Brak!
"Kalian ini gimana kerjanya?!"
Satria menghempaskan tumpukan berkas dokumen ke atas meja kerjanya hingga menimbulkan dentum keras yang bergema di seluruh ruangan.
Dua pria dan seorang wanita paruh baya di hadapannya seketika menunduk dalam-dalam. Alex, Bima, dan Wulan,tiga junior di tim auditnya,berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.
"Sudah dikasih waktu tambahan seminggu, masih juga ada berkas yang kurang! Kalau fatal begini, biaya pemeriksaan lapangan pasti membengkak!" Satria menatap lekat-lekat ketiga bawahannya itu dengan pandangan dingin mematikan.
"Alex! Kamu team leader-nya. Apa alasan kamu? Kurang orang? Kurang waktu? Atau kurang fokus?!" Satria mencecar pria bertinggi 170 cm lebih itu dengan kata-kata menusuk.
Di kamus kerja Satria, istilah 'kurang fokus' punya satu makna terselubung yang mengerikan: disuap oleh klien. Dan siapa pun yang ketahuan kurang fokus di bawah pengawasannya, dipastikan akan ditendang keluar kantor secara tidak hormat.
Alex menelan ludah yang terasa sesak di tenggorokannya. "Ku-kurang koordinasi, Pak..." jawabnya terbata-bata.
"Koordinasi?" Satria melepaskan tawa mengejek yang terdengar sumbang. Sekejap, ekspresi wajahnya menggelap. "Kamu sudah berapa lama kerja di kantor ini sampai bisa pakai alasan 'kurang koordinasi'?"
Hari ini bener-bener hari keberuntunganmu, Lex, batin Alex meratapi nasibnya.
Satria meluapkan amarahnya dalam posisi duduk. Pikiran yang sudah keruh dan tercemar sejak panggilan telepon Ibunya pagi tadi membuat emosinya membumbung tinggi hingga hampir tak bisa berpikir jernih. Tarikan napas berat dan napas terengah-engah terdengar berulang kali dari balik mejanya.
Kring Kring.
Telepon kabel di meja Satria berdering pendek. Ia menyambar gagangnya.
"Sat, ke ruangan gue sekarang."
Klik.
Satria memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan kepalanya yang nyut-nyutan. Adrian, Asisten Direktur sekaligus sahabat karibnya, pasti sudah mendengar kekacauan laporan audit ini.
Ia meletakkan gagang telepon kembali ke gagangnya, lalu menatap tiga bawahannya dengan raut dingin. "Kalian... boleh keluar."
Dengan rasa takut dan ragu-ragu, ketiga junior itu saling sikut, berbisik menunjuk siapa yang harus melangkah keluar lebih dulu.
"Sekarang!" gertak Satria.
Ketiganya melompat mundur selangkah. Wulan bahkan refleks memegangi dadanya, memegangi jantungnya yang serasa mau melorot ke perut.
"Ba-baik, Pak..."
"Iya, Pak..."
"Mari, Pak..."
Mereka bergegas keluar merayap meninggalkan ruangan Satria yang pengap, meski suhu AC central ruangan itu sudah diatur 6 derajat lebih dingin daripada suhu udara di luar gedung.
Setelah mencoba menenangkan gejolak di dadanya, Satria melangkah pasti menuju ruangan Asisten Direktur di ujung lorong.
"Sat, duduk," sapa Adrian begitu Satria mendorong pintu kaca.
Kemampuan Satria membaca situasi di ruangan pimpinannya teruji. Ia sempat melirik dokumen di jemari Adrian, tetapi berkas itu dengan cepat ditutup rapat oleh sahabatnya. Adrian lalu bangkit dari kursi kerjanya dan menggeletakkan tubuhnya di sofa tamu.
Satria menyusul duduk di sofa berhadapan dengannya.
"Sat, gue mau minta tolong?" bisik Adrian tiba-tiba.
Kewaspadaan Satria seketika menurun. Adrian hampir tidak pernah membicarakan urusan pekerjaan jika mereka sudah duduk berhadapan di sofa. Bahkan gaya bahasanya langsung berubah formalitasnya dari 'Pak' menjadi 'gue-elo'.
"Minta tolong apa?"
"Jemput adek gue di bandara." Adrian mengerutkan alisnya dengan wajah masam.
Satria menyandarkan punggungnya. "Udah lama banget gak ketemu Dalia."
"Yaelah, tinggal lo liat akun Instagram-nya aja."
Satria merogoh ponselnya dari saku, mengusap layarnya beberapa kali mencari akun adik sahabatnya itu. Namun baru beberapa detik meneliti lini masa postingan Dalia, Satria mendadak tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk-batuk.