ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #15

BAB 15: Pesan Navigasi

Semalaman suntuk aku berbincang di teras rumah Sisil bersama Rio. Ditemani dengan dua cangkir kopi yang sudah dua kali diisi ulang dan kini hanya menyisakan ampas dingin. Sisa napas lelah yang kami pertukarkan sedari berjam-jam tadi berpadu dengan asap rokok yang bergulung dan bergelantungan di atas kepala, memahat siluet kelabu di udara yang mulai menusuk kulit.

Aku masih belum beranjak kembali ke Jakarta. Di saat anak-anak lain sudah berkemas pada hari tugas kami sebagai sukarelawan itu selesai, dengan membawa serta kenangan akan debu posko dan kepuasan tugas yang tuntas, meninggalkanku yang justru memilih untuk memeluk getir penguatan. Rasanya kian akrab karena sekarang aku sudah menjadi manusia yang kehilangan pekerjaan. Realita yang sama sekali harus kuterima dan tidak bisa kuelakkan lagi karena integritas yang salah waktu. Sebuah pil pahit yang harus kutelan hingga ke dasarnya.

Rissa pun sudah lebih dulu bertolak kembali ke Bandung dan kini jatah cutinya sudah habis terpakai. Penjagaannya pada Arta dan Riko dibarengi rasa terima kasih yang amat sangat dari kedua orang tua anak itu. Juga Ibu Dinar.

“Gue minta maaf karena lu jadi begini karena gue, Ca,” kata Rio saat kesunyian merebak, dan bunyi jangkrik mulai bersahut-sahutan meramaikan malam.

Aku tertawa pendek, mencoba menepis rasa bersalah yang menggenang di matanya. Sekalian untuk menertawakan kemalangan yang sedang kupeluk sendiri. “Udah deh, Yo. Bukan salah lu juga kali, orang ini murni pilihan gue sendiri. Enggak usah berlebihan.”

“Lu selalu punya cara buat menepis rasa bersalah orang lain, padahal lu sendiri yang lagi babak belur,” Rio menggeleng pelan, seolah tak tahan melihat sikapku yang terlalu pasrah.

“Bahas yang lain ajalah, Yo. Udah malam, jangan sampai gue jadi ngantuk dengerin lu ngoceh hal yang nggak penting.”

“Mulai deh lu ngalihin, emang yang namanya Panca, yaaa, itu dia jagonya.”

“Hahaha.” Aku tertawa sambil memberinya cengiran khas seperti biasa.

Sisil muncul tak lama kemudian, bergabung dengan kami dalam balutan piyama tidurnya. Ia duduk dengan raut yang menyimpan kecemasan serupa. Rasanya malam ini hanya terisi dengan topik yang serius dari kami bertiga.

“Ca, lu nggak punya rencana lain? Gelar dan pengalaman lu itu mahal, sayang kalau harus nganggur cuma gara-gara musibah ini,” cecarnya, matanya menelisik wajahku seolah mencari tanda-tanda kepanikan yang sengaja kusembunyikan.

“Udah, enggak usah dipikirin itu mah. Itung-itung sementara waktu gue ambil libur dulu, capeknya masih berasa ini. Biarkan waktu berhenti sejenak sebagai kemewahan yang bisa gue nikmati.”

“Jangan kelamaan libur, nanti kebablasan. Ingat, rajin pangkal kaya, malas pangkal...” Sisil menggantung kalimatnya, memberiku sebuah umpan.

“Pangkalan ojek!” sahutku cepat, lalu meledak dalam tawa renyah yang sedikit terasa hambar.

Sisil gemas, ia mencolek lenganku, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat serius. “Dih, betul kan, udah muncul tuh gejalanya.”

Di balik tawa itu, aku merenung. Kehilangan pekerjaan yang dulu begitu kuagungkan, dengan juga memegang posisi yang menuntut segalanya hingga aku lupa caranya pulang, kini itu semua terasa seperti melepas beban yang selama ini menghimpit pundak. Ada kelegaan yang aneh, seolah semesta sedang memotong tali kekang yang membuatku terseret arus yang salah.

Aku percaya, dunia tak akan membiarkan setiap kebaikan menguap begitu saja. Bukan karena aku menagih imbalan, tapi karena aku memilih untuk percaya pada kepastian yang lebih besar daripada sekadar rekening bank yang kosong.

