Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #9

Tahapan 8

Langkah kaki Satria terhenti di antara deretan vegetasi pembibitan buah anggur.

Aroma tanah basah yang berpadu dengan kebersihan area nursery ini adalah sudut favorit Satria sejak dulu. Di sudut lain, tampak Paijo sibuk menyirami bibit dengan selang, sementara Ngatman mengayunkan sapu lidi membersihkan dedaunan gugur di ujung lorong.

Satria hanya mematung. Ia menarik dan menghembuskan napas bergantian secara perlahan, menikmati aroma yang sudah mengendap di alam bawah sadarnya sejak kecil.

Ia sengaja tak memejamkan mata. Satria tahu betul, sebentar lagi pemandangan di sudut ini akan berubah menjadi jauh lebih memukau. Saat sinar matahari mulai condong dari ufuk barat, kilau keemasannya yang menembus sela-sela daun anggur selalu menjadi pertunjukan alam terbaik.

Mungkin sebaiknya aku langsung pamit aja. Lihat senja... bisa lain kali, batinnya menimbang.

Namun baru saja Satria bergerak hendak memutari nursery, kilau matahari sore mendadak membias sempurna. Pemandangan itu mendadak melempar ingatan Satria pada memori belasan tahun silam.

Satria kecil kala itu berdiri diapit oleh Bapak dan Ibu.

"Nanti kita tanam pohon alpukat di sebelah sini, pohon jeruk di sebelah sana," tunjuk Satria kecil ke arah hamparan tanah merah yang masih kosong melompong.

"Pohon buah semua?" tanya Ibu lembut seraya merapikan rambut anak semata majangnya.

Satria kecil mendongak. "Ibu mau pohon apa?"

Ibu tersenyum tipis. Pandangannya tidak tertuju pada tanah di depan mereka, melainkan menatap jauh ke arah ufuk barat. "Pohon yang bisa bikin halaman ini nyaman dilihat..."

Bapak mengangguk pelan seraya menepuk bahu Satria. "Pohon ketapang atau trembesi juga bagus."

"Bapak kan bisa tanam semuanya!" timpal Satria kecil polos.

"Iya, iya... nanti Bapak tanam semuanya," kekeh Bapak.

"Satria yang bantu ya!"

"Iya..." Ibu mengusap lembut kepala Satria kecil.

Satria mengusap wajahnya kasar. Kenapa sih kalau ke sini harus selalu ingat kejadian itu? Kenapa gak dilupain aja? Gak ada gunanya juga... Aku gak mau ingatan ini terus bayang-bayangi aku.

Satria memejamkan mata rapat-rapat, menghirup dalam-dalam udara sejuk lereng gunung yang bercampur aroma tanah basah dari berbagai jenis vegetasi. Bagi Satria, setiap jenis tanaman di sini memiliki aroma khas yang berbeda. Dan inilah sudut yang paling ia cintai.

Meski harga yang harus dibayar untuk menikmati sudut ini adalah terus teringat pada potongan kenangan masa lalu yang menyakitkan, Satria tak bisa memungkiri bahwa ia merindukan tempat ini.

Dari ujung lorong, Ngatman menghampiri seraya menyangkutkan sapu lidi di bahunya. "Mas Satria, kula kalih Paijo sampun rampung beberes. Pamit wangsul rumiyin nggih, Mas."

Satria refleks membuka mata dan menoleh. "Oh... nggih, Pak Ngatman, Pak Paijo. Hati-hati di jalan."

Paijo dan Ngatman tersenyum ramah, melangkah keluar meninggalkan area nursery menuju rumah mereka masing-masing.

Pamit sekalian aja lah. Toh udah tahu kondisi Bapak sehat-sehat aja, bisik Satria dalam hati.

Ia memutar langkah dari lorong bibit anggur menuju saung depan tempat tinggal ayahnya. Namun begitu sampai di teras depan, langkah Satria mendadak terhenti kaku.

Melalui pintu ruang tamu yang terbuka, ia melihat Bapaknya sedang dipapah dengan susah payah oleh Dirman dari kursi tamu menuju kamar. Kaki Bapak tampak diseret pelan, wajahnya meringis menahan sakit.

Kenapa Bapak dipapah?!Bapak sakit apa sebenarnya?!

Dengan gerakan cepat dan impulsif, Satria melangkah masuk ke dalam rumah.

"Bapak kenapa?!" seru Satria refleks dengan suara lumayan lantang.

Lihat selengkapnya