Sang panglima kini telah turun penuh ke medan laga.
Aku sekarang punya waktu dua puluh empat jam penuh untuk menakhodai gerakan donasi bersama Ben, Redo, Tora, Bella, dan Bang Teddy. Begitu sampai di Sayung dan bertemu dua sahabat beserta kedua anak mereka, kami langsung saja saling memeluk. Eratnya pelukan itu menandakan bahwa aksi kemanusiaan ini harus dibayar lunas dengan sebuah keberhasilan.
Setelah mendapat kabar dariku, Rissa menyusul dengan cepat pada keesokan hari. Menggunakan sisa jatah cutinya, ia bergerak lincah dan datang sebagai perisai untuk menjaga Arta dan Riko.
Kami memanfaatkan platform digital untuk menggalang dana bagi para korban bencana melalui aksi bertajuk Solidaritas untuk Sayung: Pendampingan Keluarga dan Korban Banjir.
Berfokus pada masalah utama, mengingat Sayung terdampak oleh banjir rob, kebutuhan jangka pendek setelah pelukan hangat bergeser pada akses air bersih dikarenakan sumur tercemar air asin dan banjir. Juga berupa obat-obatan pascabanjir dan perbaikan instalasi listrik yang aman.
Setiap rupiah yang keluar akan dicatat dalam lembar transparansi, sehingga publik secara instan bisa melihat ke mana bantuan mereka mengalir secara berkala. Dengan contoh: pembelian filter air, obat, dan kabel yang akan difoto bersama kwitansinya, dan diunggah ke folder Google Drive yang diatur untuk dapat dilihat oleh publik. Langkah ini juga berperan sebagai bukti mutlak yang menutup celah kecurigaan yang mungkin bisa saja terjadi.
Mengingat waktu yang terbatas dan dinamis, aku juga langsung membagi alur kerja tim. Lima orang yang secara spesifik tidak boleh saling tumpang tindih dalam menjalankan perannya masing-masing.
Kutempatkan Bella dan Redo di posko data dan keuangan. Bella akan memegang kendali atas mutasi rekening donasi, memperbarui lembar kerja untuk publik secara berkala, dan memvalidasi nota dari lapangan. Sedang Redo bertugas untuk mendata titik sumur yang tercemar, rumah dengan instalasi listrik kritis, dan jumlah kepala keluarga yang membutuhkan obat. Data dari Redolah yang menjadi dasar belanja logistik.
Untuk Ben dan Tora, keduanya akan bertanggung jawab atas pengadaan barang. Seperti mencari vendor lokal Semarang untuk filter air atau toren, bekerja sama dengan apotek, dan berkoordinasi dengan teknisi listrik lokal. Mereka juga sekalian mendistribusikan semua keperluan ke titik yang sudah divalidasi oleh Redo. Bang Teddy sendiri akan bersanding bersamaku untuk menakhodai pergerakan, mengamankan perizinan dengan tokoh masyarakat Sayung, dan memastikan tahapan kegiatan bergerak sesuai rencana sesegera mungkin.
Terakhir, sebagai penutup rantai donasi yang rapi, dokumentasi proses pengerjaan akan kami ringkas dari mulai total donasi terkumpul, total tersalurkan, sampai dengan sisa saldo yang direncanakan untuk alokasi berikutnya. Aku berharap segala yang kami lakukan ini akan mengubah energi pelukan hangat menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan komunitas lainnya.
Dan semesta rupanya merestui.
Berhari hari kemudian, relawan lain hadir untuk menemui kami di posko. Mereka datang dari berbagai kota setelah melihat dan tersentuh oleh gerakan kemanusiaan kami untuk Sayung. Tawaran bantuan mereka amat sangat berguna. Aku memang sedang membutuhkan tim tambahan untuk penanganan korban meninggal dunia, dan juga korban yang masih berstatus dalam pencarian.
Ke dalam satu wadah penggalangan bencana yang sudah berjalan, kutetapkan pos anggaran dan narasi yang dipisahkan secara jelas guna mengutamakan kehormatan, keringanan beban psikologis maupun finansial keluarga yang ditinggalkan, serta dukungan operasional tim penyelamat.
Setelah berdiskusi kilat dengan teman-temanku dan para relawan lain, kami sepakat untuk memperbarui narasi kampanye dengan tajuk Solidaritas untuk Sayung tidak hanya bergerak untuk mengalirkan air bersih dan memperbaiki listrik bagi korban selamat, tetapi juga hadir mendampingi keluarga yang berduka akibat kehilangan anggota keluarganya, serta menyokong penuh proses pencarian korban yang masih hilang.
Total dana akan masuk ke dalam tiga pos anggaran yaitu untuk korban selamat, santunan duka korban meninggal, dan logistik tim evakuasi dan pendampingan keluarga di posko. Santunan duka dan pemulasaran adalah saat yang membuat kami semua mengalirkan air mata dengan deras. Di detik itulah gerakan yang kami lakukan benar-benar bukan hanya sekadar hitungan angka-angka di atas kertas, melainkan langkah kemanusiaan yang terasa sangat dalam.
Kehadiran, pelukan, dan bentuk hormat kami yang terbesar dipastikan tulus tanpa pamrih. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan yang seluas-luasnya.
Hormat yang terdalam. Dan akan kami lanjutkan perjuangan di lapangan. Kami rekam jejak kebaikan untuk bumi Sayung dan setiap jiwa di atasnya.
Semoga segera membawa kabar baik, semoga ketabahan senantiasa memeluk.
*****
Doa yang dipanjatkan Sisil dan Rio untuk keberadaan ibu yang masih belum ditemukan terus mengalir. Guliran waktu juga tidak dapat menghentikan luncuran kata-kata yang menampung beratnya rasa harap dan kecemasan.
Doa-doa itu bergandengan erat dengan ikhtiar yang sedang diperjuangkan di lapangan untuk menuntun kabar baik yang akan dibawa tim evakuasi kepada keluarga yang menantikan. Setiap peluh dalam gelap dan berat merupakan perpanjangan tangan dari doa-doa yang tumpah dalam waktu terjaga. Sinergi ketulusan hati itu akhirnya mempertemukan pencarian dengan jawabannya.
Kabar yang dinanti-nantikan itu akhirnya datang mengetuk pintu.
Seorang relawan bernama Tirta datang ke tenda kami saat Sisil baru saja selesai melakukan ritual doa agamanya.
"Pagi, Kak Sisil, maaf ganggu sebentar."
Sisil menatap relawan itu dengan mata yang agak sembap karena hampir tidak terjeda derai air mata saat berdoa. "Iya. Ada yang bisa dibantu, Kak?"
"Barusan aja datang sukarelawan dari posko lain, katanya membawa kabar soal Ibu Dinar," ujar Tirta.
Aku, Rio, Bella, dan Bang Teddy yang baru saja menyelesaikan urusan mengisi perut pagi ini, sontak menatap ketika kalimat itu diucapkan.
Sisil mendekat pada Tirta tanpa mengatakan apa pun. Matanya tampak menyiratkan tanya.