END?

Siti yunia safitri
Chapter #22

Part 22







Semua teman-teman Eli kembali berlatih di rumah Eli, mereka begitu bersemangat untuk bisa membawakan dua lagu di acara itu, meski ini adalah acara pertama mereka setelah Festival itu namun mereka berlatih dengan sungguh-sungguh seakan ini adalah hal yang sangat-sangat penting bagi mereka.

Eli pun masih mengarahkan mereka semampunya, dia juga tak mau kalah dari teman-teman barunya itu.

"Mereka makin sukses kayanya Li, aku ikut bangga liatnya," Gita menepuk pundak Eli pelan.

"Kemampuan nyanyi mereka juga makin bagus, makin meningkat, udah ga kaku dan udah lepas aja gitu nyanyinya," tambah Muthe.

Eli pun menyetujui ucapan sahabatnya itu dalam hati, tatapannya pun menatap mereka semua dengan bangga.

"Git," panggil Eli pelan.

"Iya kenapa?" Gita mendekatkan telinga nya ke arah Eli.

Eli berbicara dengan pelan dan di angguki oleh Gita.

***

Ke esokan harinya.

Teman-teman Eli berlatih seperti biasa di jam istirahat di sekolahnya namun Gita Izin dari sekolah untuk menemani Eli pergi ke suatu tempat yang di minta Eli sebelumnya.

"Kita udah sampe," Gita mendorong kursi rodanya untuk masuk.

Rumah sakit dengan pasien ALS terbanyak di Indonesia membuat Eli merasa ia tak sendirian di Dunia ini dengan kondisi yang berbeda dari teman-temannya.

Gita membawa Eli masuk ke salah satu ruangan dengan pasien yang hanya dapat terbaring dengan segala alat yang terpasang di tubuhnya untuk menopang sisa hidupnya.

"Hai... Eli..."

"Hai... kakek," balas Eli sama sulitnya dengan Pria tua di bangsal itu.

"Masih... bisa... meli... hat.. dunia...ya."

"Hemmm... begitu... lah."

"Kakek... rindu... kamu... ga... di samping... orang... se... perti... kita... benar-benar... merepotkan..."

"Aku... akan... terbaring... seperti... kakek... suatu... hari... nanti."

"Kamu... masih... haahh... muda... nikmati... hari... hari... indahnya."

Gita hanya diam tak ikut campur obrolan dua orang yang berbicara dengan kesulitannya masing-masing itu, mereka tengah berusaha untuk bisa saling bercerita satu sama lain.

"Senang... bisa... kenal... kamu... setidaknya... kakek... punya... teman... sebelum... benar... benar... pergi... dari.... sini."

Eli meneteskan air matanya mendengar kata-kata kakek yang baru ia kenal itu karena sama-sama mengidap ALS.

Lihat selengkapnya