ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #7

BAB 7: Taktik Penyelamatan

Tampaknya semesta masih belum ingin mengabulkan permintaanku. Perempuan yang pernah mengisi hari dan hatiku di masa lalu itu bagaikan permen karet yang melekat erat. Tidak mau melepaskan diri dan mengikuti kami tanpa tahu malu.

Aku mendelik sebal ke arah Rissa. Adikku itu malah nyengir dan berkata tanpa suara kalau ia juga tidak bisa apa-apa. Digamitnya lenganku dengan tangan kiri dan Eltha di sebelah kanan. Kami berjalan beriringan, bahkan langkah kami bertiga seirama bagaikan pasukan pengibar bendera tujuh belasan. Di dalam hati aku dongkol sekali, ingin memaki semesta untuk membiarkan sosok yang dibawanya itu tersedot dan ditendang ke dalam arus waktu yang menghilangkan wujudnya tak bersisa.

Karena hari sudah hampir sore aku segera memutuskan untuk menepati janjiku pada Ibu dengan meneleponnya. Membiarkan kecanggungan ini larut dengan agenda yang sudah seharusnya kami lakukan.

Kuajak Rissa untuk melipir ke tempat ngopi dalam mal ini, ia mengangguk dan kami pun duduk setelah memesan menu.

Saat aku menelepon, panggilannya tidak dijawab. Baru pada kali kedua, sambungan itu melontarkan pekikan karena Ibu heboh dari ujung panggilan sebelah sana. Aku bertanya sedang di manakah beliau dan apakah bisa untuk melakukan panggilan video. Ibu kami berkata bisa dan panggilan suara itu beralih ke mode tatap muka.

Kami pun berbincang. Rissa duduk merapat di sebelahku dan tersenyum tak henti-hentinya. Ibu yang lebih banyak berbicara, bertanya kami makan apa, sedang di mana, dan apakah sudah melakukan sesi potong kue. Kami menjawab semuanya, kecuali yang terakhir, karena sesi itu belum akan dan entah akan terjadi atau tidak. Ada sosok yang tidak kuinginkan kehadirannya di antara kami, bagaimana mungkin kami melakukan kegiatan sakralnya. Yang ada aku ingin melempar bongkahan kue ulang tahun itu nanti. Atau mungkin salah membakar, bukannya lilin, tapi kepala perempuan itu yang berisi ketidakpeduliannya untuk menempeli kami.

Sepuluh menit berlalu dengan cepat dan kini Ibu sudah beralih pada pertanyaan kapan kami akan pulang ke rumah. Aku dan Rissa diam sejenak, agaknya saling melempar tugas pada masing-masing agar bukan kami sendiri yang perlu menjawabnya.

Mungkin karena jeda itu begitu terasa, Eltha kemudian merangsek masuk ke dalam obrolan. Tubuhnya bergeser untuk berdiri di belakang tempat duduk kami berdua dan muncul di pantulan layar ponselku. Ibu terlihat terkejut mendapati ada sosok lain yang tiba-tiba meluncur tanpa aba-aba. Tapi, keterkejutan Ibu tidak berlangsung lama, karena detik berikutnya Eltha sudah menyapa dengan gaya sok lembutnya yang langsung membuat Ibu luluh dan memekik sayang padanya.

Selama dua tahun berpacaran dengan Eltha, aku tahu bahwa mantan kekasihku itu memang pintar sekali mengambil hati orang tua. Maksudku, mengambil hati siapa pun. Contohnya aku yang bodoh dan suka menurut. Mungkin itu salah satu kelebihan dari Eltha, sehingga luas juga hubungan sosial dan pekerjaannya di dunia modeling dan freelance. Nah, begitu pula dengan pada Ibu. Orang tuaku itu sampai jadi menyayanginya seperti anak sendiri.

Kali pertama Eltha merengek untuk ikut saat aku pulang ke rumah adalah ketika kami baru berpacaran selama dua minggu. Aku waktu itu belum mau buru-buru mengajaknya dan mengenalkan pada keluargaku, tapi karena termakan tipu daya cinta maka akhirnya ia mendarat bersamaku di ruang tamu rumah keluarga. Ibu dipikatnya dan Bapak juga hampir menjadi korban. Tentu saja kalau bukan karena sikap bapakku yang acuh bahkan dengan anak sendiri, bisa jadi Eltha sudah dianggap anak ketiga dalam keluarga kecil kami.

Obrolan mengalir khas percakapan wanita dan segala tetek bengeknya yang menjemukan. Aku akhirnya memilih untuk menyingkir dari layar dan Eltha menggantikanku untuk duduk di sisi Rissa. Mereka lalu tertawa cekikikan, tidak melirik atau mengabaikanku sama sekali hingga lima detik terakhir Ibu akhirnya sadar dan menanyakan di mana kehadiranku yang lolos bak ditelan bumi.

