Malam hari aku dan Bang Teddy kembali menembus kepadatan jalan raya ibu kota yang rasanya seperti biasa, tetap sama menjengkelkan. Tidak ada yang mau mengalah dan semua berlomba untuk cepat sampai ke tempat tujuan tanpa peduli dengan orang lainnya di jalanan.
Kuakui aku juga sama seperti orang-orang itu, merasa tak harus peduli dan memilih acuh saja. Sudah sewajarnya di kota megapolitan ini hidup manusia tidak perlu di buat sebegitu rapinya, biarkan berantakan karena dimanapun kita tetap akan berakhir dengan ketidakpedulian orang-orang.
Tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dengan cukup kencang hampir saja menyerempet motor yang kukendarai. Aku kaget setengah mati, sontak membelalak sampai bola mata hampir melompat keluar. Sumpah serapah meluncur deras tak dapat dibendung dari mulutku. Bang Teddy berkata untuk sabar sembari menepuk punggungku untuk menenangkan. Tapi aku mengabaikannya, sepanjang jalan yang berlanjut itu aku mulai meneriaki orang-orang di jalanan dengan kesal dan bersungut-sungut penuh dendam, beberapa sampai bergerak menjauh dan melempari kami dengan tampang melongo.
Melihat kejadian itu Bang Teddy kembali menepuk punggungku bagaikan menepuk gendang. Kutatap wajahnya dari spion untuk menanyakan ada maksud apa, dan ia berkata dengan suara bernada rendah yang beradu dengan deru angin untuk aku segera menepikan motor.
Setelah kami menepi, ia langsung mendorongku untuk turun dan menggeser duduknya, memilih untuk menggantikan membonceng. Suaranya mengalun dengan nada lembut yang penuh pemakluman, "Biar gue aja yang ngebonceng, Ca. Enggak apa-apa. Daripada nanti lama-lama satu jalanan lu teriakin semua, bisa berabe. Diamuk massa entar kita. Madesu… mana gue belum nikah."
Setelah meluncurkan kalimatnya, Bang Teddy terkekeh sendiri. Ia memintaku untuk bergegas naik. Sedetik kemudian aku melompat ke jok belakang sembari memikirkan bahwa ia ada benarnya juga. Dadaku masih naik turun, sisa-sisa sumpah serapah untuk pengemudi mobil yang tadi hampir menyerempet masih menggantung di tenggorokan. Sementara Bang Teddy, dengan tenang menembus celah sempit di antara bus dan truk kontainer dengan kecepatan yang konstan.
Sebenarnya ada alasan mengapa terkadang aku gampang meledak dan mengeluh pada sesuatu yang remeh, seperti di jalanan barusan. Itu sering terjadi setelah selesai memikirkan soal keluargaku. Aku sendiri kurang tahu mengapa, tapi sepertinya amarah itu adalah bentuk lain dari kebutuhan untuk mengendalikan sesuatu.
Di rumah aku tidak punya kendali apa pun. Aku tidak bisa mengendalikan bisunya Bapak, aku tidak bisa mengatur durasi dinginnya sikap Ibu. Rumah tempat keluargaku bernaung bagaikan sebuah mesin yang terus berjalan tanpa pelumas, dan aku sebagai anak tertua yang terjepit di antara dua ego besar, telah lama tidak mencoba lagi untuk memperbaikinya.
Maka, berada di jalanan ini, di antara bisingnya klakson dan ego para pengemudi lain, aku merasa seolah sedang memegang kendali atas “dunia kecilku” di atas motor. Ketika ada sebuah mobil yang memotong jalanku tanpa lampu sein, itu terasa seperti penghinaan pribadi. Rasanya seperti Bapak yang tidak pernah memberi aba-aba sebelum memutuskan untuk mematikan komunikasinya denganku. Ketika ada orang yang melambat di jalur cepat, itu terasa seperti Ibu yang selalu menunda-nunda untuk berdamai. Di jalanan aku bisa memaki. Di jalanan aku bisa menuntut ketertiban. Dan juga di jalanan, aku merasa punya hak untuk marah karena ada aturan yang dilanggar. Sesuatu yang tidak bisa kuterapkan di ruang duduk rumahku.
Aku menyadari, kemarahanku bukanlah tentang klakson yang beradu atau tubuh yang hampir tergores. Kemarahanku adalah akumulasi dari rasa tidak berdaya yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun.
Aku terobsesi dengan keteraturan di jalanan, sebab di rumah, aku selalu merasa berada di tengah kehancuran yang tak boleh kusentuh. Aku menjadi pria yang sangat perfeksionis soal cara kehidupan orang lain, seperti pekerjaan atau bantuan, karena aku terlalu takut melihat emosional keluargaku yang berantakan.
Bang Teddy menasihatiku selama membonceng, katanya hidup tidak bisa selalu “rapi.” Jangan memaki pengemudi lain. Jangan mengeluh saat terjebak kemacetan. Malah justru, nikmatilah jeda itu.
Apakah ia tidak marah? batinku sambil menatap punggungnya. Terdengar Bang Teddy berdendang menyanyikan lagu tentang senja.
Mungkin sebenarnya ia juga marah, tapi tahu ke mana harus mengarahkannya. Sementara aku? Aku menggunakan kemarahan sebagai tameng. Dengan marah pada orang asing di jalan, aku tidak perlu mengakui bahwa aku sedang ketakutan. Pun tidak perlu mengakui bahwa setiap kali memikirkan rumah ada bagian dari diriku yang merasa gagal.
