Rissa meneleponku untuk menanyakan kabar terbaru dari rencana kepulangan kami setelah sekian lama. Sekalian mengucapkan terima kasih yang sempat terlupa karena keadaan yang tidak memungkinkan akibat kehadiran mantan kekasih yang membuatku dongkol.
Adikku itu juga berkata jujur bahwa ia senang sekali dengan hadiah dariku kali ini dan kemudian berjanji akan terus memakainya sampai barang itu usang. Aku terharu mendengarnya, bukan karena sedih, melainkan lebih karena menyadari kenyataan tersirat darinya bahwa hadiahku yang lalu ternyata memang tidak begitu berguna untuknya.
Rissa juga mengatakan agar tidak perlu sungkan meminta bantuan bila ada yang bisa dibantu, karena ia akan senang sekali kalau bisa melakukannya. "Balas budi ke Mas. Lagian aku enggak pernah ngunjungin Mas di Jakarta, selalu Mas yang ke sini," katanya sebelum sambungan telepon berakhir.
"Muka lu kenapa kusut amat, woi!" ledekku sambil menepuk punggung Rio saat bertemu di warung soto belakang kantor. Wajahnya kelihatan habis tenggelam dalam ombak pemikiran yang dalam dan kosong.
"Biasa, masalah keluarga," jawabnya dengan suara rendah sambil menelan kunyahan terakhir isian sotonya.
"Cerita coba, Yo. Jangan dipendam sendiri, entar jadi penyakit. Repot sendiri lu!" Aku mencoba untuk mencairkan suasana di antara kami, namun sepertinya tidak berpengaruh sama sekali karena wajah temanku itu masih tetap seperti kertas yang baru saja habis diremas.
Ibu penjual soto membawakan pesanan, dan tanpa menunggu lagi langsung kulahap. Perutku sedari tadi sudah keroncongan, efek belum sarapan.
"Mertua gue kena musibah."
"Eh... musibah gimana?" Seruputan kuah soto yang menggugah selera seketika terjeda untuk mendengar penjelasan Rio.
"Jatuh di kamar mandi, Ca. Semalam."
"Terus... udah bawa berobat?"
"Udah, ditolong sama tetangganya."
"Sisil gimana?"
"Panik banget bini gue."
Demi bisa mendengarkan cerita Rio dengan saksama, aku memilih untuk segera menghabiskan sotoku dahulu. Isiannya kukunyah dengan terburu-buru, lalu kuahnya kuseruput dalam-dalam. Habis dalam lima menit.
"Emh... terus?" tanyaku lagi setelah memastikan mangkuk di depanku benar-benar sudah tandas.
Rio melanjutkan, "Tetangga Sisil pas ngabarin via telepon malah kesannya kayak nakut-nakutin, itu yang sukses bikin bini gue panik luar biasa. Histerisnya udah kayak pengen cepat sampai rumah sakit detik itu juga."
Dalam lima menit yang hening diceritakannya dengan lebih rinci soal kondisi mertuanya padaku.
Mertua Rio yang tinggal di Semarang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera tulang pinggul. Kondisi ini membuat mertuanya itu benar-benar tidak berdaya dan keputusan medis segera harus membutuhkan kehadiran anak kandung atau menantu. Setelah melewati perawatan di rumah sakit pun mertua Rio juga pasti akan butuh perawatan intensif yang tidak mungkin dilakukan sendiri tanpa bantuan dari anaknya.
Meskipun suaminya, yaitu Bapak Sisil, masih ada namun ia juga punya riwayat komplikasi diabetes yang terkadang melonjak tinggi dan sampai membuat panik istrinya, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk ia dapat mengurusi. Karena biasanya juga bergantung dengan sang istri. Demikianlah karena ini sebuah urusan mendesak dan membutuhkan kehadiran fisik anak mantu segera, maka Rio dan Sisil harus menitipkan kedua anaknya untuk tetap menjalani kegiatan sekolah di ibu kota.
Sebenarnya bisa saja kedua anak mereka diajak untuk pulang ke Semarang, namun setelah mempertimbangkan dari faktor kecepatan, maka membawa anak-anak hanyalah akan memperlambat pergerakan, belum lagi urusan izin ke pihak sekolah dan ketinggalan pelajaran. Si bungsu pun baru saja masuk bangku sekolah kelas satu. Lalu disertai pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah karena rumah sakit juga bukan tempat yang ramah untuk psikologis anak-anak.
