ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #6

BAB 6: Ego yang Mahir Bermain Peran

Pendekatan ke Bella ternyata jauh lebih serius daripada dugaanku. Awalnya tidak ada niat untuk ikut campur, namun situasinya telah memaksa diriku ikut andil dalam jalinan cerita gila yang dibuat Ben dan Redo. Mereka menganggapku sebagai saingan terberat, tapi di sisi lain mengaku tidak bisa berjalan tanpaku karena Bella sudah terlanjur menaruh hati. Jadilah mau tidak mau aku harus ikut mengalir bersama mereka, atau lebih cocok lagi jika dikatakan hanya terseret arus.

Beberapa malam yang seharusnya bisa kulewatkan dengan santai setelah mengurusi pekerjaan yang melelahkan, malah akhirnya tidak berjalan dengan semestinya. Tubuhku diseret dan ditarik dua tangan bertenaga kuda itu, lalu dibawa ke manapun mereka mau, dengan iming-iming tinggal duduk saja tanpa mengeluarkan sepeser uang pun untuk membayar. Aku walaupun ikut dengan wajah merengut jadi rela juga, lumayan kan dapat asupan gratis. Lagipula membantu kedua sahabat sendiri tidak apalah. Daripada mendengar orasi sepanjang malam yang membuat kuping budek.

Catat ini, teman teman. Selalu saja ada hal tak terduga yang terjadi di antara kami saat menjalankan misi ini. Sampai sekarang, aku masing geleng-geleng kepala kalau mengingatnya.

Ben dan Redo, dua orang yang otaknya seolah didesain oleh arsitek yang sedang mabuk, benar-benar memperlakukanku seperti aksesori wajib. Mereka bilang, "Panca itu jimat keberuntungan." Padahal aslinya, aku cuma mereka jadikan bemper manusia setiap kali rencana mereka berantakan. Yang mana terjadi hampir setiap kali.

Contoh paling nyata adalah malam Selasa lalu. Ben berinisiatif mengirimkan buket bunga raksasa ke tempat Bella, sementara Redo mengirim kurir untuk membawakan es krim kesukaan gadis itu. Tapi masalahnya, mereka tidak berkoordinasi. Akhirnya, Bella keluar disambut oleh kurir bunga yang menyanyi lagu cinta seadanya, dan tiga detik kemudian, disusul kurir es krim yang motornya "batuk-batuk" dan mogok tepat di depan pagar kosan.

Pada saat itulah aku diseret, tepat saat kami sedang duduk menikmati porsi terakhir batagor di depan gang.

"Panca! Cepat, kasih tahu Bella kalau itu dari kita bertiga!" bisik Ben di balik tiang listrik, sambil menarik kerah belakang kaus polo-ku sampai leherku tercekik.

"Sejak kapan jadi kita bertiga?" desisku sambil berusaha melepaskan diri.

"Udah, laksanakan aja deh, buru! Kalau lu nggak muncul, Bella bakal nanya, "Mas Panca di mana?", dan kalau dia udah nanya gitu, rencana kami bisa gagal total!" timpal Redo sambil mendorong punggungku dengan kencang sampai aku hampir menabrak motor butut kurir es krim.

Akhirnya aku berdiri di depan Bella yang sedang menatap tumpukan bunga dan es krim yang mulai meleleh di aspal dengan tatapan bingung. Aku berdiri di sana, dengan wajah merengut, tangan di saku, dan aura seorang manajer operasional yang sedang menghadapi klien yang salah kirim barang.

"Ini... ada kiriman. Maksudnya, ada titipan, Bel," kataku datar tanpa berusaha menciptakan ekspresi, aku pun bingung harus bagaimana menata kalimat yang baik untuk diucapkan.

Bella tidak melihat bunganya. Juga tidak melihat es krimnya. Ia cuma menatapku, lalu senyumnya merekah lebar, seolah aku adalah hadiah utamanya. "Mas Panca? Jadi Mas yang ngasih ini?"

Di balik tiang listrik, aku yakin bisa mendengar suara Ben dan Redo yang saling beradu mulut dengan suara kecil.

"Tuh, kan! Dia cuma senyum ke Panca! Goblok banget lu, Ben!"

"Lu yang bego! Es krim lu cuma ngotorin aspal!"

Aku hanya bisa memutar bola mata. Mencoba merekahkan senyum yang agak kikuk pada target. Namun, tidak hanya sampai di situ, masih ada kejadian lain yang tidak boleh lupa kuceritakan juga.

Saat kapan pun Bella terlihat batang hidungnya di area kosan, setiap kali itu pula ada kekacauan yang terjadi. Mulai dari Ben yang berlebihan menyemprotkan parfum menyengat hingga membuat kami bersin-bersin beberapa waktu, sampai Redo yang sengaja memutar kencang lagu galau di speaker Bluetooth hingga membuat beberapa penghuni lorong kamar kosan memaki kami, lalu melabrak pintu. Aku selalu jadi orang yang harus maju ke depan untuk merapikan suasana. Mereka bertindak seperti anak kecil, dan tindakanku jadi seperti orang tua tunggal yang sedang mengurus dua balita yang mencoba memperebutkan satu permen.

Selain urusan memusingkan itu, masih ada lagi hal yang entah bagaimana malah sangat mengocok perut dan tidak dapat kulepaskan dari kepala. Saat kami bertiga berakhir di warung pecel lele setelah misi yang gagal lagi, Ben dan Redo akhirnya duduk dengan wajah ditekuk. Sementara aku makan dengan tenang, menikmati asupan gratis yang mereka janjikan.

