Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #3

Tahapan 2

Sinar matahari pagi terpancar hangat dari ufuk timur, memeluk lembut segala yang bernyawa di sekitar nursery. Di bawah naungan paranet hitam, bibit-bibit pohon buah bergoyang pelan disapa angin pagi.

Titik-titik embun yang menggantung di ujung daun memantulkan kilau saat tertimpa cahaya mentari. Tak jauh dari sana, hamparan aneka jenis rumput di beberapa petak media tanam menguapkan aroma tanah basah dan kesegaran yang khas.

Sementara itu, bibit-bibit pohon kayu berdiri tegak dan kokoh bagai pasukan tentara mungil, meski tinggi batangnya baru beberapa inci. Di dalam greenhouse, ratusan pot dan polybag bibit mungil tertata rapi, seolah riang gembira menyambut kehangatan pagi yang baru terbit.

Di tengah kepungan ribuan nyawa hijau itu, berdiri sebuah rumah sederhana yang tampak bersahaja ditelan zaman.

Ruang tamunya sunyi. Hanya ada tiga kursi kayu dan sebuah meja tua tanpa taplak, tanpa hiasan apa pun di atasnya.

Di sudut ruangan, bersandar sebuah sapu ijuk tua. Sabut kelapanya terlihat makin tipis dan terurai, saksi bisu atas waktu yang demikian panjang yang telah dilaluinya untuk bekerja menepis debu.

Menyusup ke ruang tengah, tampak sebuah sofa berukuran tiga dudukan berwarna cokelat tua. Di bagian tepinya, garis-garis benang mulai terlepas, tak lagi sanggup menutupi busa sofa yang kusam.

Di atas bufet kecil dekat sana, terdapat kalender duduk bergambar logo bank desa setempat. Di dalam ceruk bufet, terpajang sebuah bingkai foto keluarga: Pak Husni, istrinya, dan Satria kecil yang tersenyum kaku.

Di rak bagian bawahnya, tumpukan album foto lama tersusun begitu rapi, tebal dan berat seperti buku-buku ensiklopedia tua.

Di dinding, tepat di samping bufet, menggantung sebuah jam bulat berwarna putih dengan angka-angka hitam. Jam dinding itu sudah mati. Jarum panjangnya terpaku di angka dua, sementara jarum pendeknya tersangkut di antara angka enam dan tujuh.

Akan tetapi, dari balik pintu kamar terdengar bunyi lain.

Tik tok tik tok.

Sebuah jam meja kecil berbingkai plastik di atas nakas berdetak teratur. Jarum panjangnya menunjuk angka lima, sedangkan jarum pendeknya berada di antara angka enam dan tujuh.

Seorang pria tua duduk terdiam di tepi tempat tidur.

Pria itu, Pak Husni, menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya yang berurat memegang erat tepi kasur. Kakinya beralas sandal berwarna cokelat yang sudah menipis. Bentuk kakinya yang makin kurus menampakkan sudut-sudut tulang yang cukup tajam di bawah kulitnya yang keriput.

Beberapa urat di sekitar pergelangan kakinya tampak sedikit membengkak.

Napasnya terdengar teratur, pelan, dan sedikit berat.

Sementara itu di luar, beberapa meter dari teras rumah, beberapa pekerja nursery tampak berkumpul. Mereka mendekat, membentuk lingkaran kecil dengan raut wajah penuh tanya.

"Wis jam piro iki, Rek? Lapo Bapak durung keliling muter?" tanya Dirman sambil melirik ke arah rumah.

"Ojo-ojo loro?" celetuk Ngatman polos.

"Heh! Ojok ngawur kon yen ngomong!" sentak Paijo.

"Lho, kan aku mung nduga, dudu ndonga!" bela Ngatman tak mau kalah.

"Kon ae kono seng ngetok pintu, celuk Bapak," suruh Paijo.

"Nek Bapak ijik istirahat piye?"

"Istirahat piye lho? Wis jam semene kok! Pasti Bapak wis tangi subuh!"

Ngatman menepuk jidatnya. "Eh, ojok-ojok Bapak tibo terus pingsan?"

"Halah! Malah makin ngawur omonganmu iku!" omel Dirman.

"Lho, iyo ta! Jenenge ae dugaan kok! Sopo ngerti Bapak tibo, pingsan, terus saiki gak iso metu?" Ngatman tetap ngotot.

"Yo nek pingsan jelas gak iso metu, Ogep! Pekok kok diopeni!" umpat Paijo gemas.

"Maksudku iku, makane di dalam rumah gak ono suarane, mergo Bapake pingsan!"

"Halah, wis-wis! Malah bikin ruwet kabeh! Ayo wis ditoktok ae pintune!" potong Dirman menengahi.

Tepat saat mereka hendak melangkah menuju teras, suara denting pesan masuk terdengar dari ponsel di saku Dirman.

"Eh, sek... sek," tahan Dirman sambil merogoh sakunya.

Layar ponselnya menyala, menampilkan pesan teks dari Bu Ratna, mantan istri Pak Husni, ibu dari Satria.

[Gimana Bapak hari ini, Man?]

Dirman dengan cepat mengetik balasan menggunakan jempolnya.

[Bapak hari ini durung muter, Bu. Tumben. Ini baru mau ditengok sama teman-teman.]

Tak sampai semenit, pesan balasan masuk lagi.

[Oh, gitu. Nanti saya dikabari lagi ya, Man.]

Lihat selengkapnya