Setelah itu obrolan berakhir. Meninggalkan kami yang bersantai menikmati kopi pesanan yang kurasakan hambar sekali di lidah. Gula pun sepertinya tidak dapat membuat hari ini terasa manis lagi.

Aku menghela napas panjang. Teganya semesta melemparkanku begini.

 

*****

 

Aku sedang duduk di depan teras kamar kos sebelah Rissa. Sambil menunggu adikku yang sedang membereskan barang belanjaan yang tadi dibelinya sekalian saat di mal, dan sembari mandi sebelum kami akan lanjut mencari makan malam.

Baru saja aku selesai membereskan kamar kos sebelah yang kutempati, yang tepat di sebelah kamar adikku. Sudah kuputuskan untuk menginap di sini saja ketimbang mencari tempat lain. Sebenarnya ini adalah keinginan Bapak.

Tadi sore ketika menunggu Rissa berbelanja keperluan kosnya yang rata-rata sudah hampir habis, aku terpikirkan untuk mengabari Bapak lewat sebuah pesan. Itu adalah dorongan keinginan yang terjadi tiba-tiba karena mengingat telepon Ibu yang sama sekali tidak membahas atau menyeret suaminya ke dalam tatap muka kami. Jadi agar rasanya seimbang, aku berinisiatif untuk menghubungi Bapak kami. Dan jawaban darinya cukup singkat. Bapak hanya menanyai aku tinggal di mana selama di Bandung, dan kalau belum memesan hotel atau penginapan lebih baik untuk menginap di kos Rissa. Tanpa menambahi kalimat ucapan pada anak gadisnya atau apapun lagi, pesan itu pun berakhir tanpa balasan setelah aku mengirimkan kata setuju.

Karena kosan Rissa merupakan area kos-kosan campur, maka aku pun akhirnya mengikuti perkataan Bapak. Dan kebetulan kamar sebelah sedang kosong karena penghuninya baru saja mengakhiri sewa. Di dalam kamar sana sudah ada kasur dan lemari plastik kecil, itu saja sudah cukup untuk kugunakan menginap satu malam.

Bandung malam itu terasa dingin, namun anginnya membelai dengan lembut saat aku dan adikku melangkah. Rissa merapatkan jaketnya, mencari kehangatan di dekatku. Kami sepakat untuk mencari tempat berteduh agar malam ini terasa lebih nyaman. Senang rasanya momen ini akhirnya bisa berjalan lancar tanpa kehadiran 'hantu' yang mengusik siang tadi. Syukurlah, perempuan itu punya cukup kesadaran diri untuk enyah, membebaskanku dari rasa dongkol yang menyiksa sepanjang hari. 

Rissa mengajakku ke lapak angkringan di ujung jalan yang kelihatan ramai. Kami mempercepat langkah karena takut tidak mendapatkan tempat di sana. Tapi sepertinya itu hanya pikiran konyol saja, karena tempat itu masih memiliki banyak meja yang belum terisi. Jadi kami bebas memilih, kuputuskan untuk duduk di pojok dekat tembok agar bisa menyandarkan punggung.

Satu jam berlalu kami lalui dengan saling membicarakan keseharian kami yang biasa saja dan monoton. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, obrolan kami hanya ditambahi dengan sedikit bumbu seperti datang dan perginya kenalan di tempat kerja masing-masing dan cerita-cerita kenangan masa kecil kami di sekolah. Tanpa sekalipun kami berusaha membahas tentang rumah.

Malam yang hangat rupanya beringsut dengan membawa detak waktu yang berbeda. Tampaknya kali ini kami harus mulai menjalari kisah dengan penerimaan dada yang lapang. Bahasan yang selama ini dikubur karena tidak ingin kami lantangkan akhirnya menguap dan menerjang keluar dari tempatnya. Kami pada akhirnya membahas keluarga. Membahas Bapak dan Ibu kami.

Sambil mengunyah sate telur puyuh dan teman-temannya, aku dan adikku berdendang soal getirnya hidup dalam keluarga. Mengenai kepulangan yang sudah lama kami hindarkan. Dan jejak masalah yang sepertinya muak melihat kami terus menyangkal.

