Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #14

Tahapan 13

Mobil sewaan Satria melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan perbukitan Nongkojajar.

Jalanan berliku yang menanjak perlahan dikepung rimbunnya perkebunan dan tebing-tebing hijau. Kabut tipis mulai turun dari lereng gunung, menyusup di antara pepohonan dan rumah-rumah warga.

Tangan Satria beberapa kali meremas lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia menarik napas panjang. Mengembuskannya perlahan. Namun rasa sesak di dadanya tidak ikut pergi.

Di atas dasbor, selembar kertas lusuh berisi petunjuk jalan dengan coretan tangan Pak Dirman bergoyang pelan diterpa hembusan AC.

Satria beberapa kali meliriknya.

Ia sebenarnya bisa memasukkan alamat itu ke dalam ponsel. Namun entah kenapa, ia memilih mengikuti tulisan tangan Pak Dirman.

Tulisan itu sederhana.

Nama dusun.

Beberapa patokan.

Sebuah tanda silang di ujung jalan.

Aneh rasanya.

Seolah perjalanan ini bukan sekadar mencari sebuah rumah.

Seolah ia sedang mengikuti jejak sesuatu yang sengaja ia tinggalkan belasan tahun lalu.

Satria memperlambat mobil ketika jalan mulai menyempit. Pemandangan di luar kaca perlahan berubah.

Pohon apel. Jeruk. Kebun sayur. Rumah-rumah tua dengan halaman luas. Semua terasa asing sekaligus akrab.

Ingatan lama mulai bermunculan satu per satu.

Terakhir kali Satria menginjakkan kaki di tanah ini, usianya sekitar sepuluh tahun.

Dua tahun sebelumnya, perceraian kedua orang tuanya membuat kehidupan keluarganya berubah. Satria kecil akhirnya diboyong Ibu untuk tinggal di pusat kota. Sejak saat itu, ia semakin jarang datang ke NoNongkojajar.

Setelah kejadian itu, Satria benar-benar menolak setiap kali diajak datang lagi.

Ia masih ingat rumah tua ini. Masih ingat kebunnya. Bahkan masih ingat bau dapurnya.

Tetapi ada satu bagian yang selalu ia hindari. Kenapa dulu ia tidak mau kembali?

Jawabannya datang bersama bayangan Kakek.

Lelaki tua itu hampir menghabiskan seluruh waktunya di kebun apel dan jeruk. Kaos lusuh yang dilapisi kemeja kotak-kotak kusam. Celana kain tebal yang sering terkena tanah. Kedua tangan yang tidak pernah benar-benar diam.

Bapak juga sering ikut membantunya. Satria kecil masih ingat gerakan Bapak saat itu.

Cepat. Terampil. Dan berbeda.

Wajah Bapak terlihat jauh lebih ringan ketika berada di kebun. Bahkan senyumnya lebih lepas.

Satria kecil tidak mengerti mengapa.

Yang ia tahu, Bapak yang selama ini terlihat sibuk dan kaku di rumah mendadak menjadi orang yang berbeda ketika berada di antara pohon-pohon.

Lihat selengkapnya