ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #2

BAB 2: Di Balik Sarang Korporat

Belakangan ini, pergulatan pikiran dan tuntutan pekerjaan silih berganti berdesakan mengisi labirin dalam ruang kepala, dan mereka mengukuhkan diri di tempat yang bukan semestinya. Desakan yang terus mendorong itu membuat pikiranku melalang buana tanpa arah, menghindar penuh ketakutan dan terseok-seok, hingga hidup jadi terasa bagai suguhan lezat yang harus kutelan tanpa sempat kunikmati rasanya.

Jujur saja, aku sendiri pun tidak tahu sampai kapan harus bertahan dalam kepungan rasa ini, berkutat dengan hidup yang rasanya menekan di tiap sisinya. Dari mulai ekonomi yang tidak berkembang, asmara yang menyedihkan, ditambah lagi urusan pekerjaan yang tak kalah sial juga. Aku harus mengaku kalah pada kenyataan bahwa yang sekarang kulakukan tidak lagi sejalan dengan titik awal mula. Aku bukanlah aku yang dulu, aku hanyalah orang asing yang sedang meminjam tubuh ini. Kurasa dengan yakin begitu.

Bila menarik waktu ke belakang saat menempuh pendidikan dulu, aku begitu memimpikan menjadi bagian dari sekumpulan orang yang mengisi ruang-ruang di gedung tinggi ibu kota. Tidak muluk-muluk, ditempatkan di posisi terbawah pun akan kuterima asal dapat memijakkan kaki di tempat yang menjadi ambisi sejuta kepala ini. Membanggakan setelan kemeja dan celana rapi yang kupakai sepaket dengan lanyard yang menggantung di leher setiap hari. Aku pernah sebahagia itu. Sayangnya, hanya berlaku untuk kala itu.

Hari-hari kini yang menyapa dengan membawa tekanan membuatku menyesali banyak hal. Seandainya saja hidup ini dapat diputar, maka pilihan yang kuambil pasti akan lebih benar dan lebih bersahabat, walaupun rasa lelah berjuang hidup tidak akan pernah hilang. Mungkin setidaknya akan masih ada jalan putar untuk membuatku bisa mengubah arah ketimbang jalur yang kini terasa hanya menyisakan satu kemungkinan di depan, yaitu jurang kenestapaan. Ah, sial!

"Woi!" sentak Rio sembari menepuk tangan di depan wajahku. "Makan siang bareng, yuk. Bini gue bekalin toast tadi pagi. Katanya sekalian bagi ke lu juga buat balasin kado kemarin," paparnya sambil menggoyangkan tas kanvas tempat bekal yang dipegangnya.

Bau harum tumisan dari risleting tas bekalnya yang terbuka sedikit mencolek penciumanku, perutku sontak menjadi keroncongan. Jemariku yang sedari tadi bergerak autopilot di atas keyboard seketika berhenti, kupandangi jam di sudut layar komputer yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

"Elah… yang begituan doang pakai dibalas-balas. Santai aja kali," jawabku sambil mendongakkan kepala menatap Rio, sedangkan pantatku sendiri rasanya sudah lengket di kursi karena belum sekalipun beranjak dari pagi.

"Ya, itu mah belum seberapa sama kebaikan lu yang sering bantuin kami, Ca."

"Lebay amat, dah. Kalau bisa gue bantu mah, ya... sebisanya mungkin gue bantuin kali."

"Nah, itu dia! Gue jadinya harus sedikit tau diri dan nggak lupa bilang makasih karena lu udah baik banget sama keluarga kami." Diam sebentar, Rio melanjutkan, "sama… itu, tuh... duit yang bulan kemarin gue pinjem, baru bisa bulan depan gue balikinnya, enggak apa-apa, ya?"

Aku baru ingat kalau Rio sempat meminjam uang untuk keperluan sekolah anak bungsunya yang tahun ini baru masuk sekolah dasar. Bulan lalu ketika meminjamkan, aku tidak pikir panjang lagi dan langsung membantunya, sudah kuanggap ia sebagai kakakku sendiri.

