Pagi-pagi sekali Gita sudah membantu Eli dengan kebutuhannya mulai dari ke kamar mandi sampai sarapan, dan kini Gita memasang penyangga tambahan di kursi roda milik Eli, karena kini Eli tak mampu menahan lehernya sendiri, kepalanya lemas dan butuh alat penyangga.
Kedua tangannya pun hanya sesekali dapat di gerakan namun lebih sering kambuh di banding sehat.
"Udah, udah cantik udah rapi sekarang kita berangkat" ucap Gita sambil mendorong kursi roda keluar.
Mereka hendak menuju sekolah, untuk permintaan Eli sebelum ia tak melanjutkan lagi pendidikan nya karena sudah sangat terbatas.
Muthe harus mengurus kepindahan lebih dulu seperti katanya yang ingin kembali berkumpul bersama sahabat-sahabat nya itu.
Di tempat lain.
Oniel pagi-pagi sekali sudah di cafe untuk mencari pundi-pundi rezeki karena ia memang sudah putus sekolah.
Dengan Gitar lama nya ia menyanyikan sebuah lagu dengan senyum gigi kelincinya.
"Sebentar saja ku ingin cerita.. tentang dia yang teristimewa, kadang lucu kadang menyebalkan ya... Oh tapi aku suka...
Dia tak pandai merangkai kata-kata...
Romantisnya pun seadanya...
Tapi aku bingung entah kenapa...
Oh... nyaman di dekatnya... " Oniel membayangkan Eli yang punya seribu cara dan cerita untuk mencegahnya untuk mengakhiri hidup.
Apalagi pas awal-awal gadis itu menyebalkan, tapi ia tak ingin gadis penolong itu pergi.
Sampai sesosok laki-laki menatap ke arahnya dengan pandangan sendu.
Di tempat lain Ella menyanyikan lagu yang sama di ruang music karena jamkos ia bosan dan memilih untuk menghabiskan waktu di ruang music.
Freya izin sekolah karena harus ikut kedua orang tuanya ke pertemuan, dia pun hanya menikmati lagu yang di bawakan penyanyi pengisi acara itu.
"Oh nyaman di dekatnya... " gumam Freya dengan senyumnya.
Greesel justru tengah sibuk dengan pelajaran MTK nya di kelas namun akhir-akhir ini ia juga suka lagu manis tersebut.
"Uuuuhh... uuhh... berrdua selalu..." gumam nya.
Flora dan Lulu masing-masing sibuk dengan pelajaran mereka masing-masing di kelas.
Namun mereka akan ke taman dan bernyanyi sebebasnya di sana di jam istirahat.
Di kelas, Gita memandang wajah samping Eli yang memandang ke depan memperhatikan sang Guru yang tengah menjelaskan pelajaran, meski ia tak mencatat satupum materi yang di sampaikan karena tangannya kambuh kembali, namun Eli cukup senang bisa hadir di kelas dengan suasana yang akan ia rindukan nanti.
Bahkan tak hanya Gita yang memandangnya dengan sendu, seluruh teman-teman sekelasnya pun memandang Eli dengan sendu tak sedikit dari mereka sudah meneteskan air matanya, hati mereka terasa berat melepas Eli untuk berhenti sekolah.
Mereka yang selalu di tolong Eli dari laki-laki yang kini menjalani hukuman dari kekejaman dia, dari pembullyan nya bahkan dari sikap tak senonoh laki-laki itu.
Eli selalu jadi pelindung dan pelindung di manapun berada kini justru tak mampu berbuat apapun.
Rasanya mereka tak tega melihat Eli dengan keadaan yang seperti ini.
Sang Guru yang mengajar berjalan ke arah Eli dan memeluknya dengan tulus sebelum ia mengakhiri kelasnya.
Semua Guru melakukan hal yang sama untuk Eli.
Jam istirahat tiba Gita mendorong Eli keluar atas perjanjian dengan Guru-guru di sekolah tersebut.
Gita mendorong kursi roda ke tepi lapangan di mana seluruh siswa sudah berdiri dengan rapi seakan ada upacara di lapangan.
"Helisma, yang kita kenal sebagai pahlawan di sekolah kita yang mampu melawan ketidakadilan, yang mampu melawan kejahatan di sekolah kita kini tak berdaya, tapi Bapak percaya kamu kuat, terima kasih banyak untuk semua usaha kamu, maaf bapak belum bisa jadi kepala sekolah yang baik yang mampu melindungi murid-murid bapak sendiri, bapak masih kalah dari atasan bapak sendiri... "
"Mereka juga ingin berterima kasih untuk kamu" ucap sang kepala sekolah.
Eli yang menyandarkan kepalnya yang lemas tersenyum.
"Bapak ga perlu minta maaf dan berterima kasih... aku tau situasi bapak yang tak bisa melawan orang gila itu... " ucap Eli sedikit terbata.
Beberapa orang berjalan ke arahnya membawa sebuah kotak.
"Eli...hiks... terima kasih sudah membawa keadilan buat aku... makasih udah nolongin aku dari dia... ini hadiah kecil dari aku buat kamu" Ia memberikan kotak itu di paha Eli.