ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #9

BAB 9: Inti Busuk yang Memecah dan Merambat

Selain urusan kantor seperti biasa yang membuat kepala mumet, ditambah ketegangan hubungan persahabatan di antara kami berempat yang aneh bin ajaib, aku masih menunggu satu hal indah yang menjadi penyemangat untuk melangkah menyambut hari esok.

Sudah kukabari Ibu dan Bapak kalau kedua anaknya ini akan pulang ke kampung setelah sekian lama. Ibu tentu saja senang setengah mati dan bertanya ingin disambut dengan masakan apa, sedang Bapak hanya menanyakan tanggal pasti kami tiba dan berpesan untuk tidak perlu membawa apa pun.

Aku bergumam dalam hati kecil, Yang kami bawa hanya harapan agar kalian berdua menyelesaikan perang kalian selama ini, Pak, Bu.

Saat waktu istirahat kantor tiba, kulangkahkan kaki bersama dengan Rio menuju tempat biasa untuk melakukan kegiatan wajib kami yang sangat sakral, yaitu merokok bersama. Dere berkata untuk menyusul setelah urusannya di toilet selesai.

Sebatang rokok dengan bara merah menyala garang, memberikan ketenangan yang kuinginkan. Sedangkan tangan satunya lagi memegang burger yang tadi sempat kutitipkan pada Rio lewat pesanan online. Kami makan begitu lahap, dan tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya dalam beberapa gigitan besar.

Dere tidak lama kemudian datang bergabung dengan kami membawa botol minumnya yang luar biasa besar. Aku pernah mengatakan padanya kalau benda itu lebih mirip termos dibanding botol minuman. Benar-benar cocok bila dilabeli sebagai barang yang 'segede gaban.' Kedatangannya membuat bahasanku dengan Rio yang tadinya seputar kantor jadi melenceng ke obrolan umum. Kata Dere lebih baik dialihkan karena ia juga sedang tertekan akibat seharian ini dipusingkan oleh urusan di divisinya.

"Ternyata bisa mumet juga, ya, lu? Kirain gue doang yang hobinya ngeluh," ujarku sambil menyalakan batang rokok kedua. Kuembuskan asapnya dengan konstan sambil mendongak, lalu asap itu tertiup angin hingga pecah terurai di udara.

"Gini-gini gue masih manusia ya, Ca. Biarpun lebih sering dikira bidadari, sih," jawab Dere asal sembari melahap bekal nasinya dengan posisi berdiri. Aku masih takjub mengetahui temanku yang satu ini bisa melakukan sesuatu yang jarang dilakukan perempuan, tanpa merasa sungkan sama sekali.

"Cuih! Minta gue ludahin emang nih perempuan," Rio nimbrung sambil melemparkan sindiran dengan jenaka.

"Dih... lu pikir gue takut?" tantang Dere. Disendokinya lagi nasi ke mulut. "Tinggal gue ludahin balik. Impas, kan?!" tambahnya kemudian.

"Gue nggak ikutan kalau main ludah-ludahan. Kurang keren soalnya," ujarku menimpali obrolan. Setelah itu, kami semua terdiam sejenak. Kami tahu tidak perlu lagi melanjutkan bahasan itu, karena masih ada topik lain yang lebih menarik untuk dibicarakan.

"Sabtu depan gue pulang ke kampung, nih. Senin subuhnya udah balik ke sini," informasiku mengenai rencana kepulangan kepada kedua teman akrabku ini di kantor.

"Tumben, Ca? Ada yang gawat?" Rio bertanya sambil menatapku lekat.

"Enggak. Cuma lagi ada misi aja antara gue sama Rissa. Misi perdamaian," Aku lalu tertawa sebentar mengingat harapan yang kutanam sendiri.

"Asik... kabar-kabarin ya gimana entar," Dere terlihat menyudahi sesi makan dan kembali membereskan kotak bekalnya. "Pesawat sore atau malam, Ca?" tanyanya kemudian.

"Pesawat sore. Dan begitu balik dari kantor langsung jalan karena nggak bawa apa-apa. Lagian cuma pulang bentaran karena nggak bisa cuti," kataku sambil mengingat jatah cuti yang tinggal nol. Rio hanya bisa mengulum senyum. Kulempari ia dengan tatapan garang karena sudah tahu pasti akan diejek lagi olehnya.

"Gue nggak ngungkit lagi, lho, Ca. Udah basi juga masalah cuti mah. Hahaha."

Kutonjok Rio dengan pelan dan kami lalu tertawa bersama.

"By the way, Eltha nanyain kabar lu lagi tau," ujar Dere tiba-tiba.

Lagi? Apa yang masih diharapkan oleh perempuan satu itu? Belum cukupkah dengan caraku mengabaikannya? Kenapa ia bersikeras sekali?

