Setelah acara Festival yang seru semalam, semua kembali tersenyum dengan kisah yang baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya, namun Eli mendapatkan kebahagiaannya sendiri meski sedikit berbeda cara menikmati bahagianya namun ia tetap menikmatinya dan bersyukur bisa tetap melihat semuanya.
"Pagi-pagi udah liat taman aja nih... adem ya?" Shani datang dari belakang lalu merangkul bahu Eli.
"Rumah ini sepi tanpa anak Mama ini yang suka ikut menata tanaman di taman Mama, tapi sekarang anak Mama sudah kembali"
Eli hanya tersenyum mendengar perkataan sang Ibu yang terasa merindukannya.
"Aku... juga kangen rumah ini" jawab Eli.
Shani tersenyum lalu mengecup pipi sang Anak.
"Gita sama Muthe bakal nyusul buat nginep di rumah, mereka bilang pengen tetep deket sama kamu, Mama ga keberatan sama sekali karena Mama jadi ngerasa punya banyak anak perempuan"
Shani beralih menuju tanamannya dan mulai menyiram tanaman kesayangannya itu dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Mah..." panggil Eli.
"Iya sayang?" tanya Shani tanpa menoleh ke arah Eli.
"Dokter bilang apa sama Mama?" terdengar serius dari nada Eli berbicara.
"Hem... semua baik-baik aja ko, walaupun ga bisa di sembuhkan, kamu akan tetap di samping Mama, ga ada yang perlu di khawatirkan" jawab Shani tanpa menoleh ke arah Eli, ia masih sibuk dengan tanamannya.
Tangan kiri Eli terangkat perlahan untuk menekan tombol maju pada kursi rodanya.
"Loh mau kemana?"
"Nemenin Mama nyiram tanaman" balasnya.
"Hahaha boleh... sini temenin Mama"
"Bagus-bagus kan tanamannya, Mama rawat ini karena bosen di rumah sendirian kalo Papa lagi di kantor, kamu juga pilih buat ngekos"
Eli mendengar semua keluh kesah sang Ibu selama sendiri di rumah, rasanya sudah lama ia tak mendengar sang Ibu bercerita panjang lebar seperti saat ini.
"HELISMA!!!!" seru Gita yang baru tiba.
"Assalamualaikum semuanya!" seru Ibu dari Gita.
"Ya ampun Fen... lama ga ketemu, sibuk banget sih" sapa balik Shani.
"Di jawab dulu atuh salam nya hehe"
"Hahah iya wa'alaikumsalam" mereka bercipika-cipiki sebagaimana Ibu-ibu.
"Ini gimana ceritanya sih anak-anak pada pengen tinggal di sini dari yang pengen ngekos, ee ya ampun Eli... tante kangen, maaf ya tante baru ada waktu di Indonesia... tante ikut sedih denger kondisi kamu, tapi tetep semangat ya... kamu ga sendirian, ada Gita sama Muthe kan yang akan selalu nemenin kamu, Tante bakalan bantu nyari dokter hebat buat penyakit kamu, Tante bakalan cari kemanapun itu" Feni perempuan paruh baya itu memeluk Eli berkali-kali sampai enggan melepasnya. Betapa Eli di sayangi dan di cintai sehebat itu oleh orang-orang terdekatnya.
Eli terharu mendengar tekad Ibu dari sahabatnya itu yang ikut mencari cara agar dirinya bisa sembuh meski dalam hatinya Eli merasa ia tak akan dapat di sembuhkan dengan cara apapun, bukan ia berputus asa namun itu lah faktanya.
"Helismaaaa" seru satu lagi makhluk yang mirip idol korea itu.
"Ini rumah orang anak Tante mimonk" celetuk Gita datar.
"Biarin wleee jadi rumah aku juga ko" balas Muthe menjulurkan lidahnya pada Gita dan melewatinya begitu saja lalu beralih memeluk Eli.
"Eh kita bakar-bakar yuk malam ini" usul Muthe setelah melepas pelukannya pada Eli.
"Ajak juga temen-temen kamu yang aneh itu" lanjutnya.
"Iya aku setuju mumpung kita lagi kumpul juga, boleh kan Mah?" tambah Gita.
"Boleh ko" balas Feni yang mendapat tatapan penuh harap dari anak semata wayangnya itu.
Ibu Muthe alias Tante Mimonk, Shani juga Feni malah asik mengobrol karena lama tak berjumpa, namun mereka juga menyiapkan semua yang di butuhkan untuk acara barberque malam nanti, namanya Ibu-ibu multi tasking.
Sedang Muthe kini tengah mengajak Eli berkeliling rumah Eli yang cukup mewah itu, ia mendorong kursi roda dengan senang hati.
"Mau di bawa kemana sih?" tanya datar Gita mengikuti langkah Muthe.
"Ya keliling lah, udah lama juga ga ke sini, oh iya kamar Eli di mana sekarang?" balas Muthe dengan julid seperti biasa.
"Aku... di bawah" ucap Eli.
"Oh ya? hem... pasti karena susah kalo di lantai dua, padahal tempat favorite kamu kan di balkon lantai dua"
Muthe mendorong kursi roda menuju kamar Eli dan memasukinya.
"Sebenernya ga boring kan di sini, langsung menghadap kolam renang, rindang juga ko di sini"
Kamar dengan pintu kaca geser yang langsung menghadap kolam renang bak villa-villa di Bali itu menjadi kamar Eli saat ini, karena tak sulit baginya jika di lantai satu.
"Git! kasih tau semua temen-temen Eli buat ke sini dong, kan kita mau Bakar-bakar"
"Iya iya..." dengan malas Gita menanggapi Muthe.
"Jangan terus kaya tom and jerry, kalian harus akur" lerai Eli.
"Noh dia yang mulai, ga bisa nyantai apa kalo ngomong" tunjuk Gita.