"Ca, kasih kita tips dong… gimana caranya biar si Bella natap kita kayak natap lu?" tanya Ben sambil menusuk lele goreng dengan garpu seolah itu adalah musuh bebuyutannya.

"Berhenti jadi badut," jawabku singkat.

Redo menimpali, "Enggak bisa! Kita udah terlanjur jadi badut di sirkus ini! Sekarang, gimik apa lagi yang bisa dilakuin buat besok?"

Kugelengkan kepala. Rasanya aku benar-benar terjebak. Bukan karena aku menyukai Bella, melainkan karena aku terjebak dalam dinamika konyol yang justru menjadi satu-satunya hal yang mampu membuatku tertawa lepas di tengah penatnya pekerjaan.

Di antara kebisingan Ben yang ambisius dan Redo yang naif, aku merasa hidup lagi. Mereka adalah orang-orang bodoh yang sangat aku syukuri keberadaannya. Mereka tidak bertanya kenapa aku sering diam, mereka tidak peduli dengan masalah keluargaku. Mereka hanya peduli bagaimana caranya mengisi hariku dengan tawa, meskipun itu karena tidak disengaja, serta sering kali membuatku kehabisan kata dan ingin pindah planet saja.

"Besok," kataku sambil menyudahi makan, "Kalian jangan kirim apa-apa dulu. Kalau kalian mau berhasil, mending diam di kamar dan biarin gue yang lewat di depannya sendirian. Itu baru misi yang cerdas."

Ben dan Redo saling pandang, lalu serempak berteriak, "ENGGAK BISA! KITA HARUS MENANG BERSAMA!"

Aku hanya bisa menghela napas panjang. Lalu menyesap teh manis yang rasa manisnya "kebangetan" hingga membuat gigiku menjadi berdenyut. Sepertinya, sampai waktu yang belum diketahui, aku akan tetap jadi bagian dari sirkus ini.

Terserah, deh, batinku bekata pasrah. Asalkan ada pecel lele gratis, kurasa aku masih sanggup menahan rasa malu ini sedikit lebih lama lagi.

 

*****

 

Malam semakin larut, dan lampu warung pecel lele langganan kami yang temaram perlahan mulai kehilangan cahayanya seiring pemilik warung yang mulai menutup terpal. Ben dan Redo masih saja mendebat taktik untuk esok hari, sementara aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang reot, menatap langit Jakarta yang enggan menunjukkan bintangnya.

Ada jeda hening sejenak di antara kebisingan jalanan. Di saat itulah, sebuah pertanyaan yang jarang ditanyakan itu meluap keluar dari tutur sahabatku.

"Ca," suara Redo mendadak pelan, tidak lagi cempreng atau penuh ambisi konyol. "Kita kan udah temenan lama nih…"

Dahiku berkerut, dengan kedua alis yang akhirnya berdempetan saling menarik saat mendengar kalimat tidak biasa tersebut.

Redo lalu melanjutkan, “Gue penasaran deh, kenapa lu nggak balik rumah buat nemuin nyokap bokap... gue tahu keadaan rumah lu dari cerita lu yang biasa… tapi… apa lu nggak kangen sedikit pun sama mereka?”

Aku diam sebentar, menunggu kalimat yang kupikir masih akan dilanjutkan oleh Redo. Tapi sepertinya kalimat itu baru saja selesai dan harus segera disambung dengan jawaban dariku.

“Kangen sih ada, Do. Tapi, lu tau sendiri gue lagi di audit kantor, jadi dalam waktu dekat kayaknya gue tetap belum bisa balik. Entah sampai kapan…” Aku membiarkan kalimat itu tetap tidak menjawab, hanya serupa pernyataan yang sengaja kubuat sendiri agar ada jawaban yang lolos dari mulut ini.

Ben dan Redo saling berpandangan, mereka sudah tahu tabiatku bila menyangkut perihal keluarga, pasti tidak akan memberikan jawaban pasti. Hanya lontaran yang sekadarnya dan menggantung.

“Dari semua orang di kosan, lu doang yang paling jarang pulang rumah. Maksud gue..." Ben lalu terdiam, ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Kedua makhluk gila itu menatapku, memberikan tatapan yang tidak biasa, seperti penuh dengan pengertian yang tidak perlu diucapkan. Selama ini, aku menganggap mereka hanya dua orang bodoh yang terobsesi dengan wanita dan keremehan sekitar. Tapi di bawah lampu jalanan yang kedap-kedip ini, mereka tampaknya beralih menjadi jangkar yang peduli untuk menjaga kewarasanku, dan sekalian memastikanku tidak hanyut ke dalam pengalihanku sendiri.

"Gue belum siap ketemu mereka lagi," jawabku pelan, akhirnya aku mengatakannya. Mataku kini tidak fokus pada apa pun di sekitar, tapi mengawang jauh menembus pikiran masa lalu.

Ben mengangguk pelan. Ia tidak memberikan nasihat sok tahu, tidak pula mencoba menjadi filsuf gadungan. Ia hanya menepuk bahuku sekali, cukup keras untuk menyadarkan bahwa aku tidak sendirian. "Ya udah. Kalau lu lagi kangen nyokap bokap, kan ada penggantinya."

Kutatap Ben untuk bertanya maksudnya, “Siapa?”

Lihat selengkapnya