Aku menghela napas panjang lalu kembali menganalisis beban hidupku secara mendalam. Di tengah sasaran audit yang masih berjalan, harapan soal keluarga, dan drama persahabatan yang belum diketahui akan berjalan ke arah mana, rasanya Eltha benar-benar menjadi jauh luar biasa menjengkelkan.

Kuutarakan kepada dua orang di hadapanku beberapa hal yang sedang menyita perhatianku saat ini. Lalu kemudian mengakhirinya dengan berkata, "Eltha... dia tuh kayak..."

"Bego!" Dere langsung memotong tanpa melihat ke arahku.

Aku dan Rio sontak mengerjap. "Hah?"

Kenapa teman kami yang satu ini? pikirku, sambil menatapnya dengan raut wajah bingung.

"Lu bego banget, sih, Ca. Gemes banget gue," Dere memeluk botol minumnya dengan erat. "Lu tuh kayak orang yang lagi narik koper isi batu bata dan terus ngeluh kenapa punggung jadi sakit, bukan malah buang batunya. Lu pusing di audit? Ya, tinggal kerjakan seperti biasanya dan mengalir aja, jangan jadi beban dengan terus dipikirkan. Lu mau keluarga damai? Ya, tinggal coba rencana yang udah disusun, dan jangan banyak nunggu momen yang tepat. Lu mau nggak ada drama sahabat? Ya, tinggal luruskan kesalahpahaman sama Bella. Kenapa harus tunggu semesta yang perbaiki semua? Mau sampai kapan begitu, hah?"

Aku tertegun agak lama. Lalu memutuskan untuk segera menjawabnya, "Nggak sesimpel itu, Der. Emang sih kelihatannya mudah, tapi..."

"Tapi apa?" Dere kembali memotong sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan hidungku. "Panca, dengarin gue..."

Dere mencondongkan tubuh dengan tatapan yang tiba-tiba serius meski nadanya tetap santai. "Lu itu sibuk banget pakai cara yang rumit. Lu pakai Excel, pakai teori, dan pakai perasaan. Padahal lu cuma butuh satu hal, yaitu berani gerak dan bilang enggak ke diri lu sendiri."

Aku dan Rio terdiam, dan hanya rokok dalam jepitan jemari kami yang masih bergerak menciptakan abu yang jatuh ke tanah. Aku ingin membela diri tapi lidahku mendadak berubah kelu.

"Gue perhatikan nih, ya," lanjut Dere sambil menodongkan botolnya padaku seperti menodongkan pistol. "Selama ini lu udah terjebak di tengah-tengah karena lu sendiri yang terlalu takut jadi orang biasa."

"Orang biasa gimana?" tanyaku tidak mengerti dengan maksud gadis di hadapanku ini.

Dere tertawa dengan tawa yang ceplas-ceplos dan tidak peduli denganku yang memasang raut kebingungan. "Orang biasa yang bisa capek dan mau ada perubahan ke arah yang lebih baik. Hadapin tuh manajemen, dan bilang kalau lu udah ngelakuin yang terbaik, jadi kalau memang nggak suka silakan pecat. Hadapin tuh orang tua, dan bilang kalau lu sayang mereka, tapi rumah udah terlalu sesak kalau cuma diisi dengan diam-diaman. Hadapin tuh sahabat, yang semuanya sengklek dan drama, lalu bilang kalau lu mendingan tidur daripada lihat kalian bikin capek diri sendiri sampai nyeret-nyeret lu di dalamnya."

Pandanganku lekat menatap Dere. Nasihat itu terdengar sangat kasar dan sangat tidak sopan, tapi entah kenapa, itulah yang paling masuk akal.

"Kedengarannya kayak gampang banget di mulut lu, Der," ucapku dengan nada rendah sambil mencerna kalimat panjang itu agar merasuk secara dalam-dalam.

"Karena emang gampang! Lu aja yang hobinya nambah-nambahin bumbu di masalah lu biar jadinya kayak sinetron," Dere menyambarku lagi dengan botol minum yang sekarang naik ke depan wajahku. "Gue nggak bilang ini bakal selesai dalam semalam. Tapi Panca, coba besok pagi pas bangun tidur jangan pikirkan gimana caranya biar semua orang senang sama lu. Cukup pikirkan kalau mau bernapas lega habis ini, dan lu harus usahakan cara keluarnya dengan secepat mungkin. Jangan lagi nunda karena itu aja yang perlu dilakukan. Sederhana, kan?"

Dere lalu menurunkan botol minumnya kemudian menatap Rio yang sedari tadi tidak bersuara sama sekali, menyimak kejadian yang tidak biasa terjadi di waktu sakral kami ini.

Lihat selengkapnya