Tora datang dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Aku yang sedang asyik memindahkan susunan baju yang baru tadi sore kuambil dari tempat pencucian langganan langsung mematung. Sedetik kemudian tanganku otomatis melempar tumpukan lima kaus dengan sangat kasar, dan mendarat di wajahnya dengan telak seperti yang kuinginkan.
"Kangen lu ngapelin gue? Segala pakai bawa martabak. Najis!" Aku mengatainya untuk menghilangkan rasa sebal, namun dengan secepat kilat langsung menyambar plastik ditangannya karena takut bila tiba-tiba ia kabur karena tersinggung, dan membawa kembali bawaannya.
"Hehehe..." Tora memasang cengiran kudanya yang biasa, kemudian langsung duduk di kasur tanpa kupersilakan. Kakinya menyeret kaus-kausku yang tadi jatuh ke lantai, seketika aku memekik dengan lantang.
"Nyari ribut lagi lu? Itu baju baru gue ambil dari laundry. Seenaknya lu jadiin keset! Sini biar muka lu aja yang gantiin jadi keset buat kaki gue..." Aku menerobosnya garang setelah meletakkan plastik martabak di meja kecil samping kasur.
Kami lalu berguling dan melakukan kegiatan perkelahian bak dalam arena ring. Kibasan dan cekikan juga tak terelakkan. Bunyi suara napas yang tercekal dan menderu memenuhi kamar yang pengap, dan seketika udara hangat berbau keringat kami menguar.
BRAK!!!
Pintu kamar mendadak terbuka dengan tendangan yang mengagetkan. Bang Teddy meluncur dengan cekalan yang membuat kami langsung terpisah ke arah kiri dan kanan. Napas menderu dan kemudian menjadi tersengal-sengal.
"WOI! Kalau mau main bunuh-bunuhan jangan di sini, bisa angker ini tempat. Harga sewa turun sih, tapi siapa juga yang bakalan mau. Mana gue lagi rada bokek buat pindah kosan. Plis, jangan ya... pikirin gue juga, dong," rentetan kalimat Bang Teddy meluncur dengan intens dan membelah keheningan dalam kamar.
Lima detik kami bertiga saling berpandangan, disusul oleh tawa kami yang pecah berbarengan sampai perutku kram karena akhirnya kebanyakan tertawa. Bang Teddy yang sekarang sudah merasa di tingkatan lebih tinggi sebagai calon abang iparku tanpa malu-malu lagi menyambar kotak martabak dan langsung membukanya, lalu dicomotnya satu dan kemudian diopernya pada kami.
"Untung gue belum keluar buat beli jajan, lumayan ada yang bawain camilan. Makasih, ya, Tor," ucapnya lalu ikut duduk di kasur, di antara aku dan Tora.
"Kagak tau malu banget nih orang. Belum juga ditawarin udah main masuk perut langsung," aku mengatainya dengan bersungut-sungut.
"Hahaha. Pelit banget sih adek ipar abang yang satu ini..." dilanjutkannya comotan kedua martabak tebal nan berminyak itu ke dalam mulutnya yang lebar.
"Bang... itu martabaknya baru gue kasih racun tikus tadi. Niatnya mau celakain Panca, tapi, kalau lu yang mati, ya udah… akibat keserakahan lu sendiri, sih..." Tora berkata dengan nada yang mencekam.
Sontak kunyahan Bang Teddy berhenti. Ditatapnya Tora dengan mata membelalak. Detik berikutnya suara muntahan dan sisa kunyahan keluar mengotori lantai kamar, sehingga kami semua langsung melompat menghindar ke berbagai arah.
"Anjing lu, Bang Ted!" pekik Tora yang kemudian langsung menempelkan tubuh di belakang pintu.
"Dosa apa gue, sampai kamar dimuntahin begini..." kataku sambil menatap ampas makanan di lantai dengan mata nanar.
"Hueeekkk!" Bang Teddy masih melanjutkan sesi dramatisnya.
Setelah itu Bang Teddy berhenti, lalu ditatapnya Tora dengan wajah yang memerah sehabis memeras perut. "Lu bohong, kan?"
"Ya, iya! Masa gue ngeracunin sohib gue sendiri, sih, Bang. Mikir bisa kali, ah," Tora menjawab sambil menutup hidung dengan jijik.
"Anjing!" Bang Teddy menerobos dalam kecepatan yang luar biasa, hingga Tora kaget dan kemudian terperangkap dengan pitingannya.
Sungguh di luar nalar. Inilah kebodohan dari para lelaki yang sepertinya kurang diberi kasih sayang. Aku menepuk jidat dan hanya bisa terduduk di tepi kasur menatap dua manusia dewasa yang sedang bergulat di sudut pintu, dengan teknik yang lebih mirip gaya bebas kelas berat daripada pertengkaran orang waras. Bang Teddy dengan napas yang masih tersengal sisa muntahan berhasil mengunci leher Tora menggunakan ketiaknya.
"Minta maaf nggak lu?! Minta maaf atau martabak yang ditelan tadi gue keluarin lagi di muka lu!" ancam Bang Teddy.
"Najis banget, Bang! Oke, oke! Sori, sori!" Tora meronta dengan tangannya menggapai-gapai udara tanda menyerah.
Bang Teddy lalu melepaskannya. Kemudian duduk kembali di tempatnya semula.
"Bersihin itu muntahan lu, Bang. Gue nggak mau tau!" kataku garang sambil menunjuk ampas makanan dengan ujung jari kaki.
Bang Teddy langsung mengambil tisu di atas meja dan mengelapnya sampai bersih. Tidak lama kemudian, ia masuk ke dalam kamar mandi dan lalu kembali dengan siap lagi untuk melanjutkan makan martabak seperti tidak ada kejadian apapun yang telah terjadi barusan.
"Tadi gue dengar ada suara ribut-ribut dari kamar, makanya gue langsung masuk. Taunya emang ada panggilan rezeki buat makan martabak. Hehehe," Bang Teddy berkata tanpa ditanyai sama sekali.