Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #7

Tahapan 6

Meski hanya mengunjungi tempat ini setahun sekali, Satria masih mengingat betul setiap sudut jalan yang dilaluinya.

Mungkin karena tempat ini adalah saksi bisu tumbuh kembangnya sejak kecil. Ia baru meninggalkan tanah Malang sekitar 15 tahun lalu, tepat ketika Bapak akhirnya mengizinkannya merantau untuk kuliah di Jakarta.

Mobil sewaan yang dikendarai Satria berhenti tepat di depan gerbang kayu sentra pembibitan nursery.

Beberapa saat ia hanya terdiam di dalam kabin dingin, menatap jauh menelisik ke arah lorong-lorong paranet sambil mengetuk-ngetuk lingkar setir. Pikiran Satria kecamuk. Ia masih menimbang-nimbang, kata-kata apa yang harus diucapkannya saat berhadapan dengan Bapak nanti.

Nggak mungkin kalau aku bilang Ibu telpon aku panik karena khawatir sama kondisi Bapak. Nggak mungkin juga aku jujur kalau aku dijebak Adrian biar terdampar di sini.

Saat Satria masih bergelut dengan keraguannya, suara klakson nyaring memecah keheningan sore dari arah belakang.

Bip bip!

Satria tersadar dan segera memajukan posisi mobil city car yang disewanya tadi. Sebuah mobil pick-up yang dikemudikan Dirman meluncur masuk ke halaman nursery, disusul satu mobil pick-up lagi di belakangnya yang dikendarai Ngatman. Satria akhirnya memutuskan untuk keluar.

Aroma khas tanah basah bercampur embun sore menusuk indra penciumannya begitu pintu mobil terbuka. Seketika, potongan memori masa kecilnya yang berlari-lari di antara polybag tanaman mendadak bangkit.

Untuk sesaat, Satria memejamkan mata. Udara segar lereng gunung yang memenuhi paru-parunya seolah menyeretnya paksa ke masa lalu. Masa yang dulunya selalu membuat ia terkagum-kagum pada sosok sang ayah.

Begitu Dirman turun dari pintu kemudi pick-up, Satria menyapa halus dengan menganggukkan kepalanya. "Permisi, Mas."

Ia melangkah mendekat. Ironis memang; ia adalah anak tunggal dari pemilik nursery ini, namun langkah kakinya ragu-ragu bagai seorang asing yang hendak bertamu.

Dirman menoleh seraya mengusap keringat di dahinya. "Mari, Mas... Lho, eh? Mas Satria?!"

"Iya, Pak Dirman," Satria tersenyum tipis.

"Naewed, Mas?" spontan Dirman bertanya dengan akrab, menggunakan kata Boso Walikan Malang.

Satria tertawa kecil, kekakuannya sedikit mencair. "Iyo, Pak."

Sudah sekian lama ia tidak mendengar atau mengucapkan boso walikan khas Malang seperti ini.

"Okes Ayabrus ta, Mas?" lanjut Dirman.

Satria menggeleng pelan. "Okes Akitraj."

Dijebak sahabat sendiri dari Jakarta, Pak, batin Satria ironis.

"Oh, saking Jakarta," gumam Dirman mengerti.

"Eh, Man! Masukno dhisik iku mobilmu! Ayo masuk, Mas!" teriak Paijo yang menyembulkan kepala dari jendela pick-up belakang, menyadarkan Dirman yang malah keasyikan mengobrol di gerbang masuk.

"Ehh, ilal!" cetus Dirman menepuk jidatnya sendiri.

Kendaran Paijo memang terhalang oleh posisi Satria dan Dirman yang berdiri di jalur masuk.

"Iyo, Mas. Monggo dipun parkir teng njero," ujar Dirman sopan.

Satria mengangguk, lalu kembali memasuki mobil untuk memarkirkannya di halaman dalam nursery. Dirman dengan sigap mengomandani posisi parkir Satria, sementara Ngatman dan Paijo yang baru turun dari mobil saling berbisik heran.

"Mas Satria ta iku, Jo?"

"Iyo, putrane Bapak."

"Ndak biasanya ya? Kan biasane yen mudik ri royo ta?"

"Lha anake Bapak ki bebas ta, Man. Piye sih kon iki!"

"Iyo yo..."

Lihat selengkapnya