Pagi ini langit biru cerah berhiaskan gumpalan kecil awan yang berarak perlahan. Jam di tangan menunjukkan pukul setengah sebelas lewat. Aku tengah melajukan motor menembus jalanan, dengan Bang Teddy duduk di boncengan belakang.
Dikarenakan kami berdua belum sarapan dan sekarang sudah mendekati waktu makan siang, aku pun mengajaknya untuk singgah sebentar guna mengisi perut di warung makan padang yang sejalan dengan tujuan. Masing-masing dari kami memesan seporsi nasi dengan lauk ayam gulai full topping sayuran pelengkap, serta kuah yang melimpah banjir.
"Terlalu lapar, sekalian aja dibantai," kataku pada Bang Teddy dengan mulut yang terisi penuh. Ia mengangguk-angguk saja, tengah sibuk juga dengan urusan makannya.
Kecepatan kami dalam menghabiskan makanan tidak perlu dipertanyakan dan diragukan lagi, sebentar saja langsung tandas tak bersisa. Dan seraya menunggu makanan yang barusan kami telan untuk turun, kutanyakan pada Bang Teddy di mana tempat yang baik mencari kado untuk Rissa. Ia berpikir sejenak sambil memejamkan mata, aku hampir menepuknya karena beberapa detik tidak mendengar respon balasan. Ternyata ia sedang mengawang berpikir.
Bang Teddy membuka matanya yang kelihatan segar dan sudah kelihatan efek dari terisi dengan tenaga kembali sehabis makan. Disarankannya untuk mencari kado di toserba dekat stasiun kereta. Selain barangnya lengkap, di sana juga tersedia berbagai merek yang bisa dipilih, mulai dari lokal sampai dengan barang impor, sekaligus bisa membandingkan kualitas bahan secara langsung. "Nggak bikin dompet boncos pokoknya," katanya saat kami sudah dalam perjalanan menuju ke sana.
Cuaca siang semakin terik. Gumpalan awan sepertinya menguap dihantam terik mentari yang menyinari. Deraian angin kering membelai kami sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Lalu muncul sebuah rasa dahaga yang membuat tenggorokan minta untuk segera dibasuh air minum. Untunglah, kami akhirnya sampai di toserba tidak lama kemudian.
Kata Bang Teddy lebih baik bagi kami jika memarkirkan motor di area depan pagar pembatas antara toserba dan jalan saja. Mengingat ini akhir pekan, ketika menuju malam pastilah kerumunan akan semakin padat. Bisa-bisa nanti kami terperangkap kemacetan dan sulit untuk keluar dari area parkir di dalam. "Strategi evakuasi yang cerdas, Bang Ted," pujiku untuknya.
Aku melihat warung emperan jalan, lalu melipir ke sana sejenak untuk membeli air botolan bagi kami berdua. Dalam dua kali teguk isinya sudah kosong, dan kemasannya sudah mendarat di tempat sampah depan toserba. Lega sekali setelahnya.
Dikarenakan kami sudah tahu ingin mencari barang apa, tanpa membuang waktu langkah kaki kami langsung menuju bagian Home Living. Di area khusus handuk, terlihat rak-rak kayu tinggi yang menampung tumpukan kain lembut seperti barisan bukit berwarna-warni. Aroma samar kain baru yang bersih dan wangi pewangi yang menenangkan menyentuh indera penciuman. Deretan putih bagai salju yang bersih di sisi kanan, warna bumi yang tenang di sisi kiri, hingga tumpukan warna cerah yang memanjakan mata di depannya lagi.
Tekstur serat katun tebal terasa begitu jemariku menyentuh handuk di barisan pajangan. Kurasakan garis-garis timbul dan motif permukaan yang unik. Ratusan helai kain itu seolah diam menungguku datang untuk memamerkan kelembutan masing-masing, menunggu jatuhnya pilihanku kepada yang paling sempurna untuk dibawa pulang. Mana di antara kalian yang sekiranya bakal disukai oleh Rissa ya? tanyaku dalam hati.
Kususuri lorong toserba sampai ke ujung. Namun terlalu banyak pilihan dan pertimbangan.
Saat itulah datang Bang Teddy dengan membawa handuk di tangannya. "Nih, tadi gue tanya ke mbak-mbaknya, dia bilang yang ini pakai bahan microfiber berkualitas, jadi cepat kering. Adek lu kan orangnya sat-set, jadi nggak perlu lagi pusing mikirin handuk yang sering lembap atau bau karena lama kering."
Tanganku meraih handuk yang disodorkan oleh Bang Teddy, merasakan kelembutan dan kehangatannya di tanganku. Dengan senyuman lebar aku berseru, "Gokil, Bang! Nggak salah gue minta pendapat dan ajak lu nyari kado buat adek gue. Emang udah ahlinya sih lu. Thanks, ya!"