"Boro-boro bisa ngurusin. Bokapnya Sisil justru jadi pasien kedua, karena udah terbiasa diurus istrinya," ujar Rio di sela kegiatan merokok.
"Tapi, kondisi bokapnya Sisil sekarang gimana? Oke, nggak?"
"Sempat panik juga pas kejadian. Kadar gula darah diabetesnya melonjak drastis. Langsung lemas sama linglung. Kata dokternya, kalau udah gitu bisa berisiko jatuh ke koma diabetik."
Kalau dipikirkan lagi memang situasi ini amat mendesak, karena tidak ada yang bisa mengurus administrasi, tidak ada yang mengambil obat, dan tidak ada yang bisa mengambil keputusan. Sehingga Rio dan Sisil adalah satu-satunya harapan.
Kepalaku mengangguk dua kali sebagai tanda mengerti, dan sebagai seorang teman aku pun tanpa ragu menawarkan bantuan untuk membantu mengurus kedua anak mereka selama mereka mengurusi urusan keluarga di Semarang.
Kuembuskan asap rokok ke udara. "Jadi, rencana lu gimana begitu sampai di sana?"
"Begitu sampai nanti kami langsung ngecek kondisi nyokap bokapnya Sisil dulu, sama ngurusin administrasi dan asuransi. Palingan... kalau keadaan lancer, kami tinggal nyiapin rumah Sisil di sana biar ramah buat lansia. Ngecek lagi sudut-sudut mana aja yang rawan bikin celaka, sambil cari info buat sewa suster sama tetek bengek lain."
Keputusanku membantu keluarga mereka diterima dengan cepat. Rio berterima kasih sekali dengan tawaranku untuk membantu keluarganya dalam mengurusi kedua anak yang masih tetap tinggal di Jakarta. Ia juga berkata kalau aku adalah jangkar yang berperan agar kehidupan anak-anak mereka tidak berantakan.
Mendengarnya berkata begitu aku kembali merasakan hangat di dalam dada yang rasanya seperti sebuah euforia kecil. Rasa yang selalu muncul ketika aku merasa dapat membantu orang lain, dan itu terlalu menyenangkan untuk digambarkan.
Moga-moga cedera fisik mendadak sang ibu dan ketergantungan psikologis medis sang ayah dapat diatasi Sisil dan Rio, doaku kala itu sambil menepuk pundaknya sebagai penguatan.
*****
Sepertinya aku butuh bantuan seseorang dalam mengurus kedua anak Rio dan Sisil.
Mereka tidak bandel, malahan sudah berjanji kepada kedua orang tuanya untuk menjadi anak baik karena sudah bisa memahami situasi darurat kakek neneknya. Serta anak-anak itu juga sudah diperingatkan agar menurut padaku, dan jangan sampai pula menimbulkan masalah.
Namun dinamika mengurus dua anak di tengah kesibukan kerja tetaplah sebuah juggling yang melelahkan, sehingga sepertinya aku akan memakai kartu bantuan yang sebelumnya telah ditawarkan seseorang padaku. Yaitu kartu bantuan dari Rissa.
Rissa tanpa banyak bertanya langsung meluncur setelah cutinya diterima oleh kantor. Sore itu aku langsung mengajaknya untuk pergi ke rumah Rio guna bertemu dengan Arta dan Riko. Ternyata sisi keibuan dan cekatan Rissa sangatlah berguna, karena tanpa berlama-lama kedua anak itu sudah dekat dengannya. Barulah kusadari sekarang kalau ternyata adikku ini pintar mengambil hati anak-anak.
"Tante Rissa itu pacarnya Om Panca, ya?" Riko bertanya di tengah permainan legonya.
"Bukan dong, Sayang. Om Panca ini kakaknya Tante."
"Tapi kok, enggak mirip sih, Tante?"
"Soalnya adonannya beda, Rik," sahutku pada si bungsu menggunakan nada kekanakan yang sama. Tanganku sibuk mengaduk teh hangat yang dibuatkan Rissa untuk menemani waktu jaga malam ini.
Rissa terlihat menahan senyum, masih tetap diladeninya Riko dengan susunan lego yang makin meninggi.