Sekembalinya aku ke Ibu Kota Jakarta, Tora, Ben, dan Redo menyambut dengan keriangan yang luar biasa. Mereka langsung menyeretku untuk melakukan agenda kumpul yang sudah sangat lama tidak kami lakukan. Tak ketinggalan, kami juga mengajak Bang Teddy, Bella, dan Bu Vika untuk ikut meramaikan suasana.
Meskipun terhitung baru di lingkaran kami, kehadiran Bu Vika langsung terasa begitu berarti. Ia menjadi tempat bersandar yang menenangkan bagi kami, jiwa-jiwa muda yang sedang belajar mendewasa di tengah riuh dan labilnya pikiran.
Mengawali percakapan lewat informasi yang Rio bagi via telepon, Bang Teddy membuka ruang bicara malam itu. Kata-kata meluncur padat dari setiap orang yang hadir, berpadu dengan kepulan tipis asap rokok Tora dan Ben, meliuk pelan bak penari yang gemulai menghibur mata. Aku hanya diam menyimak, meresap tiap wejangan ringan yang terucap sambil menyeruput es kopiku perlahan.
"Ca," panggil Bang Teddy, merobek bising di udara. Terdengar seperti dengung radio sumbang di telingaku, yang kini memilih menutup diri, enggan lagi menampung petuah.
"Kami beneran boleh lanjut bahas yang udah Rio ceritain?" tanya Bang Teddy dengan ragu setelah menyadari aku sedari tadi hanya terdiam. Ia sudah menggeser duduknya, menyerobot kursi dan meletakkannya di antara Ben dan Tora di hadapanku. Tatapan Bang Teddy tenang namun menghujam. Tipe tatapan seorang kakak yang tahu kapan harus berhenti melucu. "Bukan soal detail marahnya nyokap lu, tapi soal lu yang merasa kalah waktu cabut dari rumah."
Pandanganku terpaku pada permukaan gelas. Jemariku memutar sedotan, membiarkan butiran es beradu menciptakan denting sunyi, tanpa berniat membalas pertanyaannya.
"Panca," suara Bu Vika kini menyela. Lembut, tapi memiliki ketegasan yang membuat semua yang berada di meja kami seketika terdiam. Ia meletakkan tangannya di atas meja, di dekat tanganku yang sedang mengetuk permukaan meja dengan pelan. "Ibu mungkin bukan ibu kandungmu, tapi sebagai sesama perempuan, Ibu tahu kenapa ibumu bereaksi begitu. Itu bukan karena dia benci sama kamu, tapi karena takut kehilanganmu dengan cara yang sama dia kehilangan suaminya."
Aku mendongak, menatap wajah Bu Vika yang disorot pendar temaram lampu kuning di atas meja tempat kami duduk. "Tapi, Bu... caranya salah. Menghancurkan harga diri anaknya di depan tamu. Itu bukan cara seorang ibu."
"Memang," sahut Ben, sosok yang biasanya penuh canda kini telah beralih bicara dengan nada serius. "Tapi kadang, orang tua kita itu kayak bangunan tua yang fondasinya udah lapuk, Ca. Mereka nggak bisa diguncang sedikit pun karena mereka takut bakal ambruk. Lu datang sebagai renovasi, tapi buat mereka, renovasi itu ancaman."
"Dan lu, Ca…" sambung Tora sambil menunjukku dengan jemari yang diselipi sebatang rokok, "jangan terlalu ambisius mau jadi penghubung dan penyembuh. Lu mau memperbaiki rumah, memperbaiki hubungan nyokap bokap… tapi lu malah lupa satu hal. Kalau lu nggak punya stok emosi yang nggak terbatas."
Kalimat teman-temanku itu seketika menghujam dada, membuatnya kembali sesak. Bersamaan dengan itu, bayangan wajah keluargaku di rumah berkelebat pelan. "Jadi, gue harus gimana? Gue cuma mau menuruti keinginan mereka untuk pulang, bukan menjadi beban."
"Siapa bilang Mas Panca beban?" ucap Bella, yang sedari tadi diam sambil menggenggam ponselnya. Ia menatapku dengan sorot mata yang tajam namun penuh empati. "Mas itu jagonya bikin suasana selalu hidup dan orang lain terbantu dengan apa yang Mas lakukan. Tapi ingat, Mas juga tetap bisa merasa sakit, dan itu manusiawi. Sekarang yang perlu dilakukan adalah mengisi ulang kembali sebelum Mas melakukannya lagi."
Deg.
Ucapan Bella serupa bayangan kata-kata Mulan, bedanya ia tidak menyinggung soal endorfin. Bella hanya menegaskan aku adalah tumpuan bagi yang berbeban berat. Apakah esensiku memang demikian, atau itu sekadar mantera penenang? Keraguan itu kini mulai merayap dan mengaburkan pandanganku.
Bang Teddy terdengar menarik napas panjang, lalu menghelanya sambil menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. "Dengar, Ca. Tugas lu sekarang bukan memikirkan rumah, tapi memikirkan gimana caranya supaya lu nggak mati konyol karena depresi."
Meja kami mendadak hening. Kata-kata Bang Teddy barusan menampar realita yang selama ini kupaksakan untuk muncul ke permukaan. Aku ini memang bukan pahlawan yang bisa memikul beban satu keluarga di punggungku. Aku hanyalah manusia yang butuh sandaran. Barangkali untuk diriku sendiri terlebih dahulu.
"Gue nggak tahu harus bilang apa…" bisikku pelan, sambil berharap mereka mendengarnya agar aku tidak perlu mengulangnya kembali.
"Enggak perlu bilang apa-apa," Redo menepuk meja dengan keras, meminta semua orang dalam lingkaran meja kami agar memperhatikan. "Tugas lu malam ini cuma satu. Habiskan kopi lu, ketawa bareng kita, dan lupakan sejenak kalau di luar sana dunia lagi jahat sama lu. Besok kita pikirkan lagi, tapi malam ini, lu punya kita, lu bareng kita."
Bu Vika tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan seperti yang biasa diberikannya untukku. "Kadang, rumah itu bukan cuma tentang tembok yang dicat ulang. Rumah itu adalah di mana kamu merasa tidak perlu menjadi apa-apa selain tempat untuk bisa menjadi diri sendiri. Untuk malam ini, jadilah Panca yang apa adanya. Bersama kami, rumah keduamu yang bisa diharapkan."
Kupandangi mereka satu per satu, sahabat yang tahu cara menarikku dari jurang, serta saudara yang selalu ada untuk memeluk dan menguatkan. Sisa amarah di dadaku perlahan mencair, melebur ke dalam kehangatan yang baru. Ini bukan rumah tempat keluargaku bernaung, melainkan tempat teraman bagiku untuk kembali bernapas saat lelah mendera.
"Oke," kataku akhirnya, suaraku menjadi sedikit lebih stabil. Aku mengangkat gelas es kopiku. "Buat malam ini, gue cuma Panca. Terima kasih, semuanya."
Denting gelas beradu di udara, diangkat oleh tangan-tangan yang mengabarkan pada duniaku yang runtuh bahwa alasan untuk bertahan masih ada.
Tidak lama kemudian, keadaan berbalik dalam sekejap. Keriuhan yang sedari tadi tertahan oleh keseriusan perlahan runtuh saat Ben mulai mengeluarkan senjata andalannya. Cerita-cerita konyol tentang kegagalan kencannya minggu lalu.