Kereta ekonomi melaju membelah sore yang tenang, membawa seonggok tubuh yang baru saja dilahirkan kembali dari ledakan atom batinnya sendiri. Ular besi ini berkelibatan, mengabaikan segala hal yang tak lagi sanggup kulihat, pun tak lagi perlu kucari. Lagi pula, menoleh ke belakang tak akan mengubah apa pun. Kini rasanya jauh lebih melegakan karena aku yakin sedang melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Di bangku yang tegak dan keras, punggungku mulai terasa nyeri. Aku duduk dalam diam, sesuatu yang kini lebih sering kupilih. Pelajaran dari sang waktu benar-benar telah melumatku. Sekarang aku berusaha hidup dengan lebih penuh perhitungan, sembari perlahan menanggalkan jubah kemanusiaan palsu yang selama ini kukenakan. Pipi kiriku yang sempat ditampar oleh sosok yang kukagumi masih menyisakan sedikit rasa kebas, sebuah pengingat pasti bahwa realita yang ada dan tersedia di depan tidak pernah peduli pada niat baik yang tidak disertai nyali.
Semarang menyambutku dengan embusan angin pesisir yang membawa aroma garam dan sisa lumpur. Aku tidak datang ke sini untuk mencari pelarian. Namun aku datang untuk belajar tentang bagaimana caranya tetap tegak ketika hal yang kuinginkan, secara harfiah dan metaforis, telah tenggelam ditelan deras arus yang tidak dapat kunamai dan lihat dengan cara yang biasa.
Di sebuah rumah sederhana yang sempat menjadi tempat singgah penuh kedamaian, tempat ternyaman yang kusebut rumah kedua, aku menemukan mereka: Rio, Sisil, dan Ibu Dinar. Mereka adalah saksi yang melihat dan memahami setiap jengkal rasa yang singgah di hatiku, dalam sunyi maupun riuhnya.
Ibu Dinar menyambutku dengan langkah pelan dan senyum simpul, tetapi tatapannya menyiratkan kedalaman yang meredam jiwaku yang masih muda. Begitu melangkahkan kaki melewati ambang pintu, ratapan yang dulu mengisi rumah ini telah lenyap, berganti ketegaran dan keberanian menyongsong hari depan.
"Masuk, Nak Panca. Anggap rumah sendiri dan jangan pernah sungkan selama berada di sini," ujar Ibu Dinar sambil memindahkan cangkir teh dari baki yang dibawa Sisil ke atas meja. Ia tak perlu menanyakan kabarku, karena kondisiku sudah terlampau kasatmata bagi siapa pun. Barangkali, di balik usianya yang lewat setengah abad, ia telanjur membaca lelah di bahuku yang terkulai, lalu memelukku lewat tatapan yang sarat pengertian.
"Aku lagi kangen suasana rumah, Bu," suaraku serak, "dan rumah ini rasanya cocok untuk menyembuhkan kangennya. Karena ada Ibu, Rio, Sisil, juga Arta dan Riko."
Sisil yang duduk di sebelah Ibu Dinar menatapku sekilas sambil tersenyum tulus. Sementara itu, Rio belum pulang; ia masih berjuang di luar dengan pekerjaan barunya, bangkit menata ulang hidupnya.
"Rumah Ibu yang sederhana ini selalu terbuka untuk orang seperti Nak Panca," ujar Ibu Dinar tenang, mencoba menggeser cangkir teh hangatnya lebih mendekatiku sebagai kode untukku segera menyesapnya sebelum kehangatan benar-benar hilang dan kemudian meninggalkan dingin. "Kamu itu orang baik, jadi ke mana pun kamu pergi, orang-orang pasti bisa menerimanya. Sekalipun ada cerita yang berliku atau kelokan yang salah, orang-orang akan tetap mengerti karena ketulusanmu terpancar nyata.”
