ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #17

BAB 17: Bergeser Dari Busuknya Dendam

Hari berikutnya disambut dengan belaian fajar penuh semangat yang merengkuh harapan. Sesuai rencana, aku dan Rio sudah bersiap sejak pagi sekali. Kami berdua yang tidur sekamar tidak perlu saling membangunkan karena sudah langsung membelalakan mata pada kokokan pertama dari ayam tetangga.

Bapak yang biasanya hanya duduk di teras memandang jalanan, kali ini sudah mengenakan baju lapangan terbaiknya, tidak seperti biasa yang hanya berkaus kutang dan tampak agak lusuh. Ada gurat antusiasme yang tertahan di wajahnya saat kami bertiga akhirnya meluncur ke toko bangunan untuk misi pencarian bahan.

"Pilih yang paling berkualitas, Ca," suara Bapak terdengar lebih berwibawa di antara deretan cat dan perkakas. Ia tidak lagi terlihat seperti pria yang merasa terasing di rumah sendiri. Ia adalah kapten yang sedang menentukan warna bagi kapal yang akan dijaganya.

Di rumah, suasananya tak kalah magis. Rissa dan Sisil bekerja dalam tim yang selaras. Mereka membantu Ibu menggeser lemari tua dan merapikan tumpukan barang yang selama bertahun-tahun hanya menyudut dan berdebu. Setiap barang yang digeser adalah upaya untuk membuang beban masa lalu, memberi napas bagi sudut-sudut rumah yang sempat mati.

Ketika kami bertiga kembali dengan membawa tumpukan material, pemandangan di ruang tamu benar-benar meluluhkan hatiku. Ibu dan Rissa sedang tertawa kecil, keringat di dahi mereka tidak terlihat sebagai tanda lelah, melainkan sebagai tanda produktivitas.

Namun, di tengah hiruk-pikuk renovasi ini, aku teringat sesuatu. Ingatanku melayang pada pertemuan sore itu di kedai kopi, pada kata-kata Mulan yang menembus pertahananku. "Jangan pernah menawarkan diri Mas sebagai ganti rugi atas kesalahan masa lalu... mereka nggak butuh pahlawan. Yang dibutuhkan adalah anak laki-laki yang punya harga diri."

Aku berhenti sejenak, memegang kaleng cat di tanganku. Selama ini, aku selalu merasa harus menjadi jembatan bagi kedua orang tuaku. Juga selalu merasa bahwa jika tidak melakukan sesuatu, rumah ini akan runtuh. Tapi saat gagal, aku akan beralih kembali ke habitatku dan menyerah dalam waktu lama. Namun, pada hari ini, aku sadar untuk harus mencoba tidak menjadi pahlawan. Aku hanya perlu menjadi seorang anak yang membawa keluarga ini kembali ke meja makan, tanpa perlu mengemis pengakuan.

Saat Bapak mulai mengarahkan Rio untuk memasang rak besi, dan Ibu meminta bantuanku untuk menggeser rak kayu yang berat agar cat dinding bisa menjangkau sudut, ku sadari bahwa Mulan benar. Aku tidak perlu memaksakan rekonsiliasi yang dramatis. Hal itu sendiri sedang terjadi melalui tindakan-tindakan kecil ini.

"Ca, geser sedikit lagi ke kiri, biar Bapak aja yang cat bagian atasnya," perintah Bapak yang datang mendekat dan meraih kaleng cat yang sedari tadi kupegang. Ia lalu menaiki tangga dengan pelan namun tangkas untuk menjangkau dinding bagian atas.

Aku patuh, namun kali ini bukan dengan perasaan tertekan untuk menyenangkan Bapak, melainkan dengan ketenangan seorang pria yang tahu posisinya. Kemudian kulihat Bapak menoleh ke arah istrinya di bawah, "Bu, warna yang kita pilih ini benar bagus, kan? Sedikit lebih kalem, biar ruangan nggak kerasa sesak."

Ibu menatap dinding yang mulai berubah warna, lalu menatap suaminya. Tidak ada ledakan emosi, hanya sebuah anggukan kepala yang pelan. "Iya, Pak. Bagus."

Ada sesuatu yang bergeser di udara rumah kami. Renovasi ini bukan hanya soal mengecat dinding yang mengelupas. Ini adalah tentang menata ulang batas-batas emosional kami. Aku, Rissa, Rio, dan Sisil hanyalah pemicu kejadian. Sisanya adalah mereka, Bapak dan Ibu, yang akhirnya memilih untuk berdamai dengan ruang tinggal tempat mereka bernaung.

Aku tersenyum tipis, meremas dada yang biasanya mengalunkan napas pendek jika dekat dengan orang tua. Kini rasanya tarikan di dalam bagai memanjang, lancar tidak ada hambatan, bagai arus dari hulu ke hilir yang dicercah sinar mentari dengan membawa hangat dan tenteram.

Mulan mungkin tidak ada di sini, tapi setiap kata yang ia berikan seolah menjadi panduan bagi setiap gerakan tanganku beberapa hari ini. Aku merasa berdiri di sini sebagai anak yang akhirnya memiliki martabat. Seperti yang diingatkan dan ditekankannya.

Melihat Bapak yang mulai berbincang santai dengan Rio soal teknik pengecatan, dan melihat Ibu yang mulai menyiapkan minuman untuk kami semua di dapur yang sebentar lagi sudah lebih tertata rapi, aku tahu bahwa ini adalah awal dari babak yang paling indah di rumah yang selama ini kutunggu-tunggu.

Rumah ini tidak lagi runtuh dan remuk oleh dengung kebisingan yang memutarinya. Ia sedang diperbaiki, diperkuat, dan diisi kembali dengan tawa yang selama ini hanya tersimpan di dalam memori.

Dan bagiku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku merasa benar-benar bahagia dapat pulang.

 

*****

 

Senin pagi menyergap tubuhku yang kini kaku setelah melakukan semua kegiatan renovasi yang berhasil. Udara yang melingkupi masih berbau cat dan hangatnya bahagia.

Namun, aku tampaknya salah karena terlalu menggebu dengan rasa bahagia yang ada. Karena itu hanyalah seperti permukaan riak air paling atas. Yang tampak tenang tapi menyimpan sesuatu yang tidak pasti soal kedalamannya.

Hari kemarin yang terasa hangat seperti pelukan, kini telah berubah drastis menjadi dingin yang menusuk tulang. Melebihi apa yang tersaji biasanya. Koper kami yang sudah rapi dan berjejer di ambang pintu depan, disambut dengan mata Rissa yang tampak bengkak.

"Mas Panca," panggil Rissa dengan suara yang datar, namun ada getaran di sana. "Mas Rio dan Mbak Sisil udah di depan, mau berangkat ke bandara."

Aku mengerjap, "Bukannya mereka berdua pesawat siang barengan sama Mas?" tanyaku dengan heran.

Kepala Rissa mengangguk sebentar, tapi ia tidak menjawab pertanyaanku barusan. Aku kemudian baru menyadari apa yang terjadi setelah susulan kalimat yang memekakan telinga tertangkap dari arah dapur.

Lihat selengkapnya