ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #8

BAB 8: Perkara Cinta dan Rangkaian Peristiwa

Memulai hari dengan secercah harapan tentang perbaikan keluarga ternyata membuat segalanya terasa lebih cerah. Ada desiran hangat yang menjalar, menembus koridor rasa jengah dan suram yang selama ini melekat. Kuharap perasaan ini cukup kuat untuk membimbing hari ini berjalan sebagaimana mestinya.

Masih dengan atmosfer yang pekat dan menjemukan dalam gedung tinggi ibu kota ini. Namun, dengan sedikit kehadiran semangat yang meletup kecil itu. Meninggalkan pecahan cahaya yang pendarannya menghangatkan dan membuat hati tentram. Walaupun tetap kenyataan berada dalam sasaran audit manajemen tidak berubah, kehampaan dan getir yang ada itu dapat sementara dialihfungsikan tubuhku bak mengganti isian rak pajangannya. Dihiasi oleh keindahan yang memanjakan.

Pada jam makan siang aku lekas untuk menyelesaikan bekal yang kubeli tadi pagi di seperjalanan menuju kantor. Setelah itu kuputuskan untuk mampir ke divisi Dere sebentar. Ada sesuatu yang ingin kuutarakan padanya.

Saat sampai di meja gadis itu, kutemukan ia sedang asyik mengunyah camilan tanpa memedulikan keadaan sekitar. Matanya lurus tepat menatap layar, menjelajahi halaman internet.

"DOR!" kejutku pada Dere. Ia seketika terdorong ke depan karena aku menerjangnya dengan lumayan kencang. Juga secara tidak sengaja ditumpahkannya isi camilan dari bungkusan ke atas meja.

"Bego lu!" pekiknya setelah tahu kalau aku pelakunya.

"Makanya jangan keasikan ngemil sendiri. Dibegal juga kagak bakalan sadar lu kayaknya." Kupegangi perut karena geli saat melihat wajahnya yang kini mulai tampak bersungut-sungut.

Dere tidak merespons ucapanku, ia hanya berusaha untuk melancarkan jurus mencubit untuk melepaskan kesalnya. Tapi gagal karena aku sudah terlebih dahulu mengelak dengan melengkungkan badan untuk menghindar. Melihat aksi pembalasannya gagal, tidak dicobanya lagi dan akhirnya mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan remahan yang berceceran di atas keyboard. "Ya, mana mungkin ada begal dalam kantor. Kocak lu!" katanya dengan suara yang sudah normal kembali, takut menjadi pusat perhatian.

"Siapa bilang nggak ada?" sahutku. Tanganku bergerak untuk mengambil tisu demi ikut membantunya membersihkan remahan akibat ulahku. "Gue pernah tuh lagi ke toilet lima menit doang, pas balik pulpen hadiah ulang tahun udah lenyap aja. Tiga hari kemudian, gue lihat pulpen itu lagi dipakai rapat sama HRD. Mau gue ambil, tapi kok ya nggak enak."

"Hahaha. Itu mah berarti lu yang apes."

"Nah, iya. Siapa pun yang ambil mungkin ngiranya tuh pulpen punya bareng-bareng kali, ya," kataku yang lalu memperkirakan di mana sekarang pulpen itu berada.

Kami berdua tertawa, hanya karena perkara kecil bahasan pulpen hilang dapat membuat kami kompak terkekeh geli bersama.

"Tumben amat lu ke sini? Mau ngapain? Angin topan ya di luar? Eh… apa jangan-jangan Jakarta mau tenggelam?" Dere setengah bangkit dari kursi agar dapat memandangi kaca gedung untuk melihat keadaan cuaca di luar.

"Bapak lu koprol!" Kujitak kepalanya dengan sedikit kencang, ia kemudian meringis memegangi kepala.

"Ye… elu mah bawa-bawa orang tua. Kagak sopan tau! Entar kalau doi bangkit dari kuburan gimana? Bisa berabe."

"Bagus dong. Biar sekalian temu kangen. Sama nagih target buat anaknya merit."

"Dih, mending nggak usah deh! Nambah-nambah pikiran gue aja." Dere mendengus sebentar dan lalu melanjutkan kalimatnya, "Tenang-tenang di dalam tanah sana, ya, Pak." Ia berhenti membersihkan meja, lalu berlagak mendoakan bapaknya yang sudah tiada.

Aku tertawa. Dere memang unik sekali. Selalu ada saja bahan lucu yang bisa membangkitkan tawa untuk orang lain. Tidak semua bisa mendapatkannya, hanya yang terpilih saja. Dan aku salah satu orang yang beruntung. Kami berdua sudah sefrekuensi dan khatam secara luar dalam, sampai candaan tabu soal orang tua yang sudah tiada tidak lagi dimasukkan ke hati atau berubah jadi air mata yang tiba-tiba mengalir.

