ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #3

BAB 3: Jeda Napas Keakraban

Aku punya seorang adik perempuan yang beda usianya tidak jauh dariku, hanya terpaut dua tahun. Namanya Carissa, dalam keseharian aku kerap memanggilnya Rissa.

Rissa berwajah menggemaskan tapi sering memasang garis wajah yang tegas. Hal itu terjadi karena mengikuti karakternya sebagai orang yang tidak banyak bicara, namun sangat cekatan dalam melakukan hal apa pun. Meskipun bisa dibilang masih seumuran tapi kami berdua tidak begitu dekat, malah cenderung lebih sering bertengkar layaknya kakak adik di belahan dunia mana pun. Jenis pertengkarannya pun bukan dengan ucapan atau fisik, tapi jauh lebih ekstrem. Kami pernah saling mendiamkan satu sama lain dalam kurun waktu yang lama padahal kami masih tinggal dalam satu atap kala itu.

Dan oleh sebab itu saat beranjak dewasa dan mulai menempuh pendidikan lebih tinggi kami berdua memilih kota perantauan yang berbeda, agar kami jadi tidak sering bertemu dan menciptakan suasana tidak mengenakkan, yang dapat juga dirasakan orang di sekitar saat kami sedang bertengkar.

Bulan ini adikku berulang tahun yang kedua puluh lima, tepatnya dua minggu lagi. Ibu kemarin menelepon dan mengingatkanku agar tidak lupa untuk mengunjungi bungsu dalam keluarga kami itu di perantauannya, sekalian juga menengok keadaannya di Bandung. Aku lalu mengiyakan permintaan Ibu, juga menambahkan dengan berkata akan meneleponnya kalau nanti sudah bertemu dengan anak perempuan kesayangannya itu.

Sudah dua tahun ini aku dan Rissa belum pulang ke rumah. Bukan karena kami tidak rindu dengan kedua orang tua kami di sana. Tapi kami tidak ingin kembali merasakan perang dingin yang sudah berlangsung begitu lama, kupikir sejak kami bahkan belum bisa memutuskan sendiri apa keinginan hati sendiri. Keluarga kami sungguh aneh, dan maka itu aku dan adikku harus berulang kali menyadarkan diri sendiri untuk memilih diam dan jangan ikut campur karena lebih baik jika begitu. Sudahlah, setiap kali memikirkan keluarga rasanya dadaku kembang kempis, bagaikan dialirkan dengan oksigen yang di lorong dalam sana terkontaminasi oleh senyawa yang tidak menyenangkan.

Dengan aliran fakta itu, aku berusaha memikirkan bagaimana cara menebusnya untuk Rissa. Hanya satu yang terpikirkan, dengan meniatkan bahwa kali ini akan memberikan ia kado yang berarti, sebagai sesuatu yang benar-benar bisa dipergunakan dalam hidupnya sehari-hari. Jujur saja kalau selama ini kado ulang tahunku untuknya selalu terkesan “ngasal”. Karena hanya untuk adik sendiri, aku selalu berpikir untuk tidak perlu ribet. Yang penting beli, yang penting ada, dan belinya bukan di warung sembako biasa.

Bila kutarik ingatan sejak sudah menghasilkan uang sendiri, daftar kadoku padanya berkisar antara gantungan kunci, cokelat batangan, atau kaus polos. Yang terakhir ini bahkan tidak pernah sekalipun kulihat Rissa memakainya. Aku bahkan pernah curiga ia membuangnya, atau paling tidak disumbangkan untuk orang lain.

Rissa memang tidak pernah mempermasalahkan apa pun pemberianku, atau lebih tepatnya tidak mau ambil pusing. Tapi, mungkin saja kini di usianya yang sudah menginjak seperempat abad, ia butuh sesuatu yang lebih berguna untuk digunakan hidup di perantauan. Masalahnya, aku tidak punya ide sama sekali untuk memberi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Dengan mengingat karakter Rissa yang tidak banyak bunyi, mungkin seleranya tidak akan seperti perempuan kebanyakan.

