Saat Rio dan Sisil sedang membangun kembali kehangatan dan keceriaan di rumah bersama anak-anak, peristiwa mendadak berbalik menjadi pekat, berat, dan memilukan.
Bencana alam besar di Sayung benar-benar menjadi titik yang menguras emosi dan air mata. Kepergian ayah dan ketidakpastian nasib ibu yang masih hilang adalah ujian yang berat bagi keluarga mereka. Mereka harus lekas berangkat ke Semarang untuk mengurus jenazah dan memantau proses pencarian. Suasana mendadak senyap, berganti dengan ketegangan dan penantian yang tidak pasti. Doa-doa dipanjatkan tanpa henti, dan air mata mengalir membasahi tanah yang sedang dipijaki.
Apa sebab pasti dari bencana ini?
Bertahun-tahun Kabupaten Demak, khususnya wilayah Sayung yang berbatasan langsung dengan Semarang Genuk, mengalami eksploitasi air tanah secara berlebihan. Industri skala besar dan pemukiman padat di pesisir menyedot air tanah secara tidak terkontrol secara terus-menerus. Hal ini memicu penurunan tanah yang ekstrem hingga mencapai sepuluh hingga dua puluh sentimeter per tahun.
Kerusakan kawasan mangrove akibat pembabatan untuk dialihfungsikan menjadi tambak dan pelabuhan menghilangkan pelindung alami dari abrasi. Dampak akhir bencana banjir rob masif akibat dari ambrolnya tanggul laut yaitu tanah yang terus ambles dan membuat tanggul laut buatan manusia tidak mampu lagi menahan tekanan volume air laut saat pasang tertinggi. Ini menyebabkan tanggul jebol dan menyapu wilayah pesisir hingga radius berkilo-kilometer.
Keputusan Rio untuk mengundurkan diri dari kantor demi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga bukan hanya terasa realistis, namun juga menjadi cerita yang sangat memukul. Harus direlakannya masa depan, stabilitas finansial, dan kenyamanan pekerjaan di hadapan tragedi yang diterima keluarganya. Gemerlap ibu kota seketika hilang artinya di hadapan bayangan kelam dari rentangan tangan kehidupan. Sekeluarga, mereka harus menata puing puing kehidupan yang hancur, sembari mengolesi trauma emosional yang tercipta dengan luar biasa hebat.
Aku merasa kehilangan rekan terbaikku di kantor. Tempat berbagi keluh kesah di sela kesibukan kerja, teman merokok untuk membuang penat, dan saksi hidup dari cerita yang datang silih berganti. Perpisahan mendadak ini membuatku terhenyak lebih lama dan lebih dalam di tempat duduk. Kepalaku tidak lagi berotasi mencari orang yang siap kuajak berbagi kisah. Kini yang tersisa hanyalah tarikan napas panjang, dan tatapan lurus yang menembus entah ke mana.
Saat Rio membereskan barang-barang di kubikelnya ke dalam kardus, meletakkan kartu identitas karyawan di atas meja, dan menjabat tangan kami semua untuk terakhir kalinya sebagai rekan kerja, pelukan penguatan itu didapatnya satu per satu tanpa banyak kata.
"Lu sama Sisil harus kuat buat Arta sama Riko, ya," kataku sebelum Rio melangkahkan kakinya ke pintu kaca kantor. Ia menatapku sebentar, menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak kentara.
Derap langkahnya menggema dan menyisakan sunyi bagi tatapan mata kami yang terakhir kali kepadanya. Kutatap cuaca pagi di luar kaca gedung kantor perlahan menggelap, bersiap menurunkan hujan untuk membasuh lara di pundak, berharap pada esok hari lara itu berubah menjadi sebuah ketegapan.
Mulai kini, kepulan asap rokokku akan terbang sendirian, tanpa adanya sahutan.
*****
Suasana warung kopi di pinggiran kota malam itu cukup riuh, namun meja kami terasa terisolasi oleh kepulan asap rokok dan ketegangan yang menggantung. Aroma kopi tubruk yang pekat tak mampu mengusir rasa getir di tenggorokan. Rissa, yang bergabung melalui panggilan video yang diletakkan di tengah meja, terlihat jelas di balik layar ponsel sedang bersandar pada dinding kamarnya yang putih bersih.
"Panca, lu dengarin gue," Dere memulai dengan nada bicara khas tongkrongan yang ceplas-ceplos. "audit manajemen itu bukan main-main. Lu lagi di bawah mikroskop, lho. Kerja lu lagi di-review habis-habisan, dan lu malah sibuk mantau donasi Sayung di sela-sela rapat tadi siang. Kalau sampai kena surat peringatan atau malah didepak, niat mulia lu bantu keluarga Rio malah jadi bumerang. Dan kalau nggak punya penghasilan, gimana lu mau bantu mereka jangka panjang?"
Aku terdiam, mengaduk kopi yang sudah mulai dingin. Tanganku gemetar sedikit mendengar apa yang dikatakan Dere barusan. Baris kalimat tersebut sangat kuketahui bukanlah cara untuk menakut-nakuti, tapi adalah fakta yang dihamparkan nyata beberapa senti di pelupuk mataku untuk membuat sadar.
"Dere ada benarnya, Ca," Bang Teddy menyela, suaranya berat dan penuh perhitungan. Ia membetulkan duduknya, matanya kemudian menatapku lekat. "Dalam posisi lu yang lagi disorot manajemen, setiap pergerakan itu taruhan. Lu mau bantu keluarga Rio, oke... itu mulia dan nggak ada yang berani menyangkal itu hal baik. Tapi, lu harus hitung untung dan ruginya juga. Bukan soal uang, tapi ketahanan mental lu. Punya kapasitas nggak buat menanggung beban kerja sekaligus beban emosional tragedi ini?"
Rissa, yang sedari tadi menyimak dari layar, akhirnya bicara. Suaranya tenang, kontras dengan keriuhan di sekitar kami. "Mas Panca, aku di sini melihat dari luar. Mungkin Mas merasa kalau bisa kontrol semuanya. Tapi jujur aja, setiap kali kita berdua tatap muka dan bahas soal audit, aku lihat tarikan napas yang dalam dan mata Mas nggak bisa bohong. Kalau Mas mau bantu Mas Rio, mungkin bukan dengan cara mencuri waktu di kantor, tapi dengan keputusan yang tegas."