END?

Siti yunia safitri
Chapter #23

Part 23






Ceklek.

"ELIII!" jerit Shani.

Gita terperanjat mendengar jeritan Shani, ia segera berlari keluar dari kamar dan menghapus air matanya kasar, ia berlari menuju kamar Eli.

"Ada apa....Eli!" Gita sama kagetnya dengan Shani melihat kondisi Eli saat ini.

"Kita bawa ke rumah sakit Tante," seru Gita.

Shani keluar mencari sang supir untuk menggendong Eli menuju mobil.

Gita menghentikan pendarahan di kepala Eli.

"Eli... gimana ini bisa terjadi?" dengan panik Gita menahan kepala Eli sampai pandangannya jatuh pada nakas di depannya, ada bercak darah di nakas itu.

"Kamu coba buat berdiri... hikss... tapi jatuh kena nakas... harusnya kamu istirahat... hikss."

"Sini Non saya gendong," sang supir datang sigap segera menggendong Eli menuju mobil.

Gita menyusulnya dan membukakan pintu untunya.

Eli di sandarkan pada Gita, dan Gita kembali menahan darahnya kembali sedang Shani ikut panik bahkan menangis di sampingnya, ia pun menghubungi Cio yang tengah di kantor.

"Bertahan Eli," kali ini image Gita yang selalu dingin dan Cool berubah menjadi cengeng karena menyangkut sahabatnya.

Shani juga menghubungi Muthe yang pasti akan sangat marah jika di beritahu belakangan.

"Aku udah nyuruh dia istirahat Tante... maaf," Gita menutup matanya tak sanggup melihat kondisi Eli yang berada di pelukannya.

"Engga ini bukan salah kamu... kamu tau sendiri keras kepalanya dia," Shani yang mulai tenang meski raut khawatir masih jelas di wajahnya tapi ia paham jika Gita juga sama sedihnya, ia mengusap bahu Gita agar ia dapat lebih tenang.

Saat mereka tiba di Rumah sakit sang Supir segera menggendong Eli menuju ruang IGD di susul Shani dan Gita.

Mereka hanya menunggu Dokter yang berupaya di dalam sana dengan doa yang tak henti mereka panjatkan.

Gita terduduk dan menatap kedua tangannya dengan darah yang mulai mengering, tangannya sedikit bergetar.

"Mending kamu cuci tangan, darahnya udah mulai kering," titah Shani.

"Iya Tante," Gita beranjak menuju toilet dengan langkah gontai, kedua kakinya masih bergetar di setiap langkahnya.

Gita menatap pantulan dirinya sendiri di kaca, bukan hanya tangannya yang penuh dengan darah dari sahabatnya namun pakaiannya pun ikut kotor dari darahnya.

Cairan merah itu mengalir dari kedua tangannya. Ia masih bergetar hebat, baru kali ini ia melihat darah sahabatnya sendiri dalam jumlah yang banyak, rasa takut akan kehilangan itu terasa begitu nyata dan dekat dengan nya.

Lihat selengkapnya