Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #13

Tahapan 12

Mobil sewaan Satria akhirnya memasuki gerbang kawasan nursery. Begitu mesin dimatikan, ia bergegas turun membawa bungkusan makanan ringan khas kota yang sengaja dibelinya.

Pintu rumah utama yang tertutup rapat tak melunturkan senyum kegembiraan di wajahnya.

Tok tok tok.

"Assalamu'alaikum, Pak!" panggil Satria hangat.

Keheningan menyambut. Tak ada sahutan dari dalam.

"Pak?" Satria mengetuk lebih keras.

Ia mencoba mengintip lewat celah jendela kaca. Namun, kain vitrase gorden putih yang tebal menghalangi pandangannya. Tak kehabisan akal, Satria melangkah memutar menyusuri halaman samping menuju pintu belakang.

Beberapa kali ia mengetuk pintu dapur. Tetap nihil. Suasana rumah benar-benar sepi.

Dengan kening berkerut bingung, Satria kembali ke area perkebunan untuk mencari keberadaan para pekerja. Langkah kakinya dipercepat, dadanya berdegup seolah sedang dikejar waktu.

Namun saat melintasi lorong-lorong tanaman, tak ada satu pun wajah familiar yang biasa ia ajak bicara. Beberapa pekerja lepas yang bersimpangan dengannya adalah orang-orang baru yang tak ia kenal. Satria merasa terlempar ke sebuah dunia asing yang terisolasi.

Ia memutari seluruh sudut nursery. Mulai dari deretan pembibitan jeruk, alpukat, hingga sudut favoritnya di lorong bibit anggur. Bapak tetap tidak ada di mana pun.

Satria terus berlari kecil mengelilingi area nursery yang luas itu, mungkin lebih dari lima kali putaran, hingga napasnya tersengal-sengal dan kakinya terasa lemas.

Akhirnya, dengan langkah gontai dan dada sesak, Satria kembali ke mobilnya. Ia bersandar pasrah di balik kemudi. Tidak mungkin ia langsung kembali ke Jakarta dengan perasaan mengambang seperti ini, tapi tempat mana lagi yang bisa ia tuju di kota ini?

Wong-wong pada nang ngendi sih...? batinnya lelah.

Setelah hampir seperempat jam Satria termangu melamun di dalam kabin, deru mesin mobil pick-up tua terdengar memasuki area parkiran. Satria tersentak kaget dan langsung menajamkan pandangan.

"Alhamdulillah, rampung!" berseloroh Dirman nyaring saat menginjak pedal rem.

"Yo nek dudu kita sing sergep mau, mesti suwe rampunge, Man!" timpal Ngatman seraya meloncat turun dari bak belakang.

"Iyo, iyo! Sampean-sampean pancen de best!" puji Dirman tertawa.

Paijo mengibaskan tangannya, memberi kode uang menggunakan ibu jari dan telunjuknya yang digerak-gerakan. "Ah, mung de best thok! Ininya mana? Mana? Wis ngelak ra diparingi wedang, Ker!"

"Eh! Tenang, wedang opo wae tuku no, Ker!" sahut Dirman jumawa seraya memamerkan dua lembar uang lima puluh ribuan dari saku kemejanya.

Dirman sempat menggoda dua rekannya sebelum akhirnya menyerahkan uang tersebut.

Lihat selengkapnya