Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya berpura-pura tenang di balik lampu-lampu neon yang mulai meredup, sementara di dalam kepalaku, kebisingan justru baru saja dimulai. Aku selalu menganggap diriku sebagai ahli dalam menyembunyikan retakan. Sedikit tawa di kantor, sedikit bantuan untuk teman yang sedang buntu, dan sekadar mengangguk saat orang lain bercerita tentang kebahagiaan mereka. Begitulah caraku bertahan.
Kubagikan potongan-potongan energi, seolah aku memiliki cadangan yang tak terbatas, padahal setiap kali memberi, ada bagian dari diriku yang diam-diam terkikis. Aku menjadi pelarian bagi banyak orang, menjadi pundak yang bisa disandari, namun sering kali aku lupa bahwa pundakku sendiri pun sebenarnya butuh untuk disandari juga.
Sedangkan bila membicarakan rumah, bagiku itu adalah tempat yang cukup asing. Di sana, kata-kata adalah barang mewah yang jarang sekali dibagi-bagikan. Ada perang yang tidak pernah diumumkan antara Bapak dan Ibu, sebuah kesunyian yang menebal setiap kali aku melangkah masuk.
Aku selalu ingin menjadi alasan mereka untuk kembali tersenyum, menjadi penawar atas rasa malu Bapak akan masa lalunya yang hancur, atau peredam atas ketegasan Ibu yang sebenarnya hanyalah bentuk lain dari kekecewaan. Aku melihat Bapak yang duduk diam di sudut ruang tamu, menatap dinding seolah ada jawaban di sana, sementara Ibu sibuk dengan dunianya sendiri, menutup diri dengan kesibukan rumah tangga yang tak berujung. Dan aku berada di tengah-tengahnya, terjepit dalam ketegangan yang membuat napasku terasa sesak setiap kali mencoba menyapa.
Semakin keras aku berusaha menjadi obat bagi mereka, semakin aku lupa caranya menjadi manusia bagi diriku sendiri. Aku seolah sedang berlari di dalam labirin yang tidak ada ujungnya, hanya untuk memastikan orang lain tidak merasakan apa yang kurasakan. Aku hanyalah seorang lelaki yang lelah, yang mencoba mencari sisa-sisa dopamin di balik kesibukan orang lain. Terkadang kukumpulkan serpihan kebahagiaan milik orang dan menyebutnya milikku. Hingga sampai hari ini, aku masih bertanya-tanya, apakah kebaikan yang kulakukan selama ini adalah ketulusan yang murni, atau sekadar cara pengecut untuk lari dari rumah yang tak lagi terasa seperti tempat untuk pulang.
Kadang aku merasa bahwa diriku ini seperti baterai yang terus menerus menyalurkan listrik ke perangkat lain, tapi tidak pernah sekalipun diisi ulang. Aku terus mengalirkan energi, memberikan senyum, membantu menyelesaikan masalah teman kantor, hingga membantu teman kosan yang selalu saja punya masalah hidup yang aneh-aneh. Namun, saat malam tiba dan aku duduk sendirian di balkon kamar kos, kusadari bahwa aku hanyalah orang asing yang sedang mencoba mencari rumah di tempat yang tidak bisa kunamai rumah. Karena aku tetap hanyalah tamu bagi orang-orang luar.
Dunia mungkin melihatku sebagai seseorang yang baik hati, seseorang yang selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan. Tapi hanya dinding kamar kos ini yang tahu, bahwa setiap malam, aku hanya sedang menunggu waktu untuk meledak, atau mungkin, akhirnya benar-benar hancur. Aku tidak tahu berapa lama lagi untuk bisa berpura-pura baik-baik saja dengan kondisi ini. Hidup seolah terus menagih janji bahwa aku harus tetap kuat, padahal di dalam sini, aku sedang perlahan-lahan menyerah. Mungkin memang benar, terkadang kita terlalu sibuk membenahi dunia orang lain, sampai kita sendiri lupa kalau diri kita sendiri sedang berantakan.
Dan di situlah aku berada sekarang, di persimpangan antara keinginan untuk terus berbuat baik dan keinginan untuk akhirnya, sekali saja, peduli pada diriku sendiri.
*****
Hujan deras yang mengguyur tadi malam masih menyisakan rintik kecilnya pagi ini. Aku masih bergelut dengan rasa lelah yang bersarang pada tubuh, pegal-pegal merasuk meremukkan tulang dari puncak kepala sampai ujung kaki. Hantaman itu belum juga digabungkan dengan fakta bahwa cutiku kini tinggal sehari lagi, di hari ini, dan tidak ada harapan untuk mengajukan cuti tambahan. Tidak akan mungkin dikabulkan, dan kalau nekat surat peringatan kantor yang malah akan mendarat di mejaku. Bodoh sekali.
Bukan pertama kalinya kulakukan kebodohan yang seperti ini. Tidak berpikir untuk jauh ke depan sebelum memutuskan. Mengenang kembali kebodohan itu aku langsung mengumpat dongkol sekaligus menjadikan darahku serupa air rebusan. Kala itu, bagaimana mungkin aku langsung mengiyakan permintaan kekasihku untuk mengambil cuti kantor dan menuruti seluruh keinginannya tanpa berpikir dua kali.
Minggu lalu ketika Eltha, kekasihku yang cantik menawan bak bidadari itu meminta untuk menemaninya pergi photoshoot di Bali, aku bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya. Tidak! Bagai kerbau yang dicucuk di seluruh badan. Menyetujui dalam tiga detik singkat, sembari melemparkan senyuman tulus padanya. Tentu saja baru kini hal itu kuingat lagi juga dibarengi dengan sedikit ketakutanku bila wajahnya akan langsung merengut dan tingkahnya akan memusuhiku berhari-hari.
