Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #10

Tahapan 9

Satria berniat langsung tidur begitu sampai di kamar hotel. Namun, setelah satu jam mencoba memejamkan mata, kantuknya mendadak menguap. Suasana malam yang makin larut justru membuat kepalanya makin ramai.

Opo aku gak iso turu mergo mikirno Bapak, ya? batinnya meragu.

Gak mungkin. Bapak wis biasa dewekan. Gak ana aku ya kabeh apik ae.Lagian, kalau aku nekat tidur di rumah tadi, mungkin malah gak bakal bisa merem sama sekali.

Satria mengubah posisi tidurnya miring ke kanan, lalu miring ke kiri. Namun rasa gelisah itu bukannya sirna, malah makin merayap di dadanya.

Tadi itu... kertas apa ya isinya?Apa beneran hasil check-up dokter?Gimana hasilnya, ya?

"Ck! Ngelamun opo sih aku iki? Wis ta, turu maneh!" gumamnya kesal pada diri sendiri.

Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Turu, Sat. Turu..."

Baru saja keheningan menyelimuti, ponsel di atas meja nakas mendadak berdering nyaring.

Layar ponsel menyala terang menampilkan nama: Ibu. Satria menghela napas panjang, agak lambat meraih benda persegi itu.

"Halo...?" sahut Satria dengan mata masih terpejam rapat.

"Sat! Kamu wis sampe Malang, ta?" suara Ibu terdengar nyaring dari seberang saluran.

"Sampun, Bu," sahut Satria malas-malasan.

"Syukurlah, lega Ibu dengarnya. Piye di jalan tadi?"

"Lancar. Ibu kok dereng sare?"

"Lha di sini ya masih siang dong, Sat!" sahut Ibunya terkekeh. Terdengar samar-samar riuh suara beberapa wanita lain di belakang saluran telepon Ibu.

Mata Satria seketika terbuka lebar. Oh iya, lupa kalau beda zona waktu!

"Nggih... siapa tahu Ibu tidur siang," jawabnya asal.

"Pengennya gitu, tapi gak bisa iki... malah diajak teman-teman nyobain masakan Padang yang baru buka. Katanya punya artis."

"Di sana masakan Padang beda ta rasanya sama di Indonesia?"

"Ya padha ae. Koyok di Indonesia, ada yang bumbunya medok, ada yang lebih ringan soale ngikutin selera pasar sini. Gitu-gitu aja. Padha ae."

"Oh..." Satria manggut-manggut kaku.

"Terus... Bapakmu piye? Sehat?" tanya Ibu mendadak melunakkan suaranya.

Satria melempar pandangannya ke langit-langit kamar hotel. "Kenapa Ibu gak telfon Bapak langsung wae?"

"Ibu kan lagi telpon kamu!" sergah Ibu cepat.

Alasan, cibir Satria dalam hati. "Bapak sehat kok."

"Terus kenapa ora muter nursery?"

"Asam urat ae."

"Hah?! Asam urat? Berapa?!" nada suara Ibu mendadak memekik panik.

"Apanya yang berapa?"

"Nilai asam uratnya Bapakmu iku berapa?!"

"Ya mana Satria tahu, Bu..."

"Kok gak ditanya ta, Sat?! Kamu iki piye sih!"

"Kenapa harus tanya?"

"Ah, kamu ini! Ditanya ta berapa nilai asam uratnya! Kalo di atas 7 iku wis parah! Harus ada makanan yang dikurangi!" cerocos Ibunya tanpa jeda.

Satria menghela napas panjang. "Ibu wae sing telpon Bapak. Takon langsung, terus kasih saran. Beres kan?"

"Kamu ini karo wong tuwo kok gitu!"

Lihat selengkapnya