Kata orang, bahagia adalah perihal membuang dua beban, yaitu ketakutan akan masa depan dan bayang-bayang masa lalu. Maka, kubiarkan waktu yang ada ini mengalir dahulu. Aku ingin belajar menelaah arus yang tepat, menghindari perangkap ambisi yang pernah menjeratku dalam rutinitas tanpa jiwa. Mungkin kelak di Yogyakarta, Bandung, atau di sudut antah berantah mana pun di dunia yang masih menyisakan kewarasan, aku bisa menemukan tempat untuk berlabuh lagi dengan lebih baik.

Di sela harapan-harapan itu, pikiranku kembali pada Mulan, yang kuanggap sebagai hadiah semesta untukku. Sosok yang hadir seperti percikan bagi jiwaku yang letih. Aku tidak ingin terburu-buru, tidak ingin menggampangkan rasa yang baru saja bersemi di tengah reruntuhan ini. Namun, jika semesta memang sedang merajut jalan bagi kami, sedikit harap yang kupelihara ini rasanya tidaklah berdosa. Aku hanya sedang menaruh hati pada kemungkinan, pada sebuah doa yang kuberikan kepada waktu, bahwa mungkin, aku memang layak untuk menerima hadiah di balik segala kehilangan ini.

“Ca,” panggil Rio pelan untuk memecah lamunanku. “Lu nggak jadi pulang ke rumah? Udah berapa lama tertunda terus, emang bokap nyokap nggak nagih?”

Kata-kata Rio barusan menghantam dan menyadarkanku lebih keras dari cercaan siapa pun. Ia benar. Aku sudah terlalu lama mengabaikan niat baik yang kemarin sempat membumbung. Rasa bersalah muncul seketika dan bahuku rasanya merosot, kecewa pada diriku sendiri.

Sembari mengarahkan pandang ke depan, ke langit malam yang kelam, aku memikirkan ucapan Mulan terakhir kali. Dapatkah kugunakan zat yang katanya ada di dalamku itu, yang adalah penawar rasa sakit alami dan sumber ketenangan di waktu kritis? Dapatkah kugunakan pada keluargaku?

Aku terkejut lagi bahwa ada lintasan benak yang tiba-tiba mengalun dalam kepala. Apakah tertundanya aku pulang ke rumah selama beberapa waktu ini adalah untuk dipertemukan dengan sosok Mulan? Agar aku menyadarinya dahulu dan bisa menjadikan kesadaran itu sebagai obat untuk penawar luka keluargaku?

Bisa jadi, itulah alasan semesta mempertemukan kami. Di tengah titik terendah, ketika aku kehilangan segalanya, dari pekerjaan, reputasi, dan kepastian masa depan, semesta justru sedang merancang skenario yang lebih teliti. Aku sedang dikosongkan agar bisa diisi dengan sesuatu yang lebih bermakna. Bukankah setiap benda yang pecah akan selalu memiliki cara untuk disatukan kembali dengan pola yang lebih indah? Benar begitu, kan?

“Hari Jumat gue pulang,” kataku tiba-tiba, memecah hening kami.

“Ke rumah?” tanya Sisil untuk memastikan.

“Iya. Ke rumah bokap sama nyokap gue udah nunggu. Ke semua kekacauan yang udah dari lama gue biarkan mengendap dan membusuk.”

Aku tahu, setelah ini, pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai. Ibu akan menungguku dengan trauma masa lalunya yang menganga, dengan ketakutan yang ia bungkus dengan kemarahan. Ia akan kecewa dengan kabar yang kubawa soal kehilangan pekerjaan, dan keputusanku yang akan dianggapnya gegabah serta tidak memakai otak.

Tapi aku tidak lagi dapat menghindar. Aku tetap akan kembali ke sana. Bukan sebagai anak yang patuh pada standar kesuksesan korporasi, melainkan sebagai seorang pria yang telah belajar bahwa nilai seseorang tidak diukur dari berapa banyak angka di dalam rekening, serta dari berapa banyak ia mampu bertahan untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang tak lagi punya nurani.

Dan jika Mulan memang adalah hadiah dari semesta, maka aku harus mulai memastikan diriku layak untuk menerimanya. Aku tidak ingin mencintainya sebagai pria yang rapuh karena trauma masa lalu yang entah kapan akan usai, melainkan sebagai pria yang telah selesai dengan dirinya sendiri dan caranya yang selama ini menghindar dengan tidak bertanggung jawab.

Lihat selengkapnya