Sudah lima hari Eli di ruang ICU, selama itu juga Oniel dan yang lainnya berlatih bernyanyi di taman Rumah sakit untuk penampilan mereka nanti.
"Latihan tanpa Eli kerasa hampa," keluh Lulu.
"Iya, kaya ada yang hilang," tambah Oniel.
"Kan ada aku ka Lulu," Ella dengan binar matanya tak lelah menghibur Lulu dan yang lainnya.
"Udah jadi kebiasaan kita buat datang ke sini dan latihan di taman Rumah sakit dengan harapan Eli bisa segera bangun dari tidur panjangnnya, tapi... Eli kayanya masih betah di dalam sana," Greesel juga kehilangan semangatnya.
"Kenapa semangat kalian jadi hilang?" tanya Muthe sedikit ada nada marah dari ucapannya.
Sambil berkacak pinggang Muthe tak suka melihat semangat yang hilang dari teman-teman Eli itu.
"Kita biasa latihan di dampingi Eli, rasanya aneh tanpa ka Eli," ucap Flora.
"Biarin Eli istirahat buat sebentar, dia bakalan hadir saat kalian tampil nanti, tapi apa kalian akan mengeluarkan seratus kemampuan kalian untuk tampil nanti? kalo Eli kecewa karena kalian ga maksimal gimana?"
"Eli pasti sedih kalo tau kalian hilang semangat kaya gini? mana semangat kalian!" Muthe menyulut semangat mereka semua.
"Ada aku yang nemenin kalian kali ini, jadi jangan gini lagi ya, tetap semangat Ok!"
Dari jauh Gita tersenyum melihat Muthe bisa bersikap dewasa, perempuan yang paling posesif kalo sudah menyangkut Eli tapi kini Ia menyemangati teman-teman baru Eli, jika biasanya Ia akan posesif jika Eli punya teman baru.
"Kamu ga mau liat Muthe jadi dewasa Li? kalo kamu tau aku yakin kamu bakalan ceng-cengin dia terus," gumam Gita.
Semua teman-teman kembali tersenyum dan kembali bersemangat mengasah vocal mereka untuk membawakan lagu di acara nanti, dan mereka tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan luar biasa ini, yang akan membawa mereka pada masa depan yang lebih baik lagi.
"Nah itu baru temen-temen aku! ayo latihan lagi!" seru Muthe.
Shani setia menemani Eli meski dari luar ruang ICU. Ia hanya tak ingin melewatkan jika Eli terbangun, dia tak ingin Eli bangun namun tak ada siapapun di samping nya
Lalu Eli beranjak dari duduknya dan mendekati air danau yang tenang di depannya itu.
"Sejuk ya air nya," seru Eli saat air itu menyentuh kulitnya.
"Masih betah di sini?" tanya Dey.
"Yaelah kan kita baru ketemu, kenapa sih? cerita-cerita dulu kali."
Dey tersenyum dan menggeleng pelan.