Kehadiran Mulan selalu menumbuhkan takjub yang tak bertepi. Karenanya, pandangan pesimis tentang hidup yang selama ini kupegang erat harus rela kutarik kembali, kubiarkan tersimpan rapi di relung hati yang paling sunyi, menjelma pengingat yang bijak.
Pertemuan kami juga selalu menjadi ruang jeda yang ajaib, tempat di mana kutemukan makna hidup, dan kutata setiap pemberiannya menjadi kekuatan. Karena itu aku ingin sekali mengucapkan terima kasih, tetapi lidahku selalu lupa karena terlampau terpesona oleh keindahan dan kebaikan hatinya.
Malam itu, aku pulang ke kosan dengan kepala yang penuh. Tawaran Mulan soal posisi manajer CSR terus berputar di benakku seperti kaset rusak. Satu minggu waktu yang diberikan untukku mempertimbangkan dan lalu memberikan jawaban pasti. Selama tujuh hari aku harus memutuskan apakah siap mengemban identitas baru yang selama ini telah membelengguku, dan beralih menjadi profesional yang mengelola empati dalam kerangka sistem yang nyata.
Ibu tentu tak akan senang, karena pekerjaan ini bertolak belakang dengan keyakinannya bahwa menolong sesama justru mengundang sengsara. Bukankah itu pula yang memicu amarah hebatnya saat terakhir kami bertemu? Di sisi lain, keputusanku mengambil pekerjaan ini dan tak lagi membuang waktu semestinya bisa membuatnya lega, atau mungkin, sama sekali tidak?
Ketenangan kosan yang kuharapkan dapat membuatku berpikir jernih justru pecah bahkan sebelum aku sempat membasuh diri dengan air hangat di kamar mandi.
Ketukan pelan di pintu kamarku yang setengah terbuka membuyarkan lamunan. Teman kos lantai bawah berdiri di sana, mengabarkan ada seseorang yang menungguku di depan kosan. Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku bergegas turun. Tapi begitu wajah orang itu terlihat jelas di hadapanku, seketika darahku berdesir, tubuhku membeku, dan mataku terbelalak kaget.
Di depan pagar, tepat di bawah lampu temaram gang kosan, berdiri Eltha.
Kehadirannya selalu sanggup membuat detak jantungku berubah irama. Ingin loncat meninggalkan rongga dada dan rasanya tidak usah kembali saja. Jujur saja, aku malas sekali untuk menemui perempuan itu. Namun ia sudah terlihat berdiri di depan sana, menunggu sambil mengotak-atik ponselnya dengan gelisah, sementara beberapa barang bawaan tergeletak di samping kakinya.
"Panca," panggilnya begitu menyadari aku sudah berada di ambang pintu depan kosan. Suaranya masih sama, mengandung kelembutan dan sedikit manja, namun membuatku muak karena mengingatkan akan pengkhianatan yang dulu dilakukannya.
Sejenak aku tertegun, sebelum akhirnya mengendalikan diri untuk bertanya apa lagi yang diinginkannya. "Ada perlu apa?"
Eltha menyunggingkan senyum. Dulu mungkin itu senjata ampuh, tapi kini efeknya nol besar. Yang kuinginkan justru menendangnya pergi dari sini, sejauh-jauhnya, kalau bisa sampai ke ujung galaksi.
"Aku tahu kamu baru balik dari rumah. Tadi Tante Puspa sempat telepon aku, katanya kamu lagi banyak pikiran dan dia minta aku buat jagain kamu. Aku pikir… mungkin aku bisa bantu."
Mataku menyipit dengan curiga. Apakah ia lagi-lagi sedang melakukan pendekatan? Belum puaskah dengan penolakan dan rasa abai yang kuberikan? Namun aku juga langsung merasa bodoh sekali karena tidak sama sekali ingat untuk memberitahu Ibu bahwa sudah tidak lagi menjalin kasih dengan perempuan ini, dan karena itulah ia jadi menghubungi Eltha dan meminta bantuan darinya.
