Sudut nursery ini selalu menjadi tempat favorit Satria menjelang senja.
Ia hampir tak pernah melewatkan sore di tempat ini. Tepat saat matahari mulai condong ke barat. Warna keemasan yang hangat menyusup di antara celah-celah jaring paranet hitam di atas kepalanya.
Angin sore berembus perlahan, menggerakkan daun-daun muda hingga terdengar suara gesekan yang lembut tapi menenangkan. Aroma tanah yang baru disiram menyeruak ke udara, bercampur harum khas daun dan batang tanaman yang seharian menyerap terik matahari.
Di tempat ini, di antara ribuan nyawa hijau yang tumbuh dalam senyap, waktu seolah berjalan jauh lebih lambat.
Satria memejamkan mata.
Suara-suara di sekelilingnya, perlahan, menyeret kembali ingatannya. Gemerisik dedaunan. Kicau burung-burung liar di luar jaring yang bersiap pulang ke sarang. Bunyi plastik polybag yang sesekali terdengar ketika ditiup angin.
Suara-suara itu sederhana.
Suara-suara yang semasa remaja, nyaris tak pernah sudi ia dengarkan. Suara yang dulu ia anggap kebisingan dari pekerjaan Bapak yang membosankan. Kini, justru menjadi suara yang paling ia rindukan di muka bumi.
Satria menarik napas panjang. Dadanya terasa sedikit sesak oleh desakan emosi yang sulit didefinisikan, tetapi di saat yang sama, ada kehangatan yang mengalir dalam darahnya. Seolah setiap hembusan angin sore itu membawa pulang potongan-potongan kenangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi dari dadanya.
Perlahan, Satria membuka mata.
Pandangannya jatuh pada lima bibit jeruk keprok yang tumbuh berjajar rapi di atas bangku kayu di hadapannya.
Batang bawahnya tampak kokoh menancap di tanah polybag. Sambungan entres pada setiap bibit telah menyatu begitu sempurna, rapi, dan mulus hingga nyaris tak lagi menyisakan bekas luka irisan.
Tunas-tunas muda berwarna hijau pupus tumbuh segar di ujung ranting, bergoyang pelan mengikuti irama angin yang tak putus-putus.
Satria mengulurkan tangan, mengusap salah satu daun mudanya dengan hati-hati. Sentuhannya begitu pelan dan penuh keraguan, seolah ia sedang menyentuh jemari bayi yang amat rapuh.
Padahal bibit itu sudah tumbuh kuat. Akarnya sudah mencengkeram tanah dengan mantap.
Tatapannya kemudian turun pada jam tangan analog bertali kulit cokelat yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam tua dengan kaca yang agak kusam dan sedikit tergores bagian tepinya.
Pak... jam ini sebenarnya bukan kesukaan Satria, tapi, matur nuwun ya, Pak.
Jemarinya beralih, menggenggam sebuah pisau okulasi berbilah tipis yang sejak tadi ia pegang.
Satria mungkin gak bakal pernah bisa kayak Bapak. Tapi... Satria cuma mau bisa dekat sama Bapak terus.
Ia mengusap gagang kayu pisau itu. Gagang yang mulai kusam dan licin karena telah bertahun-tahun menyerap keringat tangan pemilik lamanya. Sebuah senyum kecil muncul di sudut bibir Satria.