Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #8

Tahapan 7

Pandangan Pak Husni menerawang jauh menembus paranet saung. Secara tidak sadar, bibirnya bergumam pelan, hampir tak terdengar, "Satria... pulang?"

Dirman yang memperhatikan perubahan raut wajah Pak Husni. Sebelumnya terlihat tegas mendadak diliputi rasa baur antara kaget dan haru. Seolah ingin pertanyaan penuh harap itu segera terjawab.

"Nggih, Pak. Mas Satria wonten teng ngajeng. Paling saweneh muter-muter dhisik."

Paijo dan Ngatman yang berdiri di samping Dirman saling berpandangan, lalu memberi kode mata satu sama lain.

"Kula timbalaken Mas Satria-ne nggih, Pak?" ujar Ngatman halus. Tanpa menunggu jawaban dari Pak Husni, Ngatman dan Paijo segera undur diri, berjalan cepat menghampiri Satria.

Dirman yang tanggap segera menawarkan Pak Husni untuk berpindah tempat. "Pindah lenggah teng njero omah mawon, Pak?"

Pak Husni mengangguk pelan. "Iya, Man..."

Pikirannya masih terpaku pada kehadiran anak semata mayangnya itu. Anak lelaki yang kini berusia lebih dari 30 tahun itu biasanya hanya sudi menemuinya setahun sekali saat Lebaran. Itu pun mustahil terjadi jika mantan istrinya tidak membujuk atau memaksanya.

Di sisi lain area nursery,

Ngatman dan Paijo berjalan perlahan menghampiri Satria yang tampak sedang berjongkok di depan deretan polybag bibit pohon jambu air.

"Mas Satria?" panggil Ngatman sopan.

Tangan Satria refleks ditarik bersembunyi. Jemarinya yang tadi hampir saja memetik selembar daun jambu air yang siap gugur diterpa angin mendadak kaku.

"Eh... iya, Pak?" Satria menoleh, mencoba bersikap biasa.

"Monggo mlebu teng dalam rumah, Mas. Sampun ditenggani Bapak," kata Paijo seraya tersenyum ramah.

"Oh, iya." Satria segera berdiri, menepuk-nepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan sisa tanah basah.

Ngapain juga aku repot-repot peduli sama daun jambu air ini, batin Satria mencibir dirinya sendiri. Ditiup angin juga rontok sendiri.

Dengan langkah hati-hati, Satria berjalan mengikut langkah Paijo dan Ngatman dari belakang. Bukan karena ia tidak hafal denah rumah tempat tinggalnya dulu, melainkan karena degup jantungnya bertabuh begitu keras memukul rongga dada.

Harus jawab apa nanti kalau Bapak nanya macam-macam?Ah, gampang lah... lihat situasi nanti.

Pak Husni sudah duduk di kursi kayu ruang tamu. Tak lama, Dirman datang membawa cangkir seng bermotif burik warna hijau, cangkir teh kesayangan Bapak.

Paijo dan Ngatman yang tiba lebih dulu di depan pintu menoleh ke belakang. "Monggo, Mas Satria..."

Satria melangkah canggung melewati dua pekerja senior ayahnya yang sudah mengabdi di nursery ini lebih dari sepuluh tahun.

Dari arah dalam rumah, Bu Siti, asisten rumah tangga yang biasa membersihkan rumah, keluar hendak pamit pulang.

"Pak Husni, kula pamit wangsul rumiyin nggih," pamit Bu Siti.

"Iya, Ti. Ati-ati nang dalan," sahut Pak Husni mengangguk pelan.

Bu Siti dan Satria berpapasan tepat di ambang pintu teras.

"Walah, Mas Satria?! Pripun kabare, Mas?" sapa Bu Siti pangling, wajahnya berseri-seri.

"Baik, Bu Siti," senyum basa-basi terukir kaku di wajah Satria. Ia sedang sibuk menata detak jantungnya yang berkhianat. Pasalnya, sedetik sebelum berpapasan, kakinya sempat tersandung ambang pintu kayu saat melepas sepatu karena terlalu tegang.

"Nyuwun pangapunten nggih, Mas. Anak kula sampun nunggoni teng ngajeng. Kula pamit rumiyin, Mas," ujar Bu Siti penuh santun.

"Nggih, Bu Siti. Monggo, hati-hati."

Lihat selengkapnya