Hari-hari berjalan layaknya roda yang terus melaju. Di balik lelah dan tenang yang silih berganti, hadir kekuatan baru yang membuat hidup terasa semakin ramah. Aku perlu terus memegang teguh keyakinan ini, menjaga agar tumpukan beban tak runtuh dan merusak segalanya.
Bicara soal rumah, ia bukan sekadar tempat pulang yang hangat. Ia bisa lahir dari sorot lampu interogasi yang tajam tanpa ampun. Di rumahku, hal semacam itu sudah biasa. Aku lelah berlari dari ketakutan yang terus mengejar. Kini aku berhenti menghindar, kubiarkan tempat ini berubah menjadi arena tinju yang sebenarnya.
Ibuku, yang selama ini menganggap Eltha sebagai calon menantu ideal, yang bisa membersamainya dalam mengendalikan untuk melawan dunia, kini tidak bisa menerima kenyataan bahwa bidak caturnya telah terusir. Cerita mengenai kepergian Eltha dan gabungan dari kisah pengusiran malam sebelumnya, berpadu bersama dan menuntut untuk dibahas kembali.
"Kamu pikir kamu siapa, Panca?!" teriak Ibu dari balik meja dapur, suaranya pecah oleh kemarahan yang sudah bertahun-tahun terpendam. "Eltha itu satu-satunya orang yang peduli sama keluarga ini. Dan kamu mengusirnya, kamu merendahkan dia, juga kamu bawa teman-teman berandalmu ini bertemu kami di sini untuk mengajari tentang apa? Tentang menjadi perusak yang lebih menghancurkan, hah?"
Meledaknya Ibu semakin hari semakin parah, dan kurasa bahwa ia sudah terjebak oleh itu, seolah amarah adalah endorfin yang membuatnya merasa tercukupi. Membuatnya kecanduan tanpa sadar.
Aku duduk tegak, diikuti oleh Ben dan Redo. Raungan Ibu sudah kuwanti-wanti pada kedua sahabatku sebelumnya, sehingga kini mereka tak lagi kaget atau gentar saat mendengarnya. Kami telah menetapkan sebuah batas tak terucap, bahwa kami akan saling menopang, dengan mendapatkan restu ataupun tidak kami tetap akan melaju.
"Bu, Eltha itu nggak peduli pada keluarga ini. Dia cuma peduli pada betapa mudahnya bisa memegang kendali atas emosi Ibu," jawabku tenang, berusaha mengatur agar setiap kata terasa seperti pelukan yang menghangatkan dinginnya tatapan dan tindakan ibuku. "Dan tentang kerusakan yang sedang Ibu bahas, itu ada karena Ibu selalu memupuk kecurigaan dan kebencian perlahan tanpa sadar. Jangan seperti itu lagi, Bu. Jangan selalu berusaha menjadi yang terbaik, tapi jadilah manusia yang cukup. Itu yang akan membuat rumah jadi nggak terasa sesak."
Aku akhirnya memberanikan diri membagikan pelajaran dari rumah keduaku untuk merangkul keluargaku sendiri. Bukan untuk menggurui, tapi agar kami tersadar sebelum penyesalan tiba, karena dengan terus bungkam hanya akan semakin menjauhkan.
"Jangan kurang ajar, Panca!" Ibu menggebrak meja dengan kedua tangannya, wajahnya memerah padam. "Kamu belum makan asam garam hidup. Kamu anak yang cuma tahu pergi dan membuang waktu. Sekarang kamu berani menggurui orang yang sudah melahirkan dan membesarkanmu dengan keringat darah?!"
Bentakan itu tak lagi mengusikku karena aku sudah terbiasa dan merasa kebal. Namun, saat titik didih itu tiba, aku tahu aku harus bergerak untuk meredam panasnya sebelum api itu membakar tanpa ampun. Tepat saat aku mulai membuka mulut untuk melawan, Bapak lebih dulu mendahului dengan suaranya.
Selama puluhan tahun, Bapak adalah sebuah peredam gempa yang terus-menerus tertekan hingga hampir retak. Ia selalu membiarkan Ibu berteriak, membiarkan istrinya menjadi penguasa narasi agar rumah tidak benar-benar hancur. Namun inilah waktu bagi peredam itu untuk mencapai batas elastisitasnya.
Bapak membanting cangkir keramiknya yang tebal dan berat ke atas meja kayu dengan dentuman yang menghentikan napas Ibu. Suaranya tidak keras, namun getarannya memenuhi setiap sudut ruangan, mengguncang apa pun yang selama ini berbau busuk.
"Cukup, Puspa!" teriak Bapak. Kata itu bukan teriakan kemarahan yang kalap, itu adalah raungan seorang lelaki yang sedang merebut kembali kedaulatannya.
Ibu terdiam, matanya membelalak kaget. Bibirnya kelihatan mulai memutih pucat. Ia mungkin belum pernah mendengar suaminya berbicara dengan otoritas sebesar itu.
"Kamu sudah terlalu lama menguasai napas dalam rumah ini, dan lihat hasilnya sekarang!" Bapak meletakkan jarinya menggantung di udara tepat menunjuk ke arah hidung Ibu tanpa rasa takut sedikit pun. "Anak-anak kita memilih pergi karena nggak bisa bernapas di rumah ini! Aku diam selama ini bukan karena takut sama kamu, tapi karena terlalu pengecut untuk mengakui kalau kita sudah gagal jadi orang tua sejak lama!"
"Oh, jadi sekarang kamu mau menyalahkan aku?!" Ibu berteriak balik, namun suaranya goyah dan tidak setegar pertama kali saat ia berteriak tadi. "Kamu yang nggak bisa memimpin! Kamu yang selalu diam saat aku harus berjuang!"
"Aku diam karena capek jadi korban dari imajinasi kamu yang sakit!" Bapak memotong, suaranya naik menjadi serupa amukan badai. "Kamu memuja Eltha karena dia mau memuji kamu dan menjelek-jelekkan suamimu ini. Kamu senang punya sekutu untuk menginjak-injak harga diriku di depan anak sendiri! Apakah itu rumah yang kamu inginkan? Rumah yang isinya cuma persekongkolan untuk menjatuhkan satu sama lain?!"
Pertengkaran itu meledak dahsyat dan meremukkan kedalaman dada. Perasaan sesak itu melesak kembali dan tanganku sontak memegang dada yang sekarang terasa mengempis karena kehilangan pasokan oksigen di rongganya. Kelebatan kejadian yang selama ini membuatku kewalahan dan beranak-pinak tak terkendali kembali melintas bagai potongan lama yang dipersingkat dalam beberapa detik, membuat tenggorokanku tercekat hingga detik berikutnya jemariku sudah naik memegangnya untuk menenangkan dan mencoba mengusir rasa itu.