END?

Siti yunia safitri
Chapter #19

Part 19

Hari H telah tiba.


Eli sudah berdandan dengan cantik dan dengan rambut panjangnya, hari yang di nanti akhirnya tiba.

"Cantik ga?" tanya Muthe sambil berputar-putar memperlihatkan dress indah yang dia kenakan.

"Cantik ko udah" balas Gita biasa saja.

"Ih ga ekspresif banget sih!" kesal Muthe.

"Semuanya udah siap kan ayo berangkat!" seru Cio di ambang pintu.

Gita mendorong kursi roda menuju mobil Om Cio di susul Muthe yang mengunci pintu kosan lebih dulu.

Shani sudah menyambut di samping mobil.

"Anak Mama cantik banget sih, ini sih Mama aja kalah"

Eli hanya tersenyum.

"Ma... Ma... ju... ga... can... tik" balas Eli dengan susah payah.

Mereka terharu mendengar perkataan Eli karena kondisi nya yang semakin parah, Eli mulai kesulitan mengucapkan kata-kata meski itu sederhana.

Kursi roda berhasil masuk ke dalam mobil dengan ruang khusus untuk roda miliknya agar Eli tak perlu naik turun kursi roda.

Shani setia menemani nya di samping sambil menggenggam jemari Eli yang lemah.

Mereka berangkat ke acara Festival terbesar yang mengikutsertakan banyak sekolah ini, dari siang menuju sore, semua penampilan menarik dari setiap sekolah.

Dan Grup milik Eli akan tampil sore hari.

Sepanjang jalan senyum Eli tak luntur sedikitpun, ia antusias melihat bagaimana teman-teman yang sekaligus anak didiknya bernyanyi dengan baik setelah latihan panjang mereka.

Setelah membelah kota Jakarta di sore hari mereka sampai di tempat yang begitu ramai, bahkan ke enam orang yang cantik dengan style masing-masing sudah menunggu sejak tadi.

"Banyak banget jajanan nya ya ampun, biasa nya Eli yang suka banget jajan kaya gini, mau jajan ga?" tanya Muthe sedikit membungkuk pada Eli.

"Bo... leh" jawabnya dengan antusias.

"Kita udah nungguin kalian dari tadi dan udah siapin tempat juga buat kalian biar bisa nonton lebih dekat, tapi kalian mau jajan dulu, boleh aja apa perlu kita temenin" tawar Oniel.

"Makasih untuk effort nyiapin tempat nya Nil, kayanya Eli mau jajan dulu deh, mending kalian latian aja, biar nanti kita nyusul" balas bijak Gita.

"Ok deh, nanti kalian nyusul ya" balas Oniel.

"Iya siap"

Muthe sudah lebih dulu mendorong kursi roda milik Eli menuju stand stand dengan makanan yang enak-enak dan menggiurkan sampai aksesoris lucu-lucu yang cocok di pakai bertiga sebagai sahabat.

Cio dan Shani hanya mengikuti kemana Muthe membawa Eli sambil mengawasi sambil mencoba jajanan yang ada.

"Aaaa... ini lucu buat bertiga... kita pake ya... ini punya Eli, ini punya aku, Git! pake ini"

"Ko ke gue ga ada lembut-lembut nya sih Mut, di bentak mulu"

"Biarin!"

Meski di marahi terus Gita tetap memakai gelang yang di berikan Muthe padanya.

Alhasil mereka bertiga memakai gelang yang sama sebagai tanda persahabatan mereka.

"Udah yuk, kita ke venue, mereka bentar lagi tampil, Oniel bilang sih tampilnya terakhir, dan ini udah sore banget"

"Menuju senja sih ini" tambah Muthe menatap langit.

Kini giliran Gita yang mendorong kursi roda milik Eli menuju Venue di ikuti Muthe, Cio dan Shani.

Setelah melewati padatnya penonton, mereka tiba di depan stage, benar-benar selangkah lebih dekat dengan mereka.

Eli tersenyum meski ada rasa sedih di hatinya karena mimpinya berada di samping mereka bukan di bawah menjadi penonton, namun ia tetap bersyukur dan berharap yang terbaik untuk teman-teman barunya itu.

"Giliran mereka" seru Muthe dengan antusias.

Satu persatu dari mereka keluar membawa stand mic masing-masing.

Mereka menatap ke arah Eli sebentar lalu menatap seluruh penonton yang memadati venue.

"Lagu ini kami persembahkan untuk sahabat kami yang mengajari kami untuk tidak putus asa" ucap Oniel.

"Sahabat yang mengajari kami untuk memaafkan diri sendiri" tambah Freya.

"Sahabat yang mengajari kami untuk menerima takdir dan bersabar untuk menghadapinya" tambah Lulu.

"Sahabat yang mengajari kami jika Dunia begitu Indah asal tidak putus asa dengan cepat" tambah Greesel.

"Sahabat yang mengajari kami berjuang untuk masa depan yang lebih cerah" tambah Ella.

"Kami ucapkan terima kasih untuk segalanya, seharusnya dia berdiri di sini di samping kami sebagai mimpinya, namun... karena kondisinya yang mendapat ujian berupa sakit als membuat mimpinya gugur, namun kami di sini berdiri terkhusus untuknya, sekali lagi terima kasih banyak" tutup Flora.

Ella hampir menangis mendengar kata-kata penuh makna dari teman-temannya itu.

Dia menahan dengan sekuat tenaga agar tak menangis sebelum waktunya.

Eli hanya tersenyum memandang bangga teman-teman nya yang berdiri di atas sana.

Gita dan Muthe sama-sama menepuk pundak Eli pelan karena merasa bangga juga atas apa yang dia lakukan untuk ke enam orang itu.

Dulu mereka di temukan berdiri di tepi jembatan dengan tangis dan raut putus asa, namun kini mereka berdiri dengan bangga di atas stage di depan ratusan mata yang memandang mereka.

Setelah itu music mengalun.

Lihat selengkapnya