sewaktu-waktu ia kembali terjatuh.
"Gue bawa sarapan dulu ke sini, tunggu"
Gita mengambil sarapan untuknya dan Eli tak berbuat apa-apa, hanya menatap sekitarnya.
Gita kembali membawa sarapannya, dan menyuapi Eli terlebih dahulu.
"Gue pergi sekolah dulu, inget kata gue buat ga pergi kemana-mana!"
"Iya iya bawel"
"Kursi roda yang di pesen Om Cio siang datangnya, itu akan memudahkan lu buat beraktifitas nanti, untuk sekarang jangan macem-macem, istirahat aja"
"Iya makasih ya" Eli mulai pasrah kali ini.
Nyatanya setelah Gita pergi Eli tak benar-benar di kamarnya, ia keluar kamar dan duduk di sofa setelah memesan banyak sekali minuman botol.
Satu jam kemudian pesanannya datang, sang pengantar di minta Eli untuk menyimpannya dengan rapi di atas meja dan ia tak keberatan melakukan itu.
Kini di depan Eli ada banyak minuman botol baru yang di pastikan tutup botol yang masih segel.
"Gue ga mau terus jadi beban buat mereka, walaupun ga ada harapan gue bisa sembuh tapi setidaknya izinin gue buat bisa melakukan sesuatu sendiri"
Tangan Eli dengan ragu mengambil satu botol di meja tersebut.
"Hemm... Huufft... " Eli mempersiapkan dirinya sendiri untuk ini.
Eli mulai membuka tutup botol tersebut namun malah terlihat licin atau pada kenyataannya tangannya tak memiliki tenaga sedikitpun.
Eli beralih pada botol yang lain meski ia gagal di botol yang sebelumnya.
"Sshh... ahh... "
"Ayo bisa semangat!"
"Aarrgghh... " teriakan demi teriakan keluar dari mulutnya untuk memicu semangatnya sendiri.
Semua botol dia coba untuk membuka tutupnya sampai tangannya memerah.
Namun tak ada satu botol pun yang mampu ia buka.
"Sshh... arrgghh... kebuka!! Ayo kebuka!"
Mulai dari optimis sampai pesimis Eli rasakan di kala membuka setiap tutup botol minuman-minuman itu.
Keringat sudah membanjiri pakaian dan dahinya serta lehernya, dia tak pantang menyerah.
"Hiks... kebuka dong... mana kekuatannya... "
"Aarrrgggghh... " Bugh bugh bugh..
Bruukk..
Semua botol itu Eli singkirkan dari meja sampai semuanya berserakan di lantai, tak ada satupun yang pecah maupun basah, semua utuh seperti semula, itu karena Eli gagal membuka tutup botol semua minuman itu.
Ia terduduk dengan lesu menatap kosong pada Televisi yang tak menyala, dengan tubuh yang lemah Eli tak bergeming sedikitpun, hanya menikmati tangis dalam diam dan tanpa suara.
Di kelas Greesel terduduk sendirian di kala semua teman-teman sekelasnya ke kantin, Greesel membuka ponselnya dan mencari tau apa yang Eli rasakan dari gejala yang ia lihat di pasar malam.
"Penyakit ALS atau Ataxia" gumam Greesel.
"Gejalanya hampir sama, tapi Eli ALS atau Ataxia? apapun itu sama-sama ga ada yang lebih baik"
Greesel menelusuri banyak situs sampai ia membaca kemungkinan terburuk yang akan di alami Eli air mata terjatuh begitu saja.
"Ternyata apa yang ia alami lebih buruk dari apa yang kita semua alami, dan bodohnya aku tidak bersyukur" kesal Greesel kesal pada dirinya sendiri.
Buku bertuliskan lirik lagu Greesel keluarkan dan kembali ia hafalkan dengan sungguh-sungguh, ia tak ingin mengecewakan teman barunya itu, namun air mata menetes di setiap bait yang ia nyanyikan.