Ditambah juga bumbu-bumbu lain yang terjadi selama di sana. Aku bukannya dapat menikmati waktu libur layaknya kegiatan orang-orang ke pulau itu, malah pontang-panting tidak jelas dan berpeluh hingga banjir seluruh tubuh. Pada akhirnya, kenyataan hitam bagai serapan seluruh pekatnya dunia menyatu, aku akhirnya mengakhiri hubungan dengan kekasihku itu. Dengan tidak baik, penuh gejolak serasa dadaku bagai bendungan yang ambrol menghadapi kenyataan yang harus kutelan untuk diri sendiri.
Sudahlah, lebih baik tidak memikirkannya untuk saat ini, aku ingin pulih sesegera mungkin, batinku menggema.
Plak! Tora melemparkan bungkusan kacang atom yang belum dibuka ke arahku. Kutatap ia sambil meraih bungkusan itu untuk dilempari balik.
"Bengong aja si anjing. Kesambet setan lu entar, males kita-kita ngurusnya," ucapnya tanpa menatapku sama sekali.
Tora kerap kali mengomeliku dengan rentetan kalimat yang memekakkan telinga. Sialnya, aku tidak pernah mendengarkannya. Sudah terlanjur termakan oleh perasaan sayang yang telah menulikan telinga dan membutakan mataku.
"Lagian dulu kecintaan banget dah sama cewek modelan gitu. Gue udah nggak setuju dari awal lu bilang suka sama tuh orang. Lihat kan sekarang? Repot sendiri lu dibuatnya," kata Tora yang disertai dengan lemparan bongkahan tisu bekas mengelap ingus.
Kutepis lemparan itu dengan kotak donat yang baru kosong isinya. "Jorok lu, setan!" teriakku padanya. Bongkahan itu lalu menggelinding di lantai kamar kos.
"Ya, emang gitu kalau udah sama cewek. Begonya nggak ketulungan lagi, cuy," Redo menambahi. Tisu yang menggelinding itu diambilnya menggunakan plastik bekas gorengan. Matanya menyipit untuk memperkirakan jarak lemparan, dan berikutnya hempasan itu meluncur dengan gaya bebas ke tempat sampah.
Alih-alih masuk, plastik itu malah terpental dan jatuh ke lantai diikuti sampah lain yang tersenggol akibat tidak mendapat ruang lagi dalam keranjang sampah yang kini sudah menggunung.
"Bego, iya. Goblok, iya. Tolol juga, iya. Diborong semua sama ketua, hahaha…" kalimat sindiran yang dibungkus bagaikan pujian itu terdengar lancang meluncur dari Ben. Ditekankan setiap makian itu tepat ke mukaku, membuat yang lain makin keras tertawa.
"Anjing lu semua! Teman lagi sedih bukannya dihibur, malah dikata-katain," kubalas makian itu dengan makian lain karena tidak terima. Gini-gini sakit juga bila dikatai teman dekat sendiri.
Kujelaskan sedikit siapa ketiga orang ini. Mereka adalah Tora, Redo, dan Ben. Sahabat baikku. Serangkaian orang tengil, rada sengklek, namun apa adanya. Kami sudah saling mengenal dan dekat sejak masa-masa kampus dulu. Hampir tidak ada minggu tanpa berkumpul dan bertemu, selama cuaca mendukung kami akan berkumpul untuk meluangkan waktu bersama. Entah itu duduk berlama-lama di tempat ngopi atau hanya sekadar menikmati malam sambil bersantai di kamar kos salah satu dari kami.
Tora asalnya dari Wonosobo, sedangkan Redo dan Ben dari Surabaya. Kalau aku sendiri lahir di sini, di Jakarta, tapi orang tuaku asalnya adalah perantau dari Sumatera. Mereka menetap di sini sampai aku mulai memasuki usia sekolah menengah dan kemudian memutuskan untuk pulang ke kampung halaman karena keterpaksaan, aku akan menceritakan itu di kemudian nanti.
Sebelum dongkolku makin menjadi-jadi, kuputuskan melarikan diri saja dari kamar kos yang mulai pengap oleh kalimat tidak mengenakkan di telinga. Aku beranjak untuk mengambil kantong plastik yang agak besar dari laci lemari plastik paling bawah, lalu memasukkan bekas kotak donat yang sudah ludes. Kulipat dan jejalkan bersama sampah lain dalam keranjang dengan paksa, termasuk plastik berisi gumpalan tisu busuk bekas ingus itu.
"Sekalian nitip gorengan sepuluh rebu lagi, ya. Banyakin cirengnya, oke. Sama minta cabe lebih ke si Anto," kata Redo menyebut nama tukang gorengan langganan kami di depan gang. Tangannya cekatan langsung menyelipkan selembar uang lecek ke dalam kantong celanaku.
"Bodo amat!" kutarik membuka pintu kamar kos dengan perasaan kesal.
Angin segar mendesir masuk menggantikan sumpeknya udara yang sedari tadi kurasakan di dalam kamar.
Mending jalan-jalan nyari angin, daripada kuping jadi panas dengarin congor-congor setan dalam kamar, kataku sambil melenggang pergi tanpa menutup kembali pintu kamar.
"Bodo-bodo gitu, duit gue tetap dibawa ya anjing!" Redo berseru padaku.
Mendengar suaranya aku berbalik untuk sengaja membanting pintu. Mereka menatap sambil nyengir karena merasa kekesalanku adalah hal yang lucu. Aku malah jadi tambah dongkol karenanya. Maka kulayangkan balik tatapan mata melotot garang dan membelalak.
Segera setelah itu, kubawa langkah kaki menuruni tangga, menuju ke tempat pembuangan sampah di depan area kos-kosan yang telah kutinggali dengan nyaman selama empat tahun ini.
*****