ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #22

BAB 22: Racun dan Suntikan Mematikan

Udara di ruang tamu rumahku tiba-tiba terasa seperti sedang divakum, tekanannya sedang berada di bawah normal. Aku baru saja akan melangkah masuk bersama Bapak, Ben, dan Redo sehabis keluar menghirup udara segar, sekaligus berjalan-jalan menikmati kehangatan kopi di taman sambil diselingi obrolan santai. Tepat ketika daun telingaku menangkap suara itu. Halus, berbisa, dan penuh dengan racun yang dibungkus kalimat sanjungan.

"Tante benar-benar luar biasa, lho," suara Eltha terdengar dari dalam ruang duduk keluargaku. "Aku aja kagum Tante masih bisa sabar menghadapi Om yang pendiam dan nggak punya inisiatif begitu. Padahal kalau jadi Tante, udah dari lama aku cari orang lain yang lebih bisa diandalkan. Tapi Tante memang terlalu baik, terlalu mulia sebagai seorang wanita."

Langkahku berhenti seketika, telapakku rasanya bagai di-lem erat dengan lantai. Ben dan Redo di belakangku ikut membeku. Dan Bapak tertinggal beberapa langkah di belakang kami, mematung dengan ekspresi wajah yang tidak menunjukkan emosi sama sekali terhadap kata-kata jelek tersebut.

"Lagipula, Tan," lanjut Eltha dengan nada yang sengaja direndahkan seolah sedang berbagi sebuah rahasia besar, "itu perempuan yang kubilang lagi coba mendekati Panca sekarang, si Mulan itu… hati-hati deh kalau nanti dia datang berkunjung ke sini. Aku dengar dia mengiming-imingi Panca dengan tawaran kerja bagus biar bisa menempel terus. Semacam benalu gitu. Tipe yang suka menggoda pria dengan janji-janji manis, padahal cuma mau memanfaatkan status Panca sebagai orang yang gampang iba. Oh ya, dia juga yang sering Panca tanyakan soal keputusan untuk masalah keluarga, lho. Aku enggak bohong… aku sendiri yang lihat pas enggak sengaja bertemu Panca di jalan dan akhirnya membuntuti karena penasaran, buat sekalian kuinformasikan sesuai permintaan Tante. Intinya si Mulan itu yang buat Panca makin menjauh dari rumah dengan solusinya yang mengada-ada."

Darahku rasanya tidak sekadar mengalir lagi, melainkan berdesir lalu ingin meletup bagai lava yang menyembur dari perut gunung berapi.

Ternyata, Eltha sempat membuntutiku saat aku menemui Mulan. Ia tidak hanya mencari tahu tentang Mulan, tetapi juga dengan lihainya memelintir fakta dan merangkai kebohongan untuk diadukan kepada Ibu. Namun, yang paling membuatku terpukul adalah kenyataan bahwa Ibu sendiri yang sengaja meminta Eltha untuk memata-matai dan melaporkan setiap gerak-gerikku selama di Jakarta.

Kuingat kembali kalimat Mulan yang bergaung dalam celah hatiku. Bahwa aku adalah endorfin si pembawa damai, si penawar rasa sakit, dan mungkin juga si bodoh yang selalu mengira bahwa dengan bersikap baik hati bisa mengubah karakter busuk seseorang. Kudapati gambaran diriku yang selalu memaafkan karena takut kehilangan harmoni kehidupan.

Membayangkan senyum palsu Eltha dan mendengar bualannya yang memuakkan, aku pun tersadar. Ia sedang menebar benih kebencian di tanah rumah kami yang sudah gersang. Aku tak bisa diam, harus kucangkul semua kepalsuan itu. Sebab bila membiarkan kedamaian dibangun di atas kebohongan, tak ubahnya seperti menggali lubang kubur bagi diri sendiri.

Telapak kakiku yang kini bebas mulai melangkah dengan mantap, memecah kesunyian disertai dengan dinginnya lantai yang merambat naik hingga ke nadi. Dingin yang membuat tekadku semakin keras dan bulat membeku, menandakan keputusan yang tidak akan berubah lagi dalam menghadapi ujian di depan sana.

