ENDORFIN

Aga Lesmana
Chapter #24

BAB 24: Benak Kebaikan yang Bukan Hiasan

Beberapa hari setelah malam di mana keluarga kami memeluk kehancuran dengan lapang, rumah ini masih tetap sama. Sisa-sisa diam mengental lekat di sudut-sudut ruangan, di antara perabotan yang tidak lagi terlihat seperti sekadar benda mati. Kadang terlihat bergerak meliuk, menari dengan anggun untuk merayakan sedikit bahagia bagi ketenangan kami.

Selepas mandi pagi, aku menyulut sebatang rokok untuk mengusir dinginnya air yang membuat tubuhku menggigil, sembari bersantai menikmati waktu karena masih belum punya kegiatan apa pun untuk dilakukan. Semua orang sudah kembali pada rutinitas mereka di ibu kota sana. Dan sambil memijat tengkuk untuk mengeluarkan angin dari dalam tubuh, kuperhatikan bahwa seseorang muncul dari dalam taksi yang baru saja tiba, berhenti di depan halaman.

Mataku mengerjap tiga kali untuk memastikan bahwa sosok yang sedang kulihat memang benar adalah perempuan yang kerap menguncir kuda rambutnya. Sosok yang selalu kudamba untuk mengusir sepi, mengubah hari-hariku yang kelam dan membosankan menjadi berwarna ceria serta bermakna.

Perempuan yang berdiri dengan senyuman lebar dan wajah teduh itu benar-benar Mulan. Ia datang tanpa rencana, tanpa secarik undangan. Kuduga ia mendapat alamat ini dari satu-satunya orang yang ia kenal di lingkaran pertemananku, pasti dari Sisil. Dan tebakanku itu terbukti benar, ia menginformasikan persis setelah kupersilakan masuk dan duduk di kursi teras.

Kabar mengenai kondisi keluargaku ternyata sudah sampai ke telinga Mulan. Namun, kedatangannya bukan sekadar untuk memberi selamat atas keutuhan kami, ia membawa tujuan yang lebih besar. Mulan datang untuk meminta izin langsung kepada orang tuaku terkait dengan tawarannya. Ia mengaku siap menerima apa pun keputusan yang mereka ambil. Langkah beraninya sedikit menenangkanku, karena jika aku sendiri masih ragu memulai komunikasi atau menghadapi situasi sulit yang dipikul sendirian, biarlah ia yang maju mengambil alih.

Dukungan emosionalnya itu juga membuatku agak malu. Sebagai lelaki, aku gagal memberinya kepastian. Saat terakhir kali kami bertemu, aku justru lebih mementingkan ego serta beban di pundak, membiarkan hubungan kami mengambang dalam ketidakjelasan. Kusadari bahwa apa yang kulakukan bukanlah sebuah jawaban, melainkan cara yang tidak bertanggung jawab dalam menggantung perasaannya, memaksanya menunggu dalam tanya yang tidak berkesudahan.

Di hadapanku, Mulan berkata bahwa ia sangat mengerti dilema yang kualami. Siapa pun pasti akan merasa bimbang bila berada di posisi itu, sebab fase tersulit bukan hanya saat ledakan itu terjadi, melainkan juga keheningan yang tersisa setelahnya.

Pagi menjelang siang itu, kupanggil Ibu yang sedang menikmati hari liburnya sejenak. Kebetulan sekali ini adalah kunjungan dari orang yang menjadi topik murkanya beberapa waktu lalu. Entah apakah sudah tepat dan tidak akan terlalu mengkhawatirkan bila mereka bertemu sekarang? Aku hanya dapat berharap yang terbaik untuk saat ini. Toh, waktu yang tepat tidak akan datang selama kita sibuk mencari kesempurnaan, tanpa berani membiarkan hidup berjalan apa adanya.

Mulan menyalami tangan Ibu dengan takzim. Tidak ada senyum yang merekah dari Ibu, ia hanya menjawab dengan singkat, meminta Mulan menunggu sebentar karena ia akan menyiapkan minuman untuk menemani obrolan kami.

Bapak yang siap berangkat untuk mengurus sedikit pekerjaan memilih menunda sebentar demi menemui Mulan, perempuan yang ia tahu mengisi sebagian besar hati putranya belakangan ini. Ia memberikan senyum lebar yang sudah lama tak terlihat, dan Mulan adalah orang pertama yang mendapatkannya. Hatiku mengembang, merasa telah mendapat restu meski hubungan kami belum pasti akan ke mana arahnya.

Kami bertiga menghabiskan waktu dalam obrolan ringan sambil menanti Ibu datang membawa jamuan, sebelum akhirnya percakapan bergeser pada niat utama Mulan datang.

"Nak Mulan, sudah lama jadi sukarelawan?" Bapak bertanya, terlihat kagum. Barangkali ia takjub bahwa perempuan muda seperti Mulan mau mendedikasikan waktu serta tenaga untuk membawa perubahan nyata bagi sesama, menjadi tangan kebaikan dunia. Atau mungkin, ingin tahu lebih banyak bagaimana isi kepala Mulan bekerja.

"Sebenarnya udah dimulai dari masa perkuliahan, Om, dan berlanjut sampai sekarang. Membantu orang lain memberikan kebahagiaan tersendiri… membuat hidupku jauh lebih berarti," jawab Mulan sambil melemparkan senyum manis.

"Berbuat kebaikan itu selalu benar, kan? Jadi orang baik nggak akan pernah salah, kan?" tanyaku beruntun pada Mulan. Ia kemudian membalasnya dengan anggukan kepala yang mantap.

Setelah itu Ibu datang dengan baki yang di atasnya sudah terdapat empat cangkir teh hangat. Diletakkannya di atas meja, dan ia mempersilakan kami untuk menikmatinya.

"Mulan datang bukan buat Panca, tapi buat ketemu Ibu dan Bapak," ujarku memulai pembicaraan setelah Mulan menyesap tehnya sejenak.

"Oh ya, ada apa, Nak Mulan?" Bapak bertanya dengan wajah yang semringah. Sedangkan Ibu belum berkata apa pun, hanya menaikkan alis dan memberikan raut wajah penuh tanya.

"Ini tentang  Mas Panca dan kebaikannya." Mulan memulai.

Kemudian baris demi baris kalimat meluncur perlahan, pilihan kata dan intonasinya teratur, sangat jelas, juga mudah dipahami. Mulan memulai dari awal bencana Sayung, perihal bantuanku pada keluarga Rio yang diceritakan Ibu Dinar pascaevakuasi di posko, hingga keberanianku terjun ke medan laga untuk mengurus bantuan bencana. Tidak lupa juga ia menjelaskan soal pengorbanan pekerjaan impian yang selama ini kupertahankan demi rasa kemanusiaan, lalu ditutupnya dengan penjelasan soal endorfin.

Lihat selengkapnya