Suara burung pipit bersahutan riang di sela-sela jaring paranet yang bergoyang pelan diterpa angin senja.
Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memantul di permukaan daun-daun muda, membiaskan warna hijau keemasan yang membuat seluruh sudut nursery itu tampak jauh lebih hangat dari biasanya.
Satria menghentikan langkahnya tepat di depan deretan bibit kelapa hibrida. Tunas-tunas hijau yang kokoh itu kini telah tumbuh setinggi lututnya. Ia membungkuk sedikit, mengusap ujung salah satu daunnya yang meruncing menggunakan jempol. Permukaan daun itu masih basah dan dingin oleh sisa siraman air sore.
Lengkungan tipis terbit di bibir Satria.
Aroma tanah lembap yang bercampur harum khas dedaunan selalu berhasil melakukan sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang tak pernah sanggup dilakukan oleh hiruk-pikuk gemerlap Jakarta, meredakan rasa sesak dan ketegangan di kepalanya.
"Lumayan...," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Udah agak reda."
Ia terkekeh kecil, meratapi nasibnya sendiri.
Di Jakarta, di tengah tumpukan berkas dan tekanan deadline kantor, rasa penat biasanya berusaha ia obati dengan secangkir espresso pahit atau memaksa mata terpejam tidur beberapa jam.
Anehnya, setiap kali ia menginjakkan kaki dan pulang ke nursery ini, cukup dengan menghirup dalam-dalam aroma tanah basah seperti ini, beban di kepalanya perlahan meluruh dan terasa ringan.
Barangkali memang ada tempat yang tak pernah benar-benar berhenti menjadi rumah, sekalipun kita sudah berulang kali berusaha meninggalkannya.
Ia kembali melangkah, menyusuri lorong-lorong sempit di antara deretan bangku persemaian. Pandangannya tak pernah diam, mengamati tiap jengkal tanaman dengan ketelitian yang intuitif.
Sebilah daun alpukat yang mulai menguning terkena hama segera ia petik dengan tangkas. Sebuah polybag bibit jambu yang miring ditiup angin ia tegakkan kembali. Begitu melihat bibit trembesi yang condong ke samping, jemarinya refleks mengambil sekop kecil, menambahkan sedikit campuran tanah dan pupuk kandang agar batang muda itu berdiri lebih kokoh.
Entah sejak kapan, merapikan nursery menjadi kebiasaan refleks yang sulit ia hentikan. Ada kepuasan kecil yang menyeruak di dadanya setiap kali melihat sesuatu yang berantakan kembali rapi pada tempatnya.
Tangan Satria bekerja nyaris tanpa berpikir. Jemarinya seolah telah merekam dan menghafal semua gerakan merawat tanaman ini. Bahkan setelah sekian tahun, ia memilih melangkah jauh dan hidup sebagai pekerja kantoran di ibu kota.
Ia berjongkok, menyingkirkan runput liar dan gulma di sela-sela polybag, lalu membuangnya ke keranjang sampah kecil di samping jalan setapak.
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah depan, menepuk-nepuk permukaan tanah.
"Mas Satria!"
Satria menegakkan tubuh lalu menoleh.
Pak Dirman, salah satu pekerja senior di nursery, datang menghampiri dengan wajah panik sambil mengusap bulir keringat di pelipisnya menggunakan ujung kaosnya.
"Maaf, Mas... anu... ada pembeli di depan."
"Layani seperti biasa ta, Pak," jawab Satria santai.
"Nah... justru itu, Mas." Pak Dirman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah serba salah. "Londo, Mas."
Satria tak tahan untuk tidak terkekeh pelan melihat ekspresi panik pria paruh baya itu. "Oh gitu, ya saya lihat."
Satria berjalan mengiringi langkah Pak Dirman menuju area depan nursery.
Semakin dekat ke area parkir, suara percakapan dalam bahasa Inggris terdengar makin jelas. Sepasang pria dan wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan berdiri anggun di samping sebuah mobil SUV berwarna putih. Di tangan sang wanita, tergenggam beberapa lembar brosur nursery yang sudah sedikit kusut.
Begitu menyadari kehadiran Satria yang berjalan mendekat, pasangan ini segera menoleh.
"Good afternoon, Sir," sapa Satria ramah.
"Good afternoon. I'm glad you're here." Pria asing berambut putih itu tidak bisa menyembunyikan kelegaan hatinya dengan mengulurkan tangan. Ia menjabat tangan Satria erat.
"How can I help you?" balas Satria dengan artikulasi ramah dan fasih.
"Ah, thank goodness!" wanita itu bernapas lega.
"We're looking for some trees for a our home nearby, but we weren't quite sure what to choose."