Eltha sontak menoleh begitu melihatku melenggang masuk, wajahnya menampakkan keterkejutan yang luar biasa. Senyumnya yang manis langsung memudar, tapi topengnya masih utuh, belum sama sekali retak. Dengan cepat ia mengendalikan ekspresinya di depan kami semua.

"Eh, Panca, kamu udah pulang? Kebetulan aku juga baru sampai hari ini dan langsung menemui Tante. Waktu sampai, Tante bilang kalau ada koper kamu dan kayaknya kamu juga lagi pulang. Sekarang aku lagi bantu Tante supaya..."

"Keluar!"

Satu kata yang kuberikan untuk perempuan bermulut berbisa itu. Dingin, mutlak, dan tanpa getaran.

Ibu menolehkan wajahnya padaku. Memberiku sebuah tatapan tajam dan siap untuk meledak. "Panca! Jaga mulutmu! Eltha ini lagi bicara baik-baik, dia peduli pada rumah ini, nggak seperti kamu yang..."

"Aku bilang keluar, Eltha!" ulangku kembali tanpa melirik Ibu. Tatapanku terkunci pada Eltha, diam tak bergeming. Keinginanku sudah mutlak, yaitu menjadi penantang yang siap menghancurkan siapa saja yang berniat memanjat tembok lewat jalan yang kotor.

Eltha tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana dengan manipulasi klasiknya. "Ca, kamu kenapa? Aku cuma mau bantu kamu menata rumah ini lagi, seperti yang udah kujanjikan waktu itu. Tante aja mengerti kalau..."

"Aku nggak butuh bantuan dari orang yang berencana membangun kebahagiaan di atas kehancuran orang lain." Kakiku melangkah maju, memangkas jarak kami hingga Eltha harus mendongak untuk melihat mataku. "Kamu memuji Ibu untuk merendahkan bapakku, dan kamu memfitnah Mulan untuk memutus satu-satunya orang yang membantuku sadar. Kamulah benalunya, yang sudah dari lama harusnya kusingkirkan. Jangan berlagak menjadi penengah lagi, kamu cuma gangguan."

"Panca, kamu kasar sekali!" Ibu memekik, melompat berdiri dari duduknya.

"Bu," potongku seketika dengan nada yang membuatnya terdiam. Nada pria dewasa yang sudah tidak bisa lagi dikendalikan dengan teriakan. "Ibu merasa superior karena merasa didengar oleh Eltha? Ibu nggak sadar kalau Ibu sedang ditertawakan di belakang? Eltha nggak peduli sama Ibu. Dia hanya butuh rumah ini tetap menjadi medan perang supaya punya alasan untuk tetap hadir mengendalikan hidupku, dan hidup kita di dalamnya."

Eltha ikut berdiri, bibirnya memutih karena menahan amarah dan tubuhnya mulai gemetar. Wajahnya yang berusaha sedari tadi dipasang dengan anggun kini telah berubah merah karena merasa dipermalukan. Ia menatap sosok orang tua lain di ruangan ini, mencoba mencari pembelaan pada Bapak. Tapi Bapak hanya berdiri diam tanpa melihatnya sama sekali, ia menatapku dengan sorot mata yang penuh kelegaan. Karena akhirnya, anaknya tidak lagi menerima sesuatu yang salah dengan kerelaan, dan memperjuangkan apa yang sejatinya benar harus dilakukan.

"Aku akan hitung sampai tiga," kataku dengan suara yang rendah, seperti suara mesin yang menderu kencang di ambang batas. "Satu."

"Panca, jangan begini..." bisik Eltha, suaranya kini melengking ketakutan.

"Dua." Ben dan Redo melangkah maju. Kehadiran mereka seolah memagari bentengku dan menjadikannya lebih kukuh untuk tidak mudah diterobos oleh tindakan musuh yang masif.

Lihat selengkapnya