Apa katanya tadi? Untuk menjagaku? Apa tidak ada yang bisa lebih lucu lagi? Ibu yang meledak itu masih peduli? Seharusnya ia sendiri lebih memilih untuk meredam kalimatnya daripada malah berakhir dengan meminta bantuan orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dalam perkara rumah kami. Dan lagi orang yang paling kuharapkan tidak perlu untuk tahu, yaitu perempuan ini, akhirnya malah memilih untuk ikut campur.
"Bantu apa?" tanyaku singkat dan sedikit kasar. Kupasang wajah datar dan mengharapkan ia sadar untuk segera tahu diri, melenggang pergi menjauh dengan membawa sakit hati.
Namun kulitnya terlalu tebal, mungkin tak ada lagi rasa tahu diri dalam kamus hidupnya, Eltha malah melangkah mendekat, aroma parfumnya yang familiar memenuhi indra penciumanku. "Aku dengar soal keributan di rumahmu, Ca. Aku kenal baik ibumu, dan tahu sekali cara dia berpikir. Kalau kamu mau, aku bisa banget bantu tanpa harus memicu perang. Mungkin aku bisa menjadi penengah. Aku bisa buat Tante melunak."
Darahku berdesir dan bulu kudukku langsung meremang, seperti ada sosok gaib yang baru saja lewat. Tawaran itu bagaimana mungkin membuat aku malah mempertimbangkan, padahal beberapa detik lalu aku ingin sekali mendorong dan menendang perempuan ini dari hadapanku. Apakah ini benar-benar sesuatu yang sedang kubutuhkan? Seseorang yang bisa menjadi jembatan antara aku dan keluarga sekaligus seseorang yang mengenal peta emosi Ibu yang mungkin jauh lebih baik daripada diriku sendiri? Bila Eltha bisa memperbaiki hubungan itu, mungkin aku tidak perlu lagi merasa bersalah karena telah memilih pergi tanpa rasa tanggung jawab.
"Juga bantu kamu sama Rissa," tambah Eltha, matanya menatapku dengan penuh pengharapan, sembari menunggu jawaban yang akan kulontarkan.
"Kamu serius mau bantu?" tanyaku dengan suara sedikit parau. Langkahku beranjak dari ambang pintu hingga mataku kini sudah sejajar di depan Eltha.
"Aku selalu mau bantu kamu, Ca," jawab Eltha dengan tatapan yang menyiratkan harapan lama. "Aku sadar kalau aku punya banyak salah dulu, dan aku ingin menebusnya dengan memastikan keluargamu kembali utuh. Kita bisa kerja sama, kan?"
Aku masih terdiam, mataku bahkan tidak mengerjap karena lekat memandangnya. Kepalaku sedang bekerja sangat keras untuk mempertimbangkan tawaran ini. Di satu sisi, ada Mulan dengan tawaran masa depan yang logis, profesional, dan mandiri. Di sisi lain, ada Eltha dengan tawaran masa lalu yang emosional, personal, dan menggoda. Apakah nanti urusan ini tidak akan menjadi runyam dan malah membuatku kebingungan? Namun keduanya sungguh penting dan tidak boleh untuk diabaikan.
"Masuk dulu, Tha," kataku akhirnya, kutarik gerendel besi untuk membuka pagar kosan dan menggesernya ke samping untuk memberikan ia celah untuk lewat.
Eltha kemudian langsung menaiki tangga untuk menuju kamarku. Saat menyusulnya di belakang, bayangan Bapak yang menunduk lesu di meja makan kembali melintas, bersanding dengan bayangan Rissa yang lirih menangis di dapur rumah kami. Eltha mungkin ada benarnya kali ini. Setidaknya untuk saat ini. Jika ia bisa meredam amarah Ibu, mungkin aku bisa pulang dengan kepala tegak tanpa harus menjadi kambing hitam lagi.