Rio sebenarnya kakak kelasku waktu sekolah menengah dulu. Kami berdua sama-sama tergabung dalam klub basket dan aktif mewakili sekolah kami saat perlombaan. Lalu ditambah dengan lingkar pertemanan yang sama, kami jadi cepat dekat kala itu. Namun keluarga Rio bukan asli dari Jakarta, mereka menetap di ibu kota karena urusan dinas kerja ayahnya. Sayang sekali pada pertengahan semester di kelas tiga, ia pindah ke Semarang lagi secara mendadak dan kami tidak saling menghubungi setelah itu. Sampai beberapa tahun berlalu, Rio akhirnya kembali ke Jakarta dan secara kebetulan bekerja di kantor yang sama denganku.

Keluarga kecil Rio juga sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Sisil, istri Rio, dulu adalah rekan kerja yang juga berada di divisi yang sama denganku. Entah bagaimana ceritanya, mereka menjadi tertarik satu sama lain dan memutuskan menikah. Sisil yang akhirnya mengalah, ia memutuskan untuk berhenti dari kantor dikarenakan perusahaan kami tidak mengizinkan sesama rekan kerja untuk mempunyai urusan asmara karena berpotensi mengganggu pekerjaan. Ia lalu memilih bekerja sebagai freelancer sambil fokus mengurus keluarga.

"Aman, Yo! Nggak usah buru-buru juga. Pas udah ada aja lu balikinnya," kataku padanya sembari melemparkan senyum.

Sebenarnya ketika memutuskan untuk membantu, aku sudah ikhlas jika uang pinjaman itu tidak dikembalikan. Namun agar tidak melukai hatinya dan terkesan merendahkan, jawaban yang baru saja kukatakan adalah cara paling tepat untuk menjaga martabat seseorang, khususnya martabat seorang lelaki.

Dan saat-saat di mana bisa membantu orang lain itu rasanya begitu menyenangkan, seperti ada sesuatu yang mengalir dan membuatku bangga dengan diri sendiri. Kurasakan pula perasaan lega dan ketenangan yang hangat di dada saat orang mengucapkan rentetan kalimat terima kasih karena telah bersedia membantu, semacam euforia yang membumbungkan emosiku ke udara.

"Sip! Yuk, sekalian nyebat di tempat biasa," ajak Rio yang sudah berjalan mendahului.

Kutekan tombol untuk mematikan layar komputer, lalu beranjak setelah mengambil kotak rokok dan korekku dari laci meja.

Karena waktu istirahat yang kami miliki terbilang singkat, bagi karyawan perusahaan multinasional yang tingkat stresnya lumayan seperti kami, waktu makan siang harus digunakan untuk menyegarkan pikiran. Urusan merokok adalah agenda wajib. Lebih penting ketimbang waktu untuk berdoa atas makanan yang bisa kami telan hari itu.

Bagiku sendiri, makan siang kini sudah menjelma menjadi waktu mewah, sebuah pelarian berharga setelah berjam-jam dihantam padatnya rutinitas kantor. Aku selalu menanti waktu di mana sebatang rokok bisa menemaniku dengan setia, mengalirkan rasa rileks luar biasa yang perlahan mengurai benang kusut di dalam kepala, serta mengembalikannya pada ketenangan.

Bersama Rio, aku lebih memilih area parkir motor yang dekat dengan loading dock sebagai tempat meringankan beban pikiran. Alasan yang lain karena letaknya yang agak tersembunyi, tidak begitu padat manusia, dan sirkulasi udaranya juga terbuka.

Langkah kakiku dan Rio bergema di turunan ramp semen basemen, meninggalkan hawa dingin AC kantor yang sudah membuat kepala terasa berat. Begitu tanganku mendorong pintu besi menuju parkir, udara gerah Jakarta langsung menyeruak, bergabung dengan aroma asap knalpot dan bau soto dari warung seberang pagar pembatas.

Lihat selengkapnya