Kata-kata itu menembus sukmaku. Menghangatkan tepat di tengah dada, ia menjalar masuk tanpa permisi atau meminta dengan sopan.
"Hanya satu kuncinya, Nak Panca. Belajarlah ikhlas melepaskan. Jangan terlalu erat menggenggam, sebab tanganmu sendiri yang akan terluka, lalu rasa sakit itu bisa menjalar dan membuat seluruh dirimu ikut menderita." Ibu Dinar menatapku lekat, tepat di manik mata.
Kulihat binar kasih yang tulus dari seorang ibu. Ia menjelma bayang-bayang ibuku di masa silam, sosok hangat yang kurindukan, yang perlahan memudar dan hampir tak lagi kutemukan.
"Banyak orang salah paham soal niat baik, Ca," kata Sisil menambahkan. Pandanganku beralih kepadanya. Sama seperti ibunya, manik matanya menyala dan berbinar. "Tapi jadi orang baik nggak akan pernah salah."
Sore hari yang tenang memeluk, ditemani cangkir hangat yang kembali terisi. Sembari itu, aku merenung.
Batin yang sempat runtuh, yang tadinya serupa ledakan waktu, kini perlahan menemukan bentuknya. Ia tak lagi menjelma ragu yang abadi, melainkan mulai merajut kepastian.
Bayang-bayang Rissa dan Ibu kembali hadir, membawa serta ingatan tentang keluhan mereka pada setiap retakan. Barangkali, syarat mutlaknya kini bukan lagi sibuk menambal masa lalu, melainkan memberanikan diri dalam memulai kembali tanpa perlu mengungkit atau membandingkan. Itulah niat baik yang sesungguhnya: ketulusan untuk melepaskan, sekaligus langkah awal yang senantiasa lurus untuk dituju.
"Panca," panggil suara yang amat kukenal, menyadarkanku dari lamunan. "Baru sampai lu?"
Kulihat Rio sedang berdiri di ambang pintu depan sambil menggandeng Arta dan Riko yang menggelayut manja di kedua sisinya. Begitu aku berdiri menyambut mereka dengan senyuman lebar, kedua anak itu langsung menghambur ke pelukanku. Ternyata mereka baru saja pulang dari tempat les, dan sekalian dijemput oleh ayahnya.
"Om nginap, ya? Lama, kan? Biar bisa main lego dan robot-robotan lagi," desak Arta dengan mata berbinar.
Sambil berjongkok untuk menyetarakan tinggi dengan Arta dan Riko, kupeluk tubuh mereka penuh kasih. Kedua anak itu membalas dengan mendekap leherku erat. Saat itulah kurasakan satu gelombang hangat, inilah kebaikan yang murni. Tanpa rencana rumit yang menuntut harap, tanpa hitung-hitungan demi sebuah pengakuan. Yang ada hanya ketulusan dari sebuah kehadiran. Aku menatap Rio, lalu beralih ke Sisil yang tersenyum lembut melihatku memeluk kedua anaknya.
"Iya dong, jagoan. Om nginap beberapa hari. Boleh, ya?" tanyaku sambil mengusap puncak kepala mereka.
Keduanya mengangguk serempak, lalu melepas senyum lebar yang lekas kubalas hingga seluas-luasnya, bahkan sampai memperlihatkan deretan gusi.
Ibu Dinar bangkit berdiri dengan bantuan tongkatnya, lalu berjalan mendekati kami dan menepuk bahuku lembut. "Hadir untuk orang lain adalah cara menolong yang paling tulus. Tanpa perlu alasan lain yang rumit, itu sudah menjadi kemenangan terbesar dalam hidup ini, Nak."
Setelah momen itu selesai, kami bersiap untuk makan malam. Sisil dan Ibu Dinar menyiapkan makanan di dapur, sementara aku dan Rio menata meja makan. Di dekat kami, Arta dan Riko berlari kecil sambil bersenandung riang, membawa tawa yang melebur dalam kehangatan keluarga mereka.