Sedari perjalanan pulang dari kantor aku sembari memikirkan dan mempertimbangkan sejenak cara yang paling jitu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini. Langkah pelanku berjalan kaki dari halte Transjakarta tidak menghasilkan keputusan apa pun, hanya kembali pada kemungkinan kado-kado biasa yang tidak istimewa.

Maka, kuputuskan untuk bertanya pada seseorang yang mungkin lebih paham, ibu kosku. Kebetulan aku melihatnya sedang berjongkok menyirami bunga dalam pot di dekat pagar.

"Sore menjelang malam, Bu Vika," sapaku padanya dari depan pagar. Senyumku mengembang lebar, kelihatan sekali kalau ada maksudnya.

Kepala Bu Vika mendongak. "Eh, Panca... sore menjelang malam juga, Ca." Ia langsung semringah ketika tahu bahwa aku yang barusan menyapanya.

"Lagi ngapain nih, Bu?" tanyaku berbasa-basi dengan pura-pura tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya.

"Ah, basa-basi busuk banget sih, Ca! Mau ibu siram juga pakai air kompos?" Bu Vika berdiri, lalu mengangkat gembornya untuk bersiap menyiramkan air dari sana.

"Ampun, Bos. Ini badan udah cukup bau, kayaknya nggak perlu ditambahin lagi deh, Bu." Tanganku sontak terangkat ke atas dan berlagak mencium bau ketiak sendiri. Duh, kok beneran bau ya?

Karena tidak jadi menyiramiku, wanita itu meletakkan gembornya ke tanah, lalu lanjut berujar, "Jorok banget sih calon mantu ibu ini."

Waduh! Mulai nih. Khasnya orang tua zaman sekarang yang suka menggoda anak kosnya. Begitu pula dengan Bu Vika.

Hubunganku dengan ibu kos bisa dikatakan terjalin dengan cukup unik. Kadang perhatian yang diberikannya terasa melebihi ibuku sendiri, kadang pula candaan kami mengalir seperti teman dekat. Aku harus mengakui bahwa apa yang sudah lama tidak kudapatkan di keluargaku akhirnya bisa kutemukan sedikit di tempat lain, di area kos tempatku tinggal beberapa tahun ini. Nah, kalau urusan lempar-melempar godaan begini, lebih sering kuartikan sebagai caranya menyanjungku karena telah berperilaku sopan kepadanya. Aku memilih selalu menanggapinya dengan santai dan sedikit bergurau, tanpa ada maksud apa pun.

"Aduh, Ibu! Jangan digodain terus, nanti pawangnya ngamuk, lho," ujarku padanya sembari melempar cengiran kuda.

"Bukannya udah putus, ya? Anak-anak kos udah pada kasih tau ibu lho, Ca."

Oh iya! Aku lupa kalau status single-ku kini sudah diketahui semua penghuni kos-kosan. Dan itu semua karena disebarluaskan oleh tiga kampret yang mulutnya sudah seperti rem blong, Tora, Ben, dan Redo.

Maka agar tidak ketahuan "ngibul-ngibul" banget segera kuputar otak untuk membuat jawaban yang agak logis untuk diberikan. Kira-kira apa, ya?

"Lho, lho, putus satu kan bukan artinya cadangan nggak ada, Bu," suara Bang Teddy menyambar segera. Lelaki tegap itu membawa keluar sebuah kotak kardus berukuran sedang yang sekelilingnya sudah diikat tali dengan erat.

Pas banget nih ada penyelamat! batinku berujar. Aku segera mengedipkan mata padanya tanpa sepengetahuan Bu Vika, yang dibalasnya dengan kedipan kilat. "Jangan buka rahasia dong, Bang Ted. Cukup kita-kita aja yang tau."

Ibu kos menatap kami berdua bergantian, sebelum berkata, "Halah! Cowok zaman sekarang kok playboy semua, ya."

"Sebenarnya bukan playboy kok, Bu. Cowok zaman sekarang itu cuma terlalu ramah aja... saking ramahnya semua hati perempuan mau disinggahi. Anggap aja lagi numpang kos harian, Bu!" Kusampaikan jawabanku dengan raut muka sok serius, tanganku erat menggenggam teralis pagar.

Lihat selengkapnya