Kamis datang, meluncur patah-patah bagai detak jam yang diputar paksa. Awan kelabu bergelayut tanpa niat beranjak, membiarkan sang raja langit menyoroti bumi tanpa sisa ampun.
Dua hari setelah pembicaraan di warung nasi goreng itu, aku akhirnya sudah memantapkan hati. Kususun strategi yang terbaik, yaitu memulai dengan menghubungi Mulan terlebih dahulu untuk menyatakan kesediaanku, dan kemudian dilanjutkan dengan menolak tawaran dari Eltha setelahnya. Dengan memikirkan langkah tersebut, aku merasa seperti orang yang baru saja menanggalkan baju zirah yang terlalu berat, kemudian siap untuk mulai melangkah ke dalam babak baru kehidupan.
Namun, alangkah lucunya semesta. Ia rupanya masih belum rela membiarkanu memilih sendiri apa yang kumau, selera humornya yang gelap menyeretku tanpa aba-aba. Aku merasa benar-benar perlu mengutuknya.
Dengan mulut yang masih dipenuhi bau asap rokok yang tidak terjeda kutarik dalam sedari berjam-jam tadi, aku baru saja duduk melahap sarapan sekaligus makan siangku, seporsi siomay berkuah kacang yang terlalu encer di pinggiran jalan dekat gang kosan. Saat suapan ketiga sedang meluncur menuju mulut, ponsel di saku celanaku bergetar panjang. Layarnya menampilkan nama Rissa. Aku segera mengangkat panggilan itu, berharap ini tentang kabar baik atau setidaknya kabar netral mengenai kondisi di rumah.
"Halo, Ris? Tumben, ada apa?" sapaku riang, seakan lupa pada keadaan kami terakhir kali.
Hening membentang sejenak di ujung sambungan. Aku bahkan dapat menangkap desau angin yang berbisik lirih, tanda bahwa Rissa tengah menepi di suatu tempat yang jauh dari hiruk-pikuk, tempat pelarian favorit orang saat dunia luar terlalu bising untuk ditanggung sendiri.
"Mas Panca," suaranya lembut, hampir seperti bisikan. Begitu tenang, begitu jernih, hingga membuatku merasa bersalah karena telah berlaku menyebalkan padanya di saat terakhir kali kami bertemu. "Tadi Kak Eltha telepon, dan dia cerita banyak. Katanya dia mau bantu kita, bantu Mas juga buat bicara sama Ibu."
Kupejamkan rapat mataku seraya merutuk dalam hati, menyesali Eltha yang bergerak lebih cepat dari perkiraanku. Niatku untuk membatalkan semua rencana kini telah kandas. "Ris, dengarkan Mas. Mas minta maaf buat situasi kita."
"Aku mengerti, Mas," sahut Rissa. Masih dengan nada yang sama. Tenang, penuh pengertian yang justru membuatku merasa terpojok.
Aku meletakkan piring siomay yang sedari tadi kupegang di ujung gerobak agar dapat lebih leluasa berbincang di telepon. Kemudian kuembuskan napas sebagai tanda lega. Syukurlah, adikku satu-satunya ini masih mau mengerti keadaan kami dengan dewasa. "Makasih Ris, udah mau mengerti. Mas cuma mau kita semua baik-baik aja."
Obrolan lalu berlanjut membahas momen di saat aku pergi dari rumah waktu itu dan Rissa menjadi penengah antara Ibu dan Bapak. Rupanya ketegangan sempat memuncak lagi berdasarkan cerita dari Rissa. Saat itu Ibu merampas semua uang yang ada di dompet Bapak, takut kalau harta yang tidak seberapa itu akan benar-benar suaminya relakan untuk diberikan pada orang lain di luar keluarga. Namun yang sangat tidak terduga adalah bahwa Rissa kemudian merebut uang itu dari Ibu dengan spontan. Ibu yang kaget dan tidak menyangka lalu memekik dengan nyaring, mulai menyalahkan suaminya yang menjadi penyebab dari semua kekacauan ini. Menyebabkan kami berdua, anak-anaknya mencontoh menjadi pembangkang orang tua dan beralih menjadi cetakan yang hampir presisi seperti dirinya.
