ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #16

BAB 16: Yang Membutuhkan Pertahanan

Setelah sesi makan selesai dan piring-piring kotor telah dibereskan, kami berpindah ke ruang tamu guna berbincang dan menghabiskan malam. Suara televisi kembali terdengar pelan di sela napas kami semua yang saat ini berkumpul untuk memulai pembicaraan. Televisi sengaja kunyalakan agar jika tiba-tiba kesunyian menyergap, kami masih dapat mengalihkan pandangan ke layarnya.

Ternyata tindakanku sama sekali tidak salah. Suasana yang tadinya sedikit hangat di meja makan kini berubah menjadi pekat, seperti udara sebelum badai besar menerjang. Ibu duduk di kursi kayu jati kebanggaannya dengan punggung tegak, sementara Rio dan Sisil duduk di sofa, terlihat tak nyaman dengan posisi duduk yang kaku.

"Jadi," suara Ibu memecah kesunyian, matanya yang tajam menatapku, "setelah berhari-hari mengurus orang lain di lokasi bencana, Panca sudah siap kembali ke ritme kantor di Jakarta? Rencananya kapan?"

Aku belum sama sekali memberitahu Ibu soal itu dan sepertinya tidak ada lagi waktu untuk menghindar dengan tidak memberitahunya. Kutarik napas dalam-dalam, tenggorokanku rasanya agak kering, dan aku mulai menjawab, "Panca bakal beberapa hari di sini, belum akan balik ke Jakarta."

Terlihat kening Ibu berkerut dan kedua alisnya bertaut menyatu. "Lho? Kenapa? Ada alasan lain kenapa kamu masih di sini?"

Aku mengingat kembali pesan dari Mulan di benakku, untuk jangan datang dengan perasaan bersalah yang membuatku harus jadi pahlawan. Karena kalau datang dengan rasa bersalah, aku hanya akan menjadi sasaran empuk untuk kemarahan mereka.

"Bu, sebenarnya ada yang mau aku sampaikan. Aku udah nggak bekerja lagi di perusahaan yang kemarin."

Detik itu, semua tarikan napas di ruangan seolah terhenti. Ibu terdiam lama, tangannya mengepal erat di atas pangkuan. Ia menahan ledakan yang sudah siap keluar di tenggorokannya. Wajahnya memerah, namun ia memilih cara yang lebih menyakitkan. Sebuah sindiran yang meluncur bak belati.

"Oh, begitu? Hebat sekali, Panca. Kamu melepas posisi itu demi jadi malaikat penolong bagi orang yang bahkan tidak mengenalmu di lokasi bencana?" Ibu tersenyum sinis, menatapku dengan dagu yang kini terangkat, serta dengan sorot yang merendahkan. "Kamu benar-benar meniru Bapakmu. Sangat puitis. Mengorbankan masa depan demi idealisme yang tidak bisa dimakan. Apa kamu merasa hebat? Apa kamu merasa menjadi orang paling berguna setelah kini menelantarkan hidupmu sendiri?"

Aku tetap tenang, mencoba menjaga intonasi kalimatku. "Ini bukan soal paling berguna, Bu. Ini soal kemanusiaan. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar."

Mendengar jawabanku itu, Ibu semakin berapi-api. Kobaran itu terlihat berkilat di kedua bola matanya. "Kemanusiaan? Jangan ajari Ibu soal kemanusiaan! Ibu yang memutar otak mengurus katering dan asuransi agar dapur rumah ini tetap mengepul saat Bapakmu sibuk berkemanusiaan dan membuat kita hampir terlantar! Kamu mewarisi penyakit itu, Panca. Penyakit mementingkan orang lain di atas keluarga sendiri."

Pandangan Ibu kemudian beralih tajam ke arah Rio dan Sisil. "Dan kalian berdua, kalian ini teman macam apa? Malah membiarkan dia melakukan kebodohan ini? Apa kalian datang ke sini untuk meminta maaf karena sudah membuat Panca tidak punya penghasilan lagi? Atau, kalian juga punya hobi yang sama, hobi menghancurkan masa depan sendiri dengan kedok pertemanan?"

Rio dan Sisil terpaku, wajah mereka memerah karena malu dimarahi dan tidak enak hati. Sisil mencoba membuka mulut, namun kata-katanya tertelan oleh ketegangan yang menyesakkan. Ruangan itu mendadak sangat panas. Rio tampak hendak berdiri, berniat mengajak Sisil pergi karena merasa sudah terlalu jauh mencampuri urusan keluarga yang kini mulai menyerang mereka.

