Suara berdecit rem mobil memekik keras, membelah kebisingan jalanan Jakarta di pagi hari.
"Woo, jangkrik! Untung ae gak kena! Rem-e pakem ngene!" Satria mengumpat seraya menginjak tuas rem mobilnya dalam-dalam.
"Wong kok dalane ngawur ae!"
Satria, yang menyumbat telinga kirinya dengan earphone wireless, kembali berkata kesal.
Di luar kaca depan, seorang pria berjaket hijau khas ojek online menunduk-nunduk berulang kali dengan raut wajah memelas, mengisyaratkan permohonan maaf yang amat sangat. Pria itu baru saja memotong jalur seenaknya tepat di depan mobil Satria yang sedang melaju pada kecepatan 40 km/jam.
Pria ojol itu bergegas menepikan sepeda motornya, lalu berjalan cepat menghampiri kaca pintu pengemudi mobil Satria yang masih berhenti mendadak di tengah jalan.
"Maaf ya, Pak... Maaf banget, saya terburu-buru," ujarnya dari balik kaca dengan gestur menyatukan kedua telapak tangan.
Jangankan membuka jendela, menatap wajah pria itu pun Satria tidak sudi. Dengan muka masam, ia mengibaskan tangan kanannya keras-keras melalui kaca yang tertutup rapat, lalu memalingkan pandangannya ke depan.
Pria ojol itu terdiam sejenak, mengangguk pasrah tanda mengerti, lalu pelan-pelan mundur menjauh.
Satria langsung menekan pedal gas, melajukan mobilnya tanpa memedulikan lagi pria di luaran sana. Di tepi jalan, pengemudi ojol itu hanya bisa berdiri termangu, menatap bagian bodi samping sepeda motornya yang sempat tergores dan penyok akibat tersenggol moncong mobil Satria.
Pria itu menghela napas panjang, memandangi pantat mobil Satria yang makin menjauh di telan deretan kendaraan lain.
"Duh... mudah-mudahan mobilnya Bapak itu nggak rusak parah," gumamnya pelan.
Sementara itu di dalam kabin mobil yang hening dan ber-AC dingin, nada dering telepon berbunyi nyaring langsung di telinga kiri Satria melalui earphone.
Kring kring.
Ia menyentuh panel earphone-nya dengan ketukan jari. "Halo!"
"Sat! Udah sampai kantor?" suara seorang wanita paruh baya menyapa dari ujung sambungan.
Raut tegang di wajah Satria sedikit melunak, berganti helaan napas lelah. "Belum, Bu. Kenapa?"
"Kamu gak mau nelpon Bapak?"
Satria mengerutkan dahi. "Nanti aja, Bu."
"Kamu itu lho... udah lama banget gak nengok Bapak," tegur suara di seberang sana dengan nada menyindir halus.
"Kan memang pas sekitar lebaran aja, Bu," sahut Satria datar.
"Mbok ya kalo bisa sering-sering ke sana."
"Jakarta–Malang jaraknya lumayan, Bu."
"Naik pesawat kan cepat, Sat."
"Tapi kan dari bandara ke nursery-nya juga lumayan jauh, Bu."
"Kamu itu emang paling pinter kalau cari-cari alasan."
"Ya karena memang jauh, Bu," potong Satria, mempertahankan argumentasinya.
"Jauh atau kamu emang gak mau?"
Kata-kata Ibu mendarat bagai sentilan tepat di ulu hati Satria.
Bibirnya mengatup rapat sejenak sebelum akhirnya menyahut kaku, "Paling Bapak juga sibuk sama semua 'kesayangannya' di sana."
"Satria...!" tegur Ibu, suaranya meninggi.
"Bener, kan, Bu? Dari dulu Bapak lebih sayang mereka dibanding apa pun."
"Kamu ini kalau ngomong kok kayak mereka itu hidup aja!"
"Memang mereka hidup, Bu."
"Alah, udah... udah! Muter-muter aja kalau ngomong sama kamu," potong Ibu frustrasi, memutus argumentasi dingin putranya. "Ibu cuma mau kasih tahu... Bapakmu gak muter nursery pagi ini."
Ckiit!
Satria kembali menginjak tuas rem secara mendadak karena perhatiannya fokus hanya ke depan jalan dan kebiasaan Bapak muter nursery. Kali ini mobilnya berhenti tepat beberapa sentimeter di depan garis zebra cross
Hampir saja menerobos lampu lalu lintas.
Satria sedikit menundukkan kepala, memberi isyarat maaf yang canggung dari balik kaca, lalu kembali menekan gas perlahan. Tangannya menggenggam lingkar setir begitu erat hingga ruas-ruas jarinya memutih.