Rissa menutupnya dengan satu kalimat yang membuat jantungku mencelos, merosot jatuh ke dasar perut. Aku tak pernah menduga insiden itu akan meledak sehebat ini. Bayangkan saat Rissa balik membentak Ibu dengan suara yang jauh lebih nyaring, terseret arus amarah demi melunasi kekesalan yang tertahan selama bertahun-tahun.
Suara Rissa di telepon bukan lagi berupa kalimat tenang, melainkan raungan yang penuh dengan pecahan kaca emosi. "Aku teriak di depan muka Ibu. Aku bilang ke dia, kalau dia bukan cuma lagi bunuh Bapak, dia lagi bunuh masa depanku, dia lagi bunuh kewarasan kita semua. Aku lempar vas bunga kesayangan dia ke tembok, Mas. Aku hancurkan semua pajangan yang selalu dia agung-agungkan dan rawat dengan teliti sampai pecah berkeping-keping, persis seperti yang dilakukannya ke kita."
Aku terdiam, terpaku di tepi jalan. Tanganku refleks mencengkeram gerobak siomay demi menopang tubuh yang mendadak limbung. Seketika, dunia berhenti berputar. Jejak rasa kuah kacang yang baru saja tertelan, berubah pahit bagai serpihan kerikil yang meremukkan tenggorokan.
"Bapak cuma diam, Mas. Dia cuma berdiri di sudut ruangan, gemetaran, menatapku dengan mata yang udah mati. Dan Ibu? Dia malah tertawa! Dia tertawa histeris, menunjuk-nunjuk dan bilang kalau aku adalah produk gagal dari rahimnya." Rissa sudah berubah terisak, isak tangis yang terdengar seperti deru mesin yang rusak. "Mas tahu apa yang paling gila? Waktu aku lari keluar, Ibu malah teriak, “Pergilah! Ikuti masmu yang pengecut dan nggak berguna! Kalian semua sampah yang nggak tahu cara balas budi!"
Ucapan itu meluncur bagai belati bermata runcing yang merobek rongga dadaku.
"Mas," panggil Rissa dengan suara bergetar, menyisakan hawa dingin yang merayap tajam.
"Kenapa kamu melakukan itu, Ris?" tanyaku. Ada yang mengganjal di hatiku, mendesakku untuk mencari tahu alasan di balik tindakan Rissa kepada Ibu.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, tetapi keheningan itu justru menghantamku begitu keras. Sunyi itu merayap, meremukkan hatiku, dan memutar kembali rekaman kejadian di rumah kami dengan begitu tajam di dalam kepala.
"Aku udah capek! Mas pun sibuk untuk jadi pahlawan buat orang lain. Sejujurnya itu nggak buruk, tapi dengan selalu mengikuti kata hati yang muncul detik itu juga, Mas malah mengabaikan kenyataan yang ada dan sedang berjalan di depan mata. Sekarang Mas udah nggak perlu pulang ke rumah dan lihat Bapak sama Ibu. Mereka udah benar-benar hancur dan udah nggak saling kenal! Mas sibuk mengurus hidup orang lain supaya bisa merasa berguna dan supaya bisa merasa hidup lebih berharga, tapi Mas malah jadi lupa, ada adik Mas yang hampir gila sendirian menghadapi rumah seperti neraka dunia!"
Kata-kata Rissa membuat telingaku berdengung panas, disusul pandangan yang mendadak berkunang-kunang. Dada ini mendadak sesak, dihantam sesuatu yang mendesak naik dari dalam. Nyaris saja aku ambruk di sisi gerobak siomay, kalau saja aku tidak mengerahkan sisa tenagaku untuk berdiri. Air mata di pelupuk kini memberontak, nyaris menumpahkan sisa pertahanan yang kumiliki.
"Ris, tolong… Mas akan pulang, Mas akan membereskan ini."