Tiba-tiba, suara kresek koran yang dilipat dengan tenang terdengar. Bapak yang sejak tadi hanya diam seperti patung, akhirnya meletakkan koran di tangannya. Ia berdeham sebentar, suaranya parau namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.

"Sudah, Puspa. Cukup."

Ibu menoleh, terkejut mendengar Bapak bicara. Tidak menyangka bisa melihat tindakan suaminya yang selama ini acuh, dan kini masih dapat melakukannya.

Bapak menatapku, lalu beralih menatap Rio dan Sisil dengan tatapan yang teduh, jauh dari kesan pendiam yang selama ini ia tunjukkan. "Panca tidak sedang menghancurkan masa depannya. Dia sedang membangun sesuatu yang tidak bisa kamu lihat karena kamu terlalu takut akan kehilangan."

Bapak menatap Ibu, matanya menatap tajam namun masih mengandung kelembutan. "Dulu, aku memang gagal karena terlalu naif. Aku mengakui itu. Tapi anakmu ini, dia tidak naif. Dia punya keberanian yang tidak pernah aku miliki. Keberanian untuk tidak menjadi pengecut di tengah dunia yang makin egois."

Bapak menoleh ke arah Rio dan Sisil, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. Senyum yang sudah lama kulupakan karena memudar di ingatan. "Kalian tamu, dan tamu di rumah ini adalah kehormatan. Om minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Panca, Rio, Sisil, jangan pergi. Biarkan Ibu tenang sejenak dengan ego dan ketakutannya. Dunia ini memang menakutkan bagi orang yang melihat segalanya sebagai kerugian, tapi bagi mereka yang melihatnya sebagai investasi kebaikan, selalu ada jalan."

Ucapan Bapak yang tenang itu menjadi rem mendadak bagi amarah istrinya. Ibu tersentak di tempat duduknya, seperti baru saja disadarkan dari mimpi buruknya sendiri. Rio dan Sisil yang tadinya sudah hampir pamit, terduduk kembali, terkesiap karena tidak menyangka Bapak akan membela kami. Dan secara tidak langsung, mengakui masa lalunya sebagai pelajaran, bukan sebagai kutukan.

Ruangan itu kini sunyi, namun keheningan kali ini terasa lebih ringan. Bapak baru saja mengambil alih kendali badai, memberikan ruang bagi kami untuk bernapas.

 

*****

 

Matahari Sabtu pagi menyelinap garang melalui celah jendela rumah, namun masih tak mampu mencairkan beku yang tertinggal dari keributan malam sebelumnya. Rissa baru saja mengabari kalau ia akan berangkat setelah waktu tengah hari, kebetulan kantor tempatnya bekerja memang masuk setengah hari pada hari Sabtu.

Aku dan Rio kemudian memilih melakukan kegiatan sakral kami bersama di teras rumah. Sedangkan Sisil sedang menyiapkan hidangan camilan yang dapat kami nikmati. Bapak dan Ibu sedang keluar untuk bekerja. Jadilah ketiga anak muda dapat dengan leluasa menguasai rumah, sembari menelaah kejadian semalam yang rasanya membuat jantung kami melengos dari tempatnya.

Kuperhatikan embun yang masih menempel pada daun talas yang tumbuh di halaman depan. Kupu-kupu berwarna putih terbang tidak jelas arahnya, sedang dikejar dengan seekor anak kucing berbulu abu yang entah milik tetanggaku yang mana.

Sisil kemudian bergabung tidak lama kemudian, membawa teko plastik ungu dan tiga gelas berwarna sama. Aku masih mengingatnya, bahwa seperangkat teko dan gelas itu adalah pilihan Rissa saat dulu Ibu mengajak kami berbelanja barang keperluan lebaran, dan itu adalah barang obral. Kala itu setelah Rissa memilihkan, Ibu dengan cepat menyambarnya dan membuat pelanggan lain yang sedang ingin menyodorkan tangan jadi ketakutan, lalu akhirnya pergi menjauh dengan wajah bersungut-sungut. Kini teko dan gelas itu tampak sudah agak jelek akibat warna seduhan teh dan kopi yang menempel di dinding dalamnya.

Lihat selengkapnya