ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #11

BAB 11: Hal Sederhana Untuk Orang Dewasa

Suasana rumah saat ini sedang terasa sangat damai, yaitu sebuah kedamaian yang rapi dan diliputi perasaan puas. Rio dan Sisil baru saja menelepon dan menanyai keadaan kami semua, kemudian diakhiri dengan sebuah pesan kepada kedua anak yang menatap dengan mata yang kelihatan sudah rindu kepada orangtuanya. "Arta, Riko, jagain Om Panca, Tante Rissa, sama Om Teddy, ya. Jangan bikin repot."

Setelah itu, Arta yang merasa mengemban misi suci duduk tegak di samping sofa sambil menggambar di buku mewarnai. Ditambah Riko yang mengekor kakaknya duduk dengan manis di sebelah Bang Teddy, meniru gaya duduk tegap lelaki itu dengan kaki menyilang yang menggemaskan. Kepalaku hanya bisa menggeleng-geleng. "Coba kamu lihat, Ris. Ini anak-anak lebih profesional daripada tim Mas yang ada di kantor. Penurut dan rapi banget."

Rissa yang sedang membantu Arta memilih krayon lalu tertawa kecil. "Mereka punya tanggung jawab, Mas. Arta merasa dia harus jadi pelindung dan contoh buat adeknya dan Riko cukup pintar buat ngikutin arus."

Di sudut sofa Riko menoleh ke arah Bang Teddy yang sedang memegang ponsel sambil membaca berita di laman media sosial tentang kebakaran besar di pinggiran kota. Wajah Bang Teddy kelihatan sedih ketika memberitahukan jumlah total korban pada kami di ruangan itu. Riko kemudian menarik pelan ujung baju Bang Teddy. "Om Teddy, jangan sedih," ucapnya polos. "Kata Papa, kalau lagi sedih harus makan biskuit. Om, mau biskuit?"

Riko beranjak menuju rak di sebelah meja televisi dan meraih stoples biskuit cokelat yang biasa dicamilnya. Ia kemudian kembali ke sofa, dan lalu membuka tutup seraya menyodorkannya. Bang Teddy yang tadinya tegang dan hampir meneteskan air mata langsung luluh seketika. Ia mengambil biskuit dari tangan Riko dan memakannya dengan suara kriuk yang disengaja. "Wah, makasih, Jagoan. Om jadi nggak sedih lagi, nih." Melihat anak sekecil Riko bisa melakukan hal barusan sungguh hebat rasanya.

Sementara itu, Arta sedari tadi menatapku yang memperhatikan kejadian barusan sambil termenung. Ia dengan sigap menggeser kotak pensilnya ke arah depan tempatku duduk diam. "Om Panca, mau gambar? Kata Papa, kalau lagi capek kita harus gambar matahari biar hatinya jadi terang lagi." Aku langsung tertegun, dan Rissa pun juga terlihat melayangkan pandangan ke arah Arta. Ada rasa getir yang halus di dada karena menyadari kami tidak pernah memiliki masa kecil di mana bisa merasa aman untuk berpikiran seperti kedua anak yang kami urusi sementara ini.

Rissa lalu bergeser untuk pindah duduk ke sebelahku agar dapat berbicara dengan suara rendah. "Liat deh, Mas…" bisik Rissa pelan. "mereka masih kecil begini tapi bisa merasakan kalau kita lagi nggak oke. Mereka nggak perlu diajari soal jalan keluar masalah dengan ribet, malah jadinya kita yang belajar dari mereka buat bikin suasana jadi tenang."

"Iya," gumamku sambil tersenyum simpul. Aku kemudian meminta selembar kertas gambar pada Arta dan kemudian mencoret-coret kertas itu dengan krayon seperti yang dilakukannya. Kugambar di atas sana sebuah matahari dengan warna kuning yang mencolok.

"Mas pikir selama ini caranya itu berupa solusi rumit atau kerja keras yang mati-matian. Ternyata nggak begitu, ya..." ujarku pada Rissa. Kuharap Bang Teddy tidak mendengar obrolan kami barusan, karena aku belum ingin menceritakan padanya untuk saat ini dan biarlah sampai hasilnya kelihatan dahulu.

"Akhirnya Mas sadar juga?" Rissa menyenggol bahuku dengan lembut. "Kalah sama anak SD."

Aku langsung terkekeh sendiri, kali ini ada sedikit rasa yang sedang cair di dalam dadaku. "Mas kalah pintar sama anak SD," ulangku lagi sambil menyudahi gambarku karena ketebalan krayonnya sudah pas.

"Dan, Om Panca," Arta menyela dengan suara serius, "nanti misalnya Om sedih lagi nggak usah gambar matahari juga enggak apa-apa, lho. Ganti sama mobil balap juga boleh, biar cepat larinya."

Tawa Bang Teddy tiba-tiba pecah memenuhi ruangan. "Bener, tuh! Om Panca memang perlu mobil balap biar bisa lari dari masalahnya!"

"Bukan lari, Bang," protesku meski akhirnya ikut tertawa. "tapi buat jemput kebahagiaan."

"Kalau gitu, aku ikut deh, Mas," goda Rissa sambil menyenggol bahuku dan berkedip jenaka.

Di tengah ruangan itu, aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang, yaitu sebuah koneksi. Tidak ada yang namanya tuntutan, tidak ada pula kompetisi, serta tidak ada beban untuk membuktikan diri. Hanya ada dua anak yang kini beranjak dewasa dan sedang belajar mengusahakan kembali cara menjadi manusia melalui kepolosan dua anak kecil.

Anak-anak itu menjadi pengingat sederhana bahwa memperbaiki hubungan tidak selalu harus lewat tindakan yang berat, karena kadang itu hanya tentang mau duduk bersama berbagi biskuit dan membiarkan diri untuk tidak menjadi pemikir berat barang sejenak.

 

*****

Lihat selengkapnya