Menjadi Panca yang meluapkan emosi agar tidak menumpuk adalah cara termudah untuk merasa bahwa aku masih hidup, juga masih punya suara, serta masih berani melawan sesuatu. Meskipun itu hanya seorang pengendara mobil tidak dikenal di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
Karena kalau aku berhenti meluapkan makian, yang kutemukan hanyalah keheningan. Dan bagi pria sepertiku, yang sudah terlalu lama bersembunyi di balik suara-suara sumbang, keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada amukan massa di jalan raya.
******
Hari senin menjadi hari yang sengit bagiku. Tidak terhitung lagi sudah berapa umpatan yang keluar dari mulutku hari ini. Setiap kali ada kesempatan, kalimat-kalimat kekesalan itu akan meluncur mulus tanpa bisa dicegah. Rasanya membuat lega, tapi juga membuatku kecanduan untuk terus mengulanginya. Bahkan, sampai dititik ingin mencari orang untuk kuumpat tepat di depan matanya langsung.
Dan, sasaranku jatuh kepada Dere.
Walaupun tidak etis mengumpat pada seorang perempuan, Dere adalah pengecualian. Setiap kali bersamanya aku dapat jujur sepenuhnya, dan mengutarakan apa pun yang sedang bergumul dalam dada tanpa perlu sungkan. Masih kuingat jelas Dere pernah berkata, "Santai aja kali sama gue. Lu katain gue sekebun binatang juga gue nggak bakalan ngamuk."
Maka dari itu bagiku punya teman seperti Dere itu adalah anugerah. Tidak perlu repot-repot untuk ngerem dan takut ia akan menjadi salah paham dengan maksud perkataan, karena tanpa perlu diberi tahu suasana hati temannya sedang tidak baik, ia akan tahu sendiri. Sikapnya yang “nggak ngambil hati” itu membuat siapapun jadi nyaman berada di dekatnya.
"Kita semua kan emang udah tau GL emang gitu. Enggak usah diladenin kata gue mah, Ca," katanya sambil menggigit sepotong paha ayam yang kelihatan empuk.
"Bajingan juga, sih! Masa si Seno dengan gampangnya nuduh kalau transaksi yang kemarin gue kasih itu rekayasa, terus nyuruh Tika bilang ke gue buat ngasih bukti yang valid."
"Ya elah, Seno lu ambil hati Ca! Emang rada-rada kan tuh orang. Tinggal lu tembak balik aja."
"Masalahnya, gue lagi banyak urusan. Kagak sempat mau nyari perkara sama tuh anjing! Beda sama dulu, waktu gue banyak buat nanggepin, sampai tuh orang kicep," sahutku pada Dere. Tiba-tiba aku teringat kejadian beberapa bulan lalu saat beradu argumen dengan Seno, dan lalu diakhiri dengan lelaki itu mati kutu.
"Lu beresin satu-satu dulu, deh. Kalau emang tuh orang rese lagi baru lu gangguin balik. Fokus yang lebih penting aja dulu sekarang," ujar Dere menasihati. Lalu ia kembali melahap ayam di tangannya dalam gigitan besar.
Kuambil sebatang rokok, membiarkan jilatan api membakar ujungnya dalam sekali cetek. Asap abu-abu mulai mengepul menari-nari malas di udara sebelum akhirnya larut dan hilang terbawa embusan angin siang yang berbisik teduh.
"Eh, Ca. Lu tau kagak?" ucap Dere, setelah potongan ayamnya bersih dan kini menyisakan tulang.
"Kagak."
"Yeee… kan gue belum ngasih tau. Bego emang."
Aku ingin tertawa melihatnya yang memasang tampang lucu, tapi raut wajahku sudah membentuk raut ekspresi tidak peduli. Mulutku naik, kelihatan mencibir tanpa mengeluarkan suara.
Dere kemudian melanjutkan, "Jadi, kemarin dulu si Eltha nanyain lu tuh pas datang ke rumah gue bareng nyokapnya." Matanya menatapku, sedangkan ujung bibirnya naik sebelah. Tanda ingin menggoda karena sedang membahas soal mantan kekasihku.
Mendengar nama itu disebut rokok di jepitan jari segera kuisap kembali. Fuhhhh. Kuembuskan asap pekatnya tepat ke wajah Dere. "Mau ngapain lagi tuh orang?"
"Ecieee, langsung kepo kan lu. Hahaha," Dere mencolek lenganku sebelum menambahkan lagi, "dia nanyain keadaan lu aja sih."
"Jawabin buruk kalau gitu. Berkat dia kan gue akhirnya kena audit."
"Aman. Udah gue katain juga. Sekalian gue tambahin bumbu kalau lu lagi dekat sama anak yang punya kos-kosan. Siapa tuh nama cewek yang pernah lu ceritain?"
"Bella," jawabku. Senang juga dengan inisiatif Dere untuk mengarang cerita pada mantanku. Setidaknya habis diselingkuhi nggak kelihatan ngenes-ngenes amat deh, pikirku.
"Dia jadi kepo banget tau! Terus nanya ke gue udah dari kapan kalian jadiannya."
Aku menekan puntung pada asbak di atas meja. Bara apinya mati seketika menyisakan panas sedikit di ujung jemari. "Peduli apa tuh orang?! Sialan, dah!"