Sore itu taman kota dipenuhi gema tawa anak-anak, suara pedagang kaki lima, dan desau angin yang membawa aroma tanah kering. Kami menggelar tikar di bawah naungan pohon trembesi yang rindang. Di tengah kami terhampar nasi bungkus, gorengan, dan teh dalam botol plastik. Pemandangan yang sangatlah biasa, namun bagi kami yang sedang duduk bersama, ini adalah sebuah kemewahan yang mustahil terjadi di perjalanan waktu beberapa bulan yang lalu.
Ben dan Redo, yang biasanya punya sejuta lelucon, kali ini memilih untuk menjadi pendengar. Juga Tora dan Bella yang terlihat sedang sibuk dengan urusannya melipat origami yang membentuk burung sambil tertawa cekikikan kecil sesekali. Di sampingku Bang Teddy duduk bersila, mengunyah gorengan dengan tenang, membiarkan bising lingkungan yang mengambil alih. Sedangkan Rissa menyandarkan kepalanya di bahu Ibu, sebuah gestur yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terlihat.
Aku sendiri sedang duduk merapat dan bersandar punggung dengan Mulan. Kuterima rasa hangat yang menjalar di punggung, membuatku merasa begitu nyaman hingga mataku perlahan terpejam dan ingin merebahkan badan. Keheningan yang memeluk kami di tengah riuhnya taman berpadu sempurna dengan tenteramnya sanubari.
Sembari menatap cakrawala dengan pandangan yang jauh, Bapak memutar-mutar botol teh di jemarinya. Usai satu tegukan, ia mengulurkan botol itu kepada istrinya, sebuah isyarat sederhana agar Ibu segera mengambilnya.
"Panca," suara Bapak memecah lamunan. "Ternyata kalau orang sudah lewat masa perang, hal paling sulit bukan memenangkan medali, tapi menahan diri buat nggak menertawakan kebodohan diri sendiri waktu dulu lagi tegang-tegangnya."
Tawa kami pecah seketika. Bang Teddy yang sedang mengunyah bakwan hampir tersedak, sementara Rissa mencubit lengan Ibu dengan gemas karena melihatnya meringis malu.
"Benar, Pak." Aku menimpali, mengulum senyuman. "Dulu kita akting seolah rumah itu markas intelijen negara, padahal isinya cuma orang-orang keras kepala yang lupa ngobrol dengan cara normal."
"Dan Ibu," Rissa menyahut dengan nada jenaka, "Ibu itu ibarat komandan perang yang lupa kalau musuhnya bukan orang luar, tapi anaknya sendiri yang cuma minta disayang."
Ibu mendelik, tapi tak lama kemudian ia justru menyodorkan gorengan ke arah Mulan. "Habiskan, Nak. Jangan sampai kamu jadi kurus gara-gara mengurusi Panca yang keras kepala ini."
"Mengalihkan topik pembicaraan, huuu…" kataku langsung pada detik berikutnya, sambil tidak terima dikatakan keras kepala.
Selepas tawa yang mencair, suasana lebur dalam keakraban. Di bawah naungan dahan yang rindang, kehangatan merayap lembut, mendekap erat dan merajut damai yang menenangkan. Kami segera melanjutkan dengan membuka bekal yang telah disiapkan dari rumah. Semua orang makan dengan tenang sambil mengoper-oper lauk bagi satu sama lain.
Saat yang lain sibuk dengan urusan itu, aku menggeser posisi dudukku lebih merapat di samping Mulan. Bisik-bisik menjadi jalan pintas untuk menyampaikan sesuatu yang sedang mendesak di kepalaku.
"Lan," bisikku pelan, memastikan hanya telinganya yang menangkap. "Aku sadar satu hal tentang Bapak dan Ibu. Ternyata… mereka berdua ada benarnya masing-masing, yang dulu aku anggap sikap untuk saling meniadakan."
Mulan mengangkat alisnya, memberi jalan lewat tatapan agar aku melanjutkan kalimatku.
"Bapak benar, kualitas pria itu nggak diukur dari nominal uang yang dipunya, tapi dari keberaniannya buat menolong orang dan menyelesaikan masalah tanpa ego yang meluap. Dan Ibu, dia juga benar. Tanpa ambisi dan ketegasan untuk memprioritaskan orang terdekat, kita cuma akan jadi orang baik yang habis dimakan keadaan."
Mulan menatapku dalam sebelum menyandarkan kepalanya di bahuku. "Dan Mas Panca akhirnya sampai di titik itu. Titik temu antara keberanian Bapak dan ambisi Ibu."
Aku tersenyum kecut, menyadari ironi yang baru saja menghantam kesadaranku dengan telak. Kutatap ujung sepatu putihku yang kotor karena tanah.
"Ini ironi yang gila, Lan," bisikku lagi, kali ini dengan nada yang hampir seperti pengakuan dosa. "Dulu aku benci banget melihat Ibu yang pelit bantuan dan sangat perhitungan. Aku bersumpah mau menjadi penolong seperti Bapak. Tapi kemudian? Aku juga malah jadi ambisius seperti Ibu. Aku mau punya pengaruh besar, punya posisi, dan punya jangkauan. Aku sadar nggak mau menjadi orang yang nggak berdaya seperti Bapak yang sering kali mengalah sampai lupa membela diri sendiri."
Kutelan udara berat-berat bersama getirnya sebuah kejut. Betapa dekat jurang pemisah antara angan yang kupupuk dalam kepala, dan kenyataan telanjang yang ternyata telah lama berbisik tepat di sampingku.