Kepalaku mulai membedah sejarah keluarga kami, kehidupan yang selama ini tersembunyi di balik tembok dan bayang-bayang. Semuanya mungkin harus ditarik mundur ke masa Bapak Bayu, kepala keluarga kami. Beliau dulu adalah pebisnis yang tangguh, sosok yang membawa keluarga kami ke puncak kemakmuran yang membahagiakan. Namun, saat bisnisnya merambah luas, ia bertemu dengan orang-orang yang tampak berpengaruh, sosok yang membuatnya menanamkan mimpi besar di atas janji-janji manis investasi. Target yang disusunnya bak menara menembus awan itu ternyata palsu, ia dikhianati. Bapak gagal total, lalu yang tersisa hanya beban finansial yang menghimpit dada. Sejak saat itu, ia kehilangan taringnya. Bapak menarik diri dari sosial, menjadi sosok pasif yang perlahan memudar, menjadi bayang-bayang kelam di bawah atap rumah kami sendiri.

Lalu ada Ibu Puspa. Ibu yang dulunya adalah sosok cantik dan tenang, perlahan harus mengambil alih kemudi kapal yang hampir karam. Ia tidak sadar, atau mungkin enggan menyadari, bahwa perlahan telah berubah menjadi tembok yang dingin dan menuntut. Baginya, ketegasan dan uang adalah satu paket pelindung yang tak bisa dipisahkan. Dari detik saat musibah menimpa kami, ia mendidik kami dengan standar yang mencekik, seolah-olah dengan menjadi sempurna, kami bisa menjamin diri agar tidak bernasib sama dengan suaminya yang telah patah.

Kamilah dua anak yang tumbuh di tengah sisa-sisa reruntuhan itu. Bapak memilih untuk mematikan suaranya, sementara Ibu memilih untuk mengeraskan dindingnya. Mereka tidak pernah benar-benar bercerai, tapi juga tidak pernah lagi hidup dalam satu dunia. Kami tinggal di rumah yang berfungsi seperti perpustakaan besar, di mana semua orang ada di sana, bernapas, bergerak, namun tidak ada yang berani mengeluarkan satu kata pun yang bermakna. Jika Bapak ingin menyampaikan sesuatu pada Ibu, ia akan lebih memilih menitipkannya melalui aku atau Rissa, seperti seorang diplomat yang sedang menegosiasikan gencatan senjata di wilayah yang sudah hangus.

Duduk di angkringan ini, aku mengulang kembali betapa gilanya cara kami bertahan hidup. Bapak memelihara egonya dalam sunyi, sementara Ibu memelihara kecemasannya dalam bentuk tuntutan yang tak masuk akal. Dan kami kakak beradik yang berada di antaranya hanyalah kurir dari dendam mereka yang tak tersampaikan.

Rissa adalah saksi dari setiap piring yang dibanting tanpa suara, setiap tatapan tajam yang mematikan di meja makan, dan setiap malam di waktu masa bertumbuh harus pura-pura tidur agar tidak perlu mendengar detak jarum jam yang lantang melebihi keheningan rumah. Sementara aku, yang sudah lebih dulu memilih menjadi petualang yang sibuk melarikan diri jauh ke ibu kota, terlalu pengecut untuk menghadapi realita bahwa rumah kami sudah lama menjadi tempat yang paling asing.

Tiba-tiba, kehadiran kami yang harusnya berisi sepercik bahagia ini terasa amat getir. Kami sedang menyantap sate telur puyuh di pinggir jalan Bandung, namun pikiran kami masih terjebak di ruang tamu yang pengap itu.

Nyatanya sebesar apa pun kami tumbuh, sebanyak apa pun pencapaian kami di luar atap rumah, kami akan selalu menjadi anak-anak yang gemetar saat melangkahi pintu rumah yang terbuka, takut akan perang dingin yang menyambut di dalamnya.

Kami sudah hampir menjadi orang dewasa yang berjalan dengan membiarkan dua orang dewasa lainnya lupa bahwa mereka pernah saling mencintai. Dua orang yang kini hanya menunggu siapa yang akan menyerah lebih dulu dalam diam.

Dan saat aku menatap Rissa yang kini menunduk dalam, aku sadar, mungkin saja tidak akan pernah ada kata maaf yang tulus di meja makan kami lagi. Hanya ada dua jiwa yang sudah terlalu lelah untuk mengakui bahwa mereka telah saling menghancurkan, dan kami, putra-putrinya, harus belajar bagaimana cara berjalan tegak di atas rumah berdinding kaca yang pecah dan menghamburkan beling di bawah.

Yang membuat kaki kami terluka dan berdarah-darah.

 

*****

 

Dahulu, Rissa dan aku melakukan peran yang sama setiap harinya. Kami menjadi tonggak di tengah badai yang mencoba berlaku adil dalam situasi yang sudah lama kehilangan akal sehatnya. Kami ibarat sepasang timbangan yang berupaya menjaga keharmonisan di bawah atap rumah, meski tahu itu hanyalah cara untuk mengulur waktu menghindari keremukan yang kian hari kian terlihat nanar.

Lihat selengkapnya