"Yah... demi seporsi makan malam di tanggal tua sih ini. Jangan lupa lu, ya."
"Si anjing! Merusak momen aja. Baru dipuji udah pamrih banget."
Dan kami berdua tertawa bersama.
"Oh, kalau selimutnya gimana? Jadi kagak?"
"Ya ayo, di mana coba deretan selimut..."
Kami kembali menyusuri deretan demi deretan lorong toserba, yang sempat membuat salah fokus di beberapa titik karena isinya yang banyak sekali dan beragam, lalu kemudian sampai di rak dengan banyak sekali pajangan selimut beraneka warna dan motif.
Beberapa detail selimut kuamati dengan cermat, juga kupegangi teksturnya satu per satu. Kalau menurut pendapatku sendiri, mencari selimut harus yang tebal sehingga memberikan kehangatan ketika digunakan. Demikianlah aku kemudian memilih selimut yang berwarna toska dengan motif kotak-kotak, kubawa benda itu untuk menanyakan pendapat dari Bang Teddy.
Tawanya langsung pecah saat itu juga. Dilemparnya balik selimut yang baru kuberikan padanya untuk dinilai, tanpa menjaga kalimatnya ia lalu mengataiku dengan mengatakan bahwa seleraku “enggak banget.”
"Adek lu sekali ngeliat selimutnya pasti langsung ngejogrogin di pojokan. Norak banget, dah!"
"Bangke lu, Bang. Ya udah, paling bener dengarin lu deh."
"Itu aja, tuh," katanya padaku sambil menunjuk ke depan. Kami lalu melangkah menuju ke deretan selimut yang ditunjuk oleh Bang Teddy.
"Kalau gue terawang sih, adek lu seleranya pasti minimalis dan estetikanya cenderung simple. Orang kayak begitu biasanya lebih suka barang yang timeless dan visualnya nggak terlalu rame. Kayak gini, nih." Bang Teddy menarik contoh selimut pilihannya untuk kuperhatikan lebih saksama. "Warna beige, khaki, atau ijo sage yang lembut aja. Kesannya dewasa, tenang... pasti pas buat dia."
Aku tersenyum puas mendengar penjelasannya. "Woi, gila lu! Dah kayak sales selimut aja."
"Nih brand-nya berani nulis: lembut di kulit, tidak bikin gerah tapi tetap menghangatkanmu," katanya sambil menunjuk tempelan brosur dengan jemarinya yang bebas.
Aku melihat arah yang ditunjuknya. Pandanganku turun untuk membaca tulisan dengan huruf tebal yang letaknya paling bawah. "Mudah dicuci dan cepat kering," gumamku.
"Makin pas, nih. Ambil yang ini aja, deh," tegas ku kemudian.
Setelah selesai memilih dua benda yang dicari, kami beranjak menuju kasir untuk membayar. Bang Teddy tidak lupa mengingatkan untuk menyelipkan kartu ucapan ulang tahun, maka aku sengaja melewati sudut stationery. Setelah menimbang sejenak, pilihanku jatuh pada sebuah kartu berbahan kraft cokelat muda dengan ilustrasi kue ulang tahun berdampingan dengan balon kecil di sampingnya.
Kartu itu tampak ringkas dan tidak berlebihan untuk disisipkan bersama kado dalam tas kertas berwarna senada, yang pada akhirnya kupilih ketimbang membungkus kadonya dengan kertas kado biasa.
Begitu selesai membayar semua barang di kasir, kami kembali menuju ke tempat parkir motor sebelumnya. Saat langkah kami baru saja melewati pintu toserba, terlihat pemandangan yang telah berhasil diterawang Bang Teddy beberapa saat lalu. Sesuai dengan dugaannya, keadaan padat kendaraan bahkan lebih parah dari yang terbayangkan. Antrean panjang di loket pembayaran parkir dalam mengular, dan membuat siapapun yang melihatnya pasti mengeluskan dada.
"Buset, dah! Untung kita aman nih, Bang," ucapku sambil menggantungkan kado untuk Rissa di cantelan motor.
"He-eh, udah gue bilang, kan. Keburu tua kita nunggu antrean begitu."
Kami lalu tertawa membayangkan wajah sendiri yang sudah pasti merengut kalau harus terpaksa mengantre di loket seperti pengunjung yang lain.
Begitu selesai membayar juru parkir di area luar, kunyalakan motor dan langsung melaju di jalur utama jalan raya. Melenggang bersama deru kendaraan lain di sekitaran, untuk pergi mencari asupan bagi perut kami yang sekarang butuh diisi lagi.