"Pulang ngantor cari kopi yuk, Der. Gue mau cerita soal sepupu lu, nih." Akhirnya kunyatakan juga maksud kedatanganku padanya.

Tampaknya topik itu mencuri perhatiannya, karena leher Dere langsung berputar di detik selesainya kalimatku meluncur. Matanya menyipit seakan menjejaliku dengan ejekan, "Tuh, kannn! Udah gue duga, pasti soal cinta. Lu mah pasti nggak jauh-jauh dari yang begituan."

"Dih, sok tau! Pokoknya pulang nanti kita ngopi, oke. Gue bayarin, deh."

"Nah, gitu dong. Gue langsung oke, nih. Hehehe." Diacungkannya jempol dan lalu ia terkekeh. Setelah itu diambilnya tisu basah untuk menyudahi kegiatan bersih-bersihnya.

"Giliran ditraktir aja cepat lu!" Aku menjitak kepalanya dengan gemas. Lalu berlalu tanpa ucapan selamat tinggal, lagipula nanti sore akan bertemu kembali.

Belum jauh melangkah, samar-samar kulihat ia mengacungkan jari tengah ke arahku. Memang brutal gadis satu itu. Tapi, justru keberadaannya yang unik dan langka itulah yang menjadi penawar bagi ekosistem kecilku yang seringnya membosankan.

 

*****

 

Sebelum melanjutkan bahasan yang bisa menjadi ajang pekik dan lempar-lemparan ejekan. Kami berdua memilih untuk mengisi perut dulu di tempat makan sekitaran rumah Dere, sekalian menitipkan motornya agar tidak perlu repot saling membuntuti di perjalanan menuju tempat ngopi.

Angin malam yang dingin membuat gadis itu merapatkan dirinya di boncenganku. Kugoda ia sepanjang jalan karena tidak henti-hentinya mengeluh soal kecepatan motorku yang dianggapnya seperti laju siput. Di situlah letak kesenangannya. Makin ia mengeluh, makin kuperlambat dengan sengaja seraya melemparkan ejekan, membuat wajahnya tambah merengut saat kulihat dari pantulan kaca spion.

"Bisa masuk angin gue, Panca! Mending tukeran deh, gue aja yang boncengin sini," ujar Dere yang mulai kesal.

"Ooo… tidak bisa. Biarkan pangeran ini melindungi putrinya dari terjangan angin dingin yang menusuk."

"Najis! Lu lebih cocok jadi babu kerajaan dibanding pangeran."

"Woi! Kurang ajar lu, ya! Gue turunin biar lu pulang jalan kaki sekalian. Mau?" Aku berlagak mengancamnya sembari memelankan laju motor untuk menepi.

"Tega! Langsung kena azab lu besok."

Mendengar soal balasan azab, aku menjadi agak takut juga. "Ampun Yang Mulia, biarkan hamba mengantarkanmu ke tujuan dengan selamat. Berlindunglah di belakang punggung hamba yang lebar ini."

"Awww… boleh deh kalau babu maksa. Lumayan, udah lama nih putri nggak dapat kehangatan seperti ini." Dere melingkarkan tangannya di pinggangku. Erat dan ketat. Kurasakan juga tubuhnya yang kini menempel di punggungku.

"Kasian sekali beliau haus kehangatan. Mana masih muda," ujarku, lalu terkekeh geli. Ada-ada saja tingkah kami kalau sudah berdua begini.

"Hehehe. Biasa lah... namanya juga anak muda, kan," Kurasakan kepala Dere yang menyusul menempel dipunggungku.

Kami berdua lalu melanjutkan perjalanan membelah Jakarta malam yang makin mendingin. Dengan riuhnya tawa kami berembus lewat celah helm. Mengantarkan kami ke tempat meredam lelah setelah seharian telah dihajar rutinitas.

 

*****

 

Pagi hari yang tenang harus diawali dengan sebuah drama kejadian tanda cemburu. Aku yang tengah memanaskan motor dan bersiap untuk pergi ke kantor, melihat Bella keluar dari dalam area kos-kosan dengan terburu-buru. Gadis itu lalu menyapaku.

"Mau ke mana, Bella? Kok lari-larian gitu?" Aku bertanya karena heran melihat sepagi ini ia sudah meluncur turun ke depan, dan masih menggunakan piyama tidurnya. Padahal biasanya kami jarang sekali bertemu di pagi hari, kupikir gadis itu sedang ingin berburu sarapan atau mengurus sesuatu yang mendesak.

"Semalam mesra banget sih, Mas," ujarnya sambil membukakan pintu pagar untukku. Tanpa menjawab pertanyaanku sama sekali.

"